Latar Belakang
Paruh akhir tahun 1970-an pesawat F-86 Avon Sabre dari Skadron Udara 14, Lanud Iswahyudi perlu untuk dicarikan penggantinya karena pesawat itu sudah tua dan diproduksi pada tahun 1950-an. Dari kajian yang dilakukan, terpilihlah penggantinya pesawat F-5E Tiger II dan proses pengadaannya dilaksanakan mulai tahun 1978 dengan nama Operasi Komodo. Operasi ini merencanakan tentang pengadaan pesawat, pendidikan penerbang dan teknisi, serta pembangunan fasilitas prasarana dan sarana pendukung operasional pesawat ini. Hal itu antara lain, perpanjangan landasan pacu sepanjang 500 meter, pembangunan runway crash barrier, pembentukan drainage, shoulder, overrun, overlay, runway making, pembangunan dan rehabilitasi hanggar, perbaikan tower, pembangunan engine test cell, power check area, swing compas area, arming/dearming area, pembangunan lox plant termasuk pemasangan lampu landasan, lampu tower, approach light, pembangunan perumahan, penambahan listrik dan peningkatan kelengkapan alat navigasi udara, di mana itu semua belum ada. Dengan adanya operasi ini, maka TNI AU kembali memasuki era pesawat-pesawat tempur supersonik dan dengan sistem senjata yang memadai seperti radar, mampu membawa rudal AIM-9 Sidewinder, yang setara dengan era MiG-21 yang disegani pada tahun 1960-an. Dan juga karena pesawat-pesawat F-86 Sabre itu tidak dilengkapi dengan persenjataan yang mumpuni.
Pendidikan Kru Macan
Sesuai dengan kontrak, mulai dikirimkan para perwira teknik dan penerbang ke Amerika Serikat untuk belajar mengenai teknik pesawat dan pendidikan konversi di F-5 bertempat di Skadron 225th Tactical Fighter Training mempergunakan pesawat F-5 B dan F-5 E/F. Tercatat penerbangan yang diberangkatkan adalah:
Awalnya penerbang ketiga yang akan dikirimkan adalah Kapten Pnb Lambert F. Silooy, tetapi dibatalkan karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan.
Pendidikan disana dimulai dari 27 Januari 1980 dengan empat macam silabus, di mana setiap silabus terdiri atas tiga tahap. Empat silabus itu adalah :
- Silabus A dan B, diperuntukkan bagi penerbang yang baru lulus sekolah penerbang
- Silabus C dan D, untuk para penerbang tempur yang berpengalaman
Sedangkan tiga tahap itu adalah:
- Tahap Transisi
- Tahap Penguasaan Pertempuran Udara
- Tahap Penyerangan Sasaran Darat
Ketiga penerbang tempur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara menempuh silabus D dengan rincian:
- Transisi : 12 jam/30 hari
- Pertempuran Udara : 20,7 jam/44 hari
- Serangan Darat : 5,5 jam/1 hari
Dan dengan total 39,2 jam/85 hari. Tahap transisi terbagi atas enam kali terbang pengenalan, dua kali terbang instrumen dan tiga kali terbang formasi. Tahap Pertempuran Udara ditempuh dengan tiga kali terbang taktik formasi diteruskan dengan lima kali terbang dasar pertempuran udara (Basic Fighter Manouvre). Dan kemudian dilanjutkan dengan lima kali terbang Air Combat Manouvre dan lima kali terbang Air Combat Tactic, dan latihan penembakan darat. Di bagian akhir mereka menjalani pendidikan penembakan udara-ke-udara dan penembakan udara-ke-darat.
Sehabis menamatkan pendidikan di jalur D, mereka melaksanakan kursus instruktur F-5 selama sepuluh kali penerbangan. Dalam modul ini, mereka belajar untuk mendarat dan memberikan instruksi dari kokpit belakang. Selain itu juga satu kali penerbangan dengan pesawat F-5 E serta belajar sebagai chaser, pesawat pendamping yang bertugas mengawal pesawat lain yang sedang ada masalah atau mendampingi pesawat yang sedang dikemudikan oleh penerbang baru. Akhirnya semua pendidikan terselesaikan dan akhir Mei 1980 mereka kembali ke tanah air dan siap untuk menjadi instruktur dan penerbang tempur F-5 E/F Tiger II.
Pencetakan penerbang tempur F-5 E/F Tiger II di Skadron Udara 14 dilakukan dengan dua moda, moda konversi, yaitu para mantan penerbang tempur pesawat F-86 Sabre yang ditunjuk dan moda transisi, yaitu para penerbang tempur yang berasal dari Sekolah Penerbang TNI AU. Mereka yang berhasil lulus kemudian diberikan sebutan sebagai Eagle. Para penerbang itu juga menempuh pendidikan lanjutan di Fighter Weapon Instructur Course (FWIC) di Amerika Serikat, yaitu sekolah khusus untuk tingkat lanjut bagi para penerbang tempur milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), semacam sekolah Top Gunnya AL AS. Pada pendidikan ini dipelajari teori dan praktik pertempuran udara secara detail di mana mereka harus mampu menguasai manajemen pertempuran udara. Berikut penerbang yang pernah menempuh pendidikan ini:
Kedatangan Macan
Gelombang Pertama kedatangannya terjadi pada 21 April 1980, dibawa oleh pesawat raksasa Lockheed C-5 Galaxy milik Military Airlift Command USAF yang membawa delapan unit dari enam belas pesawat yang dibeli dan mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun dengan disaksikan KASAU saat itu, Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi. Proses perakitan dilakukan oleh para teknisi TNI AU bersama para teknisi dari pabrik sehingga pada 28 April 1980 pukul 14;35 WIB, sebuah pesawat F-5 F, TL-0514, berhasil melaksanakan uji terbang diawaki oleh Kapten Bill Edward dan Kapten Tom Danilson, pesawat ini adalah bertempat duduk ganda. Pesawat F-5 E yang pertama diberi nomor registrasi TS-0501 dan pesawat selanjutnya menyesuaikan. Pada 5 Mei 1980 penggunaan pesawat F-5 E/F Tiger II diresmikan oleh Menhankam/Pangab kala itu, Jendral TNI M. Jusuf sebagai pesawat buru sergap menggantikan F-86 Sabre dengan terbitnya Surat Keputusan KASAU Nomor Skep/21/V/1980 tertanggal 3 Mei 1980. Pada 5 Juli 1980 datanglah pesawat Lockheed C-5 Galaxy sebagai gelombang kedua membawa delapan pesawat sisanya sehingga melengkapi satu skadron, sebanyak 16 pesawat.