Eadberht III Præn adalah RajaKent dari tahun 796 hingga 798. Masa pemerintahannya yang singkat merupakan hasil dari pemberontakan melawan hegemoniMercia, dan peristiwa ini menandai kali terakhir Kent berdiri sebagai sebuah kerajaan yang merdeka.
Offa dari Mercia tampaknya sempat memerintah Kent secara langsung dari tahun 785 hingga 796,[1] ketika Kronik Anglo-Saxon mencatat bahwa Offa wafat dan Eadberht, "yang memiliki nama lain Præn", mengambil alih kekuasaan atas Kent.[2] Eadberht tampaknya sempat hidup dalam pengasingan di benua Eropa di bawah perlindungan Charlemagne, dan pemberontakannya dipandang menguntungkan kepentingan bangsa Franka.[3]
Uskup Agung Canterbury yang pro-Mercia, Æthelhard, melarikan diri selama pemberontakan tersebut berkecamuk. Cœnwulf dari Mercia saat itu sedang menjalin korespondensi dengan Paus Leo III mengenai situasi Gereja di Inggris. Dalam prosesnya, Paus Leo merestui penaklukan kembali Kent oleh Mercia dan mengekskomunikasi Eadberht dengan alasan bahwa ia adalah seorang mantan imam.[3] Setelah menerima persetujuan kepausan, Cœnwulf menaklukkan kembali Kent. Ia menyerahkan kekuasaan Kent kepada saudaranya dan menangkap Eadberht pada tahun 798.
Menurut Kronik Anglo-Saxon, Cœnwulf "meluluhlantakkan Kent, menangkap raja mereka yang bernama Eadberht Præn, lalu membawanya dalam kondisi terikat ke Mercia." Catatan tambahan di kemudian hari pada Kronik menyebutkan bahwa kedua mata Eadberht dibutakan dan kedua tangannya dipotong,[4] namun Roger dari Wendover menyatakan bahwa ia akhirnya dibebaskan oleh Coenwulf sebagai bentuk pengampunan.