Djago! Djago! adalah sebuah surat kabar berhaluan kiri yang terbit di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada tahun 1923. Surat kabar ini didirikan dan dipimpin oleh Natar Zainuddin, dengan Arif Fadhilah sebagai redaktur. Djago! Djago! dikenal sebagai salah satu media propaganda yang digunakan untuk menyebarkan gagasan Marxis di Minangkabau.[1]
Latar belakang
Kemunculan Djago! Djago! tidak terlepas dari upaya kelompok komunis di Sumatra Barat untuk membumikan ajaran Marxis dalam konteks sosial dan keagamaan masyarakat Minangkabau. Bersama dengan surat kabar Pemandangan Islam yang dipimpin oleh Haji Datuk Batuah, Djago! Djago! menjadi sarana penting dalam membangun wacana yang menggabungkan kritik sosial dengan legitimasi keagamaan.[1]
Kedua surat kabar tersebut berperan dalam mengaitkan ajaran Islam dengan ide-ide perlawanan terhadap kapitalisme dan kolonialisme, sehingga memperluas penerimaan gagasan komunis di kalangan masyarakat yang religius.[1]
Penerbitan dan karakteristik
Edisi perdana Djago! Djago! terbit pada 8 Oktober 1923, beberapa bulan sebelum berdirinya Sarekat Rakyat di Padang Panjang. Surat kabar ini terdiri atas enam halaman dan mengusung slogan “Suara Merdeka Kaum Melarat”, yang menunjukkan orientasinya kepada kelompok proletariat.[1]
Dalam edisi perdananya, Arif Fadhilah menekankan bahwa surat kabar ini hadir untuk membela kaum tertindas serta mengajak mereka bersatu melawan eksploitasi kapitalis. Natar Zainuddin, melalui tulisannya, mengkritik sistem kapitalisme sebagai penyebab utama kemiskinan dan ketidakadilan sosial, serta berupaya menyederhanakan pemikiran Karl Marx agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.[1]
Ciri khas Djago! Djago! adalah penggunaan bahasa propaganda yang kuat, serta upaya menggabungkan ajaran Marxis dengan nilai-nilai Islam. Natar Zainuddin, misalnya, menegaskan bahwa praktik penindasan bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga perjuangan melawan kapitalisme diposisikan sebagai kewajiban moral dan religius.[1]
Isi dan tema pemberitaan
Djago! Djago! memuat berbagai artikel yang berfokus pada isu-isu sosial, ekonomi, dan politik. Tema utama yang sering diangkat, antara lain kritik terhadap kapitalisme dan kolonialisme Belanda, ajakan persatuan kaum proletariat, beban pajak (belasting) yang menindas rakyat, dukungan terhadap gerakan revolusioner internasional, dan integrasi ajaran Islam dengan ideologi komunis.[1]
Dalam edisi-edisi awalnya, surat kabar ini juga menyoroti beratnya beban pajak yang harus ditanggung rakyat, termasuk berbagai jenis pajak seperti pajak badan, pajak penghasilan, pajak tanah, dan pajak lainnya yang dinilai menyengsarakan masyarakat.[1]
Selain itu, Djago! Djago! turut memberitakan perkembangan gerakan internasional, seperti Revolusi Bolshevik di Rusia dan perjuangan Mustafa Kemal Pasha di Turki, sebagai inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan di Hindia Belanda.[1]
Peran
Djago! Djago! memiliki peran penting dalam mendukung pembentukan dan aktivitas Sarekat Rakyat di Sumatra Barat. Surat kabar ini menjadi media propaganda yang menggerakkan opini publik serta memobilisasi massa.[1]
Salah satu liputan pentingnya adalah deklarasi Sarekat Rakyat pada 10 November 1923 di Padang Panjang. Dalam pemberitaannya, Djago! Djago! menggambarkan peristiwa tersebut sebagai momentum penting dalam perjuangan rakyat. Namun, laporan tersebut juga memuat kritik keras terhadap tokoh Sarekat Islam, Abdul Muis, yang dianggap tidak menghormati forum dan membatasi partisipasi tokoh-tokoh lain.[1]
Salah satu aspek penting Djago! Djago! adalah upayanya mengharmoniskan komunisme dengan ajaran Islam. Melalui tulisan-tulisan tokoh seperti Haji Datuk Batuah dan H.M. Nur Ibrahim, komunisme dipresentasikan sebagai sistem yang sejalan dengan nilai keadilan sosial dalam Islam.[1]
Dalam narasi ini, kapitalisme dipandang sebagai sistem yang bertentangan dengan ajaran agama karena mendorong eksploitasi dan ketimpangan. Sebaliknya, komunisme digambarkan sebagai sarana untuk mencapai keadilan, persamaan hak, dan kesejahteraan bersama.[1]
Selain sebagai media propaganda, Djago! Djago! juga terlibat dalam kegiatan sosial. Salah satu inisiatif yang diberitakan adalah rencana pendirian sekolah bagi kaum miskin dan buta huruf di Padang Panjang. Program ini melibatkan guru-guru dari kalangan Thawalib dan didukung oleh organisasi lokal.[1]
Referensi
1234567891011121314Sufyan, Fikrul Hanif (2017). Menuju Lentera Merah: Gerakan Propaganda Komunis di Serambi Mekah 1923-1949. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm.56–64.