Latar Belakang
Liga ini dimulai pada tahun 1994. Minimnya penjualan tiket di Galatama dan minimnya aspek komersial di Perserikatan membuat PSSI mengambil keputusan berani. Persatuan Sepak Bola Indonesia memutuskan untuk membentuk liga profesional baru yang disebut Divisi Utama Liga Indonesia sebagai penggabungan Galatama dan Perserikatan.[2]
Akibat penggabungan tersebut, terdapat 34 klub perdana di liga ini. Dua klub yang seharusnya terdegradasi ke Divisi Utama, Persiba dan PS Bengkulu, diizinkan untuk berkompetisi, sementara PS Aceh Putra memilih untuk mundur. Untuk mengatasi masalah ini, liga dibagi menjadi dua divisi regional dengan masing-masing divisi terdiri dari 17 klub. Empat klub teratas dari masing-masing divisi kemudian memasuki babak kedua yang dimainkan dalam format penyisihan grup yang terdiri dari dua grup yang masing-masing terdiri dari empat klub. Kemudian, dua klub teratas dari setiap grup melaju ke babak sistem gugur (semifinal dan final) di mana mereka akan bermain untuk memperebutkan gelar juara.[1]
Pergeseran liga ke bentuk yang lebih komersial membuat PSSI bergerak mencari sponsor untuk menopang roda liga. Dunhill, produsen rokok asal Inggris, merupakan perusahaan pertama yang terjun dan menjadi sponsor utama perdana liga. Akibat sponsorship ini, Dunhill menggelontorkan dana hingga Rp4,5 miliar per musim dan memberikan subsidi sebesar Rp100 juta untuk setiap klub Divisi Utama. Dunhill juga memberikan hadiah sebesar Rp75 juta untuk juara, Rp50 juta untuk runner-up, dan Rp25 juta untuk pemain terbaik liga. Dana yang diberikan Dunhill terbilang cukup tinggi untuk standar keuangan pada tahun 1994. Oleh karena itu, Divisi Utama Liga Indonesia kemudian diberi nama Liga Dunhill.[3]
Sebelum liga bergulir, PSSI juga mencabut larangan pemain asing berlaga di liga yang telah aktif sejak 1982 itu. Hal ini berdampak pada beberapa klub yang mendatangkan pemain-pemain bintang dan veteran dunia.[4]
Ringkasan Musim
Duel perdana liga baru ini mempertemukan para juara edisi terakhir dari masing-masing kompetisi pada 27 November 1994. Pelita Jaya adalah juara terakhir Galatama, sementara Persib adalah juara Perserikatan 1993–94. Pertandingan berakhir 1-0 untuk Pelita Jaya, dengan striker Montenegro mereka Dejan Gluščević menjadi pemain pertama yang mencetak gol di liga utama baru tersebut pada menit ke-60.[2] Pada akhir tahap pertama, PS Bengkulu, Warna Agung, PSIR, dan PSIM terdegradasi dari liga. Gelombang pertama pemain asing yang datang ke liga terbukti tidak efektif dalam meningkatkan hasil, sehingga klub-klub harus merombak susunan pemain asing mereka tepat sebelum tahap kedua dimulai.[5]
Persib akhirnya menjadi juara liga perdana. "Maung Bandung", yang hanya finis sebagai runner-up Divisi Barat, meraih gelar juara berkat kemenangan tipis 1-0 atas Petrokimia Putra di final yang digelar di Stadion Utama Gelora Senayan pada 30 Juli 1995.[1] Namun, final tersebut diwarnai kontroversi karena gol striker Petrokimia Jacksen F. Tiago dianulir karena offside pada menit ke-30. Meskipun demikian, Sutiono Lamso mencetak gol di menit ke-76 untuk Persib dan mereka mempertahankan keunggulan hingga akhir pertandingan.[6] Ironisnya, gelar juara hanya diraih oleh tim yang beranggotakan pemain lokal, sementara sebagian besar penantang gelar memiliki setidaknya satu pemain asing.[4] Sementara itu, penyerang Bandung Raya Peri Sandria menjadi pencetak gol terbanyak pertama liga. 34 gol yang ia cetak merupakan rekor liga yang bertahan selama 22 tahun hingga Sylvano Comvalius mencetak 37 gol di Liga 1 2017.[7]