Eleanor Glanville (1654–1709) adalah seorang entomolog dan naturalis Inggris yang dikenal atas penelitiannya tentang kupu-kupu. Ia mewarisi properti keluarganya di Somersetshire, menikah dua kali, dan memiliki tujuh anak.
Setelah berpisah dari suami keduanya pada akhir 1690-an, ia menekuni kembali minatnya dalam mengoleksi kupu-kupu. Eleanor berkontribusi dalam katalog serangga Inggris Gazophylacium naturae et artis dan menemukan Glanville fritillary, satu-satunya kupu-kupu asli Inggris yang dinamai dari seorang naturalis Inggris. Tiga spesimen serangganya masih tersimpan di Natural History Museum's Sloane collection.
Menjelang akhir hidupnya, suami Eleanor yang terasing berusaha merebut hartanya melalui intimidasi dan menyebarkan rumor. Untuk melindungi asetnya, ia menempatkan propertinya dalam sebuah perwalian dan meninggalkan warisan kecil bagi anak-anaknya. Namun, setelah kematiannya, putra sulungnya menggugat wasiat tersebut dengan alasan bahwa minat ibunya dalam entomologi dan perilakunya yang dianggap eksentrik menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Pada tahun 1712, pengadilan membatalkan wasiatnya.
Masa kecil dan keluarga
Eleanor lahir pada tahun 1654 dari pasangan Mayor William Goodricke dan Eleanor Poynz (née Davis). Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Mary.[1] Ayahnya, William, pernah berperang di Skotlandia mendukung pasukan Oliver Cromwell (1650–1651) dan kemudian mendapat pengampunan kerajaan pada Restorasi 1660. Ibunya, Eleanor Poynz, mewarisi beberapa properti, termasuk Tickenham Court, di mana keluarga mereka tinggal.[2]
Setelah ayahnya meninggal pada 1666 (ibunya telah wafat sembilan tahun sebelumnya), Eleanor mewarisi properti keluarga dan tetap tinggal di Tickenham Court. Pada tahun 1676, ia menikah dengan seorang seniman dari Lincolnshire bernama Edmund Ashfield, dan mereka memiliki seorang putra bernama Forest Edmund, diikuti oleh dua anak perempuan kembar (hanya salah satu dari mereka, Mary, yang selamat saat lahir). Ashfield meninggal pada tahun 1679.[1]
Pada tahun 1685, Eleanor menikah lagi dengan Richard Glanville, pemilik tanah di Elmsett, Somersham, dan Offton. Mereka memiliki empat anak, tetapi hanya dua yang bertahan hidup. Pernikahan mereka bermasalah karena Richard dikenal kasar, bahkan pernah mengancam Eleanor dengan pistol.[3] Pada tahun 1698, pasangan ini akhirnya berpisah.[3]
Karya dalam bidang entomologi
Eleanor sudah tertarik mengoleksi kupu-kupu sejak muda, tetapi minatnya semakin serius setelah pernikahannya dengan Richard berakhir. Ia meminta bantuan para pelayannya untuk mengumpulkan serangga, bahkan membayar mereka asalkan spesimen yang dikumpulkan tetap terjaga dengan baik. Ia berkorespondensi dengan kolektor serangga lain seperti John Ray, Adam Buddle, Joseph Dandridge, dan William Vernon. Ia juga bersahabat dengan entomolog James Petiver. Saat bertemu Eleanor di London pada 1703, Vernon sangat terkesan dengan koleksi kupu-kupunya dan menyebutnya sebagai "koleksi kupu-kupu Inggris terbaik yang pernah ada."[butuh rujukan]
Selama bertahun-tahun, Eleanor mengirimkan berbagai spesimen serangga ke Petiver untuk didokumentasikan dan dibagikan ke komunitas ilmiah. Salah satu kirimannya bahkan berisi spesimen green hairstreak pertama yang diketahui.[4] Kontribusinya membantu Petiver menyelesaikan katalog serangga Inggrisnya, Gazophylacium naturae et artis, di mana namanya dicantumkan sebagai bentuk penghargaan. Ia juga diduga menyusun daftar pertama tentang serangga di Bristol.[4]
Selain mengoleksi, Eleanor juga membiakkan kupu-kupu dan ngengat di rumahnya. Ia mendapatkan larva dengan bantuan anak magang, yang membantunya menggoyangkan pagar tanaman untuk menangkap serangga yang jatuh. Ia berhasil membiakkan spesies high brown fritillary dan green-veined white serta mencatat perkembangan siklus hidupnya secara rinci—salah satu dokumentasi awal tentang cara membiakkan kupu-kupu.[butuh rujukan]
Pada tahun 1702, Eleanor menemukan spesies kupu-kupu baru di Lincolnshire. Awalnya, spesies ini dinamai Lincolnshire fritillary dalam katalog Petiver, sebelum akhirnya diberi nama Glanville fritillary beberapa dekade setelah kematiannya. Ilustrasi temuannya kemudian digunakan oleh Carl Linnaeus saat mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1758.[5] Kupu-kupu ini menjadi satu-satunya spesies asli Inggris yang dinamai berdasarkan seorang naturalis Inggris.[butuh rujukan]
Kematian dan peninggalan
Eleanor terus menghadapi masalah dengan Richard setelah mereka berpisah. Richard berusaha mengambil kekayaan dan asetnya untuk dirinya sendiri serta selingkuhannya. Ia menyebarkan rumor bahwa Eleanor telah kehilangan kewarasannya dan berusaha memaksa anak-anak mereka untuk mendukung klaimnya melalui pernyataan tertulis. Bahkan, Richard merencanakan penculikan salah satu putra mereka agar dipaksa menyerahkan hak warisannya. Untuk mencegah rencana Richard, Eleanor menempatkan asetnya di bawah pengelolaan wali amanat dan mewariskan sebagian besar hartanya kepada sepupu jauhnya, Henry Goodricke, dengan jumlah lebih kecil diberikan kepada keempat anaknya.[6] Ia meninggal di Tickenham pada awal tahun 1709, dengan total kekayaan diperkirakan mencapai £7.000 (setara dengan £1.200.900 pada tahun 2023).[butuh rujukan]
Setelah kematiannya, putra tertuanya, Forest, menggugat wasiat tersebut di pengadilan. Ia mengklaim bahwa ibunya tidak waras saat menyusun wasiat dan telah dipengaruhi oleh keyakinan keliru bahwa anak-anaknya telah berubah menjadi peri. Beberapa saksi bersaksi bahwa Eleanor menunjukkan perilaku aneh, seperti memukul-mukul semak untuk mencari larva serangga, berpakaian seperti "gypsy", dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang dianggap tak pantas bagi seorang wanita.[7] Pada tahun 1712, pengadilan membatalkan wasiatnya dengan alasan ketidakwarasan, sehingga Forest menjadi pemilik Tickenham Court.[butuh rujukan]
Meskipun Eleanor mengalami kesulitan dalam menjaga koleksi serangganya dari hama dan jamur selama hidupnya,[7] tiga spesimen miliknya—dua ngengat dan satu kupu-kupu yang awalnya diberikan kepada James Petiver—masih disimpan hingga kini di koleksi Sloane di Natural History Museum. Dua suratnya kepada Petiver ditemukan kembali dalam arsip museum pada tahun 1960-an.[butuh rujukan]
Sebagai penghormatan atas kontribusinya, Eleanor Glanville Centre di University of Lincoln didirikan sebagai pusat penelitian dan pengembangan kebijakan keberagaman serta inklusi di kampus. Kehidupannya juga menjadi inspirasi bagi novel sejarah Lady of the Butterflies (2010) karya Fiona Mountain, yang mengisahkan kisah fiksional tentang kehidupannya.[8]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
↑Goodricke, Charles Alfred (1885). History of the Goodricke family. Getty Research Institute. London: printed for the editor by Hazell, Watson, and Viney.