Seperti halnya desa lain di Kabupaten Pekalongan, Desa Doro mempunyai cikal bakal berdirinya Desa Doro dengan berbagai versi cerita yang berbeda. Konon pada zaman dulu ada seorang dara yang solekhah, yang pernah tinggal di suatu tempat beliau bernama Nyi Mas Gondosari. Dalam sejarah kewalian Nyi Mas Gondosari merupakan murid Sunan Gunung Jati yang dipercaya dalam perjuangannya dia istirahat/ngaso disitu sambil memelihara ternak kesayangannya. Dari kata ngaso itulah sehingga desa atau dukuh disekitarnya dinamai Dukuh Kasotengah, Kasogunung, Kasocikal.
Desa Doro itu Desa Kaso/ngaso atau beristirahat. Munculnya nama Doro karena desa itu merupakan wilayah kecamatan atau kawedanan yang adanya ndoro camat dan ndoro dono maka desa itu terkenal dengan Ndoro atau Doro.
Dalam kesehariannya Nyi Mas Gondosari beliau mengerjakan berbagai hal, dibidang sosial kemasyarakatan beliau mengajarkan bercocok tanam dan bahu membahu saling tolong menolong dengan yang lain. Beliau mengajarkan syariat dan budi pekerti yang mulia. Setelah penduduk pandai bercocok tanam dan menjalankan syariat Islam, beliau pamit melanjutkan tugas ke wilayah lain dan berpesan kepada penduduk, karena beliau seorang putri yang belum pernah menikah penduduk mengatakan “Dara” atau “Doro” dalam bahasa jawa, yang artinya “Seorang dara yang mewariskan kemakmuran” dan pada saat itulah disebut Desa Doro. Bukti kisah ini adalah petilasan atau makam di Dusun Kasotengah yang sekarang masih ada.[1]
Pendidikan
SD/MI
SD Negeri 1 Doro
SD Negeri 2 Doro
SD Negeri 3 Doro
SD Negeri 4 Doro
MI Futuhiyah Doro
MI Muammadiyah Kutosari
SDM Wonosari
SMP/MTs
SMP Negeri 1 Doro
SMP Negeri 2 Doro
SMP Negeri 3 Doro
SMP Muhammadiyah Plus Doro (TrenQu Rogoselo)
MTs Syarif Hidayah Doro
SMA/SMK
SMK Muhammadiyah Doro
SMK Ma'arif NU Doro
SMA Negeri 01 Doro
Referensi
↑Sutrisno. "Sejarah Desa". Sejarah Desa. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-01-30. Diakses tanggal 17 April 2020.