ENSIKLOPEDIA
Dinasti Sisingamangaraja
Dinasti Sisingamangaraja ᯘᯪᯘᯪᯝᯔᯝᯒᯐ | |
|---|---|
| ±1550–1907 | |
| Ibu kota | Bakkara |
| Bahasa yang umum digunakan | Bahasa Batak Toba |
| Agama | Kepercayaan Batak tradisional (Animisme dengan pengaruh Hindu dan Parmalim) |
| Pemerintahan | Monarki teokratis / Dinasti raja-imam (Priest Kings) |
| Sisingamangaraja | |
• ±1550 | Sisingamangaraja I |
• 1907 | Sisingamangaraja XII |
| Sejarah | |
• Pendirian dinasti | ±1550 |
• Gugurnya Sisingamangaraja XII dalam Perang Toba | 1907 |
| Sekarang bagian dari | |
Dinasti Sisingamangaraja merupakan sebuah dinasti yang memerintah di Bakkara, Toba, selama 12 generasi (kurun waktu ± tahun 1550 - 1907 Masehi). Priest Kings dynasty (dinasti raja-imam) yang menggantikan Dinasti Sorimangaraja di Tanah Batak Utara.[1] Peran dinasti ini tidak hanya bersifat politis, tetapi juga memegang fungsi penting dalam menjaga keseimbangan kosmos dan adat melalui lembaga bius (persekutuan kampung).[2]
Pemilihan Bakkara Sebagai Ibukota
Bakkara, dan juga Muara, terletak di atas sebuah delta yang kecil di tepi Danau Toba. Dari belakang dilindungi oleh tebing-tebing yang sangat curam, dan ± 400 meter tingginya. Sebuah analisis menyebutkan bahwa pilihan Sisingamangaraja I atas Bakkara, dan bukannya Balige, yang letaknya terbuka sebagai ibukota, adalah tepat.
Dalam sejarah, Bakkara akhirnya dapat direbut oleh Pasukan Padri (tahun 1819) dan Tentara Belanda (1884), setelah dihujani tembakan meriam.[1]
Sisingamangaraja dan Pengaruh Luar
Sampai dengan generasi ke-IX, riwayat dinasti ini lebih mendekati mitos Batak daripada sejarah Batak. Seluruh kisah lebih menyerupai mitologi Batak yang tidak mempunyai bahan perbandingan untuk membuktikan kebenarannya, dan sulit sekali bagi kita untuk menerima begitu saja riwayat Si Singamangaraja I sampai dengan Si Singamangaraja IX tanpa tiap kali bertanya dalam hati "Apakah benar demikian dan apakah tidak terlalu dibesar-besarkan?" Tidak ada sumber lain kecuali pustaka-pustaka Batak. Satu-satunya sumber yang menceritakan tentang dinasti Si Singamangaraja ini hanyalah sejumlah buku milik keluarga yang dikenal sebagai Arsip Bakkara atau oleh pihak keluarga disebut sebagai Pustaha Harajaon, atau pustaka kerajaan sebanyak 24 jilid, dan tiap-tiap jilid setebal delapan cm. Buku-buku ini, menurut pihak keluarga Sisingamangaraja XII, sekarang disimpan di perpustakaan Leiden (Universiteit Biblioteek), yang ditemukan dan diselamatkan oleh seorang pendeta Belanda, Pilgrams, pada waktu penyerbuan pihak Belanda terhadap pusat kerajaan Si Singamangaraja di Huta Lumban Pande, Bakkara, pada tahun 1883. Keberadaan naskah-naskah Batak di koleksi perpustakaan Eropa memang terkonfirmasi dalam katalog naskah, meskipun identifikasi spesifik sebagai "Arsip Bakkara" sering kali memerlukan verifikasi silang dengan katalog kurator seperti P. Voorhoeve.[3] Literatur orientalis Belanda juga mencatat berbagai narasi tradisional dan hukum adat terkait wilayah ini sejak akhir abad ke-19.[4] Upaya sistematis dalam mengumpulkan data mengenai Tanah Batak dan sejarahnya, termasuk melacak pengaruh dari bangsa-bangsa tetangga terhadap institusi dan kebudayaan lokal, turut didorong oleh pendirian Bataksch Instituut (Institut Batak). Sebagaimana dicatat pada bagian pengantar buku Batakspiegel (edisi kedua, 1926) karya M. Joustra, institut ini merumuskan misinya sebagai berikut:
"Het Bataksch Instituut opgericht 30 September 1908 en gevestigd te Leiden, stelt zich ten doel: a. het verzamelen van zoo volledig mogelijke gegevens betrefFende de Bataklanden en hun bewoners, daaronder begrepen gegevens betrefFende den invloed door buurvolken geoefend; b. het dienstbaar maken van deze gegevens aan het welzijn van de bewoners der Bataklanden, aan hun ontwikkeling, en aan onze betrekkingen met hen."
(Terjemahan: Institut Batak yang didirikan pada 30 September 1908 dan berkedudukan di Leiden, bertujuan: a. mengumpulkan data selengkap mungkin mengenai Tanah Batak dan penduduknya, termasuk data mengenai pengaruh yang ditimbulkan oleh bangsa-bangsa tetangga; b. memanfaatkan data tersebut untuk kesejahteraan penduduk Tanah Batak, perkembangan mereka, dan hubungan kita dengan mereka.)
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, institut ini dikelola oleh sebuah direktorium yang terdiri dari para tokoh terkemuka pada masanya, yaitu Dr. C. W. Janssen, Prof. Dr. A. W. Nieuwenhuis, Prof. J. C. van Eerde, dan Mr. H. J. Bool, dengan M. Joustra bertindak sebagai arsiparis. Operasional dan publikasi penelitian mereka—termasuk buku Batakspiegel (Cetakan Kedua yang diperluas, 1926) yang merupakan "Keluaran Institut Batak No. 21" (Uitgaven van het Bataksch Instituut No. 21)—didukung secara finansial melalui sistem iuran dari para anggota (leden), simpatisan (begunstigers), dan donatur.[5]
Isi Arsip Bakkara antara lain:
- Jilid I sampai dengan jilid Ill, mengenai pemerintahan Tuan Sorimangaraja selama 90 turunan, dimulai dari putri Tapi Donda Nauasan.
- Jilid IV sampai VII, pemerintahan Kerajaan Si Singamangaraja dinasti I sampai IX.
- Jilid VIII, perihal peperangan oleh kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Rao terhadap Ompu Tuan Nabolon Si Singamangaraja ke-X. Pergerakan kaum Padri ke wilayah Batak ini juga dicatat dalam sejarah ekonomi Sumatera sebagai upaya menguasai jalur perdagangan dan penyebaran agama.[6]
- Jilid IX, perihal Si Pongkinangolngolan dan Datu Aman Tagor Simanullang.
- Jilid XI sampai dengan XII, perihal pendeta Pilgrams dan pembunuhan terhadap Pendeta Lymann dan Munson oleh raja Panggulamai di Silindung.
- Jilid XIII sampai XVI, periode pembangunan kembali pusat kerajaan Sisingamangaraja di Bakkara di Huta Lumban Raja antara tahun 1835- 1846, setelah pembumihangusan pusat kerajaan yang lama Huta Lumban Pande oleh pasukan Padri.
- Jilid XVII, perihal Dr. Junghun, van der Tuuk yang datang menemui Ompu Sohahuaon, Si Singamangaraja XI, dan perihal pembuatan fotonya.
- Jilid XVIII sampai dengan XXIV penobatan Ompu Sohahuaon menjadi Si Singamangaraja XI, pemerintahannya sampai tahun 1866 dan perihal penyakit menular yang melanda Tanah Batak yang juga merenggut jiwa Si Singamangaraja Xl.
Sumber ini ditulis dalam bahasa dan aksara Batak, dan bahasa yang dipakai tentu saja bahasa yang khusus, sehingga untuk membacanya diperlukan keahlian. Pustaha Harajaon ini ditulis atas inisiatif raja Si Singamangaraja XI, sehingga sebagian besar ceritanya harus mendapat penelitian dan perbandingan yang lebih teliti.[7] Tentang Si Singamangaraja XII tidak terdapat dalam pustaka ini, karena ia sendiri tidak sempat melanjutkan kerja ayahnya.
Dalam riwayat keluarga Si Singamangaraja, terlihat bahwa mereka memang mempunyai hubungan dengan daerah-daerah luar Tanah Batak, tetapi sebagai bahan perbandingan masih harus diteliti lagi sumber-sumber atau cerita-cerita rakyat daerah-daerah yang pernah dikunjunginya atau yang dikatakan pernah berhubungan dengan Si Singamangaraja. Mengenai Si Singamangaraja ke-X dan ke-XI, sudah terdapat kontak yang jelas dengan luar Tanah Batak yang dapat dibandingkan dengan sumber sejarah. Laporan penjelajahan Wilhelm Volz dalam Nord-Sumatra (1909) pada kurun 1904-1906 memberikan gambaran betapa kuatnya polarisasi antara penduduk pedalaman yang masih setia kepada Sisingamangaraja dengan kolonial Belanda. Volz yang dikawal ketat oleh militer Belanda (pasukan Marechaussee) mencatat bahwa Sisingamangaraja memiliki pengaruh yang sangat besar hingga ke wilayah Pakpak dan Singkil. Volz kerap menemui desa-desa (seperti di daerah Simsim) yang dikosongkan penghuninya, dibentengi dengan bambu runcing, serta memasang patung kayu (pagar setan) di gerbang desa sebagai penolak bala (sekaligus penolak kedatangan pasukan Belanda). Bahkan, Volz mencatat desas-desus bahwa Sisingamangaraja menyingkir ke Tanah Toba sementara sekutunya, Raja Batu-batu, bertahan di wilayah Kepas untuk menggalang perlawanan.[8]
Meneliti riwayat leluhur Si Singamangaraja, dapat terlihat bahwa pengaruhnya - bukan kekuatannya - berkembang sedikit demi sedikit ke seluruh Tanah Batak. Apa yang selalu dikerjakannya adalah mencoba memberi bantuan terhadap kesulitan yang dihadapi penduduk, baik berupa pengobatan atau pun usaha menghindarkan bencana alam dengan martonggo kepada Mulajadi na Bolon. Dalam kehidupan bermasyarakat ia menganjurkan penduduk untuk melestarikan hubungan antara individu dengan sistem dalihan na tolu.[9]
Secara antropologis, penyebaran pengaruh dinasti ini menunjukkan pola "pusat pasif" (passive Zentren), di mana Bakkara berfungsi sebagai wadah pengumpul unsur budaya dan teknologi dari berbagai arah (Utara, Selatan, Timur, dan Barat) yang kemudian disaring melalui tatanan adat lokal.[10] Struktur sosial masyarakat Batak pada masa pertumbuhan dinasti ini bersifat aristokratis-republiken, di mana kepemimpinan kolektif dalam marga mencegah munculnya kekuasaan tunggal yang absolut, sehingga memposisikan Sisingamangaraja lebih sebagai otoritas spiritual daripada diktator politik.[11][9]
Penghargaan yang diberikan rakyat terhadap Si Singamangaraja diberikan sebagai akibat tindakan-tindakannya sendiri yang dilakukannya sesuai dengan apa yang dikatakannya, ia sering disebut sebagai seorang raja yang duduk di tempat terhormat dan bijak berkata-kata atau memecahkan persoalan (raja na hundul di patuan jala malo marhata-hata).[2]
Beberapa penulis Barat pernah mencoba-coba meletakkan raja Si Singamangaraja sebagai seorang yang berasal dari luar Tanah Batak, bahwa ia seorang yang datang dan memengaruhi kehidupan rakyat Batak.[12] Selain itu, M. Joustra mencatat adanya hipotesis bahwa figur Sisingamangaraja kemungkinan memiliki kaitan sejarah dengan Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Joustra mengajukan kemungkinan bahwa Sisingamangaraja pertama mungkin awalnya adalah wakil atau vasal dari "Raja Alam" Minangkabau yang kemudian memandirikan diri.[13]
Arkeolog Robert Heine-Geldern juga menarik pararel antara institusi Sisingamangaraja dengan kerajaan kuno yang disebut dalam kronik Tiongkok sebagai P'i-k'ien yang terletak di Sumatera utara. Raja P'i-k'ien digambarkan memiliki kekuatan supranatural, mengetahui masa depan, tidak memakan daging, dan dianggap tidak bisa mati, ciri-ciri yang sangat mirip dengan mitos yang melekat pada sosok Sisingamangaraja.[14]
Konflik dengan Zending dan Pemerintah Kolonial
Perang Toba (1878–1907) merupakan puncak perlawanan Sisingamangaraja XII terhadap penetapan kekuasaan Belanda di Tanah Batak. Sejarawan Uli Kozok dalam kajiannya mencatat adanya "koalisi injil dan pedang" yang sangat sukses antara pemerintah kolonial dan para misionaris RMG seperti Ludwig Ingwer Nommensen.[15]
Sisingamangaraja XII dicap oleh pihak zending sebagai "musuh bebuyutan pemerintah Belanda dan zending Kristen."[15] Hal ini dipicu oleh kekhawatiran Sisingamangaraja bahwa masuknya pengaruh Eropa melalui zending akan menghancurkan tatanan adat dan religius asli Batak. Laporan Nommensen menunjukkan bahwa ia mendampingi ekspedisi militer Belanda sebagai penerjemah dan penasihat lapangan.[15] Masuknya institusi dan ideologi Barat juga memicu modernisasi sistem pemerintahan tradisional; campur tangan administrasi kolonial perlahan mengubah lanskap adat yang selama ini dipertahankan, terutama melalui reorganisasi wilayah serta regulasi-regulasi desentralisasi seperti dewan lokal di Angkola dan Sipirok.[16]
Catatan langsung mengenai taktik gerilya Sisingamangaraja XII direkam oleh geolog Jerman, Wilhelm Volz, yang menjelajahi wilayah Toba dan sekitarnya pada tahun 1904-1906. Volz mencatat bahwa Sisingamangaraja sangat aktif dan sangat sulit ditangkap oleh pasukan Belanda. Ia terus bergerak secara nomaden dan hanya ditemani oleh sekelompok kecil pengikut setianya. Pasukannya bertahan hidup dengan cara mencari makan (foraging) di hutan dan desa-desa, yang membuat lokasi persembunyiannya nyaris tidak pernah diketahui secara pasti, sekaligus meminimalisir risiko kekurangan logistik. Pelariannya ini baru berakhir ketika ia gugur dalam penyergapan oleh pasukan Christoffel pada Juni 1907.[17]
Dinamika Sisingamangaraja dan Masuknya Islam di Sumatera
Posisi Sisingamangaraja bukan hanya dihadapkan pada ancaman kolonialisme dan Zending Kristen, melainkan juga beririsan dengan kuatnya gelombang penyebaran dan kebangkitan Islam di tanah Sumatera. Hamka (H. Abdulmalik Karim Amrullah) dalam karyanya Sedjarah Islam di Sumatera memaparkan bahwa ketika gerakan Paderi di bawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol berusaha memurnikan Islam di Minangkabau pada awal abad ke-19, misi penyebaran agama tersebut juga diekspansikan ke utara. Pasukan dan utusan-utusan kaum Paderi (seperti Tuanku Rao) menembus wilayah Mandailing hingga Sipirok dan Tanah Batak. Di tengah gelombang inilah, Sisingamangaraja (mulai dari Sisingamangaraja X) dikabarkan mulai membangun hubungan dan kontak dengan wilayah Aceh serta Minangkabau untuk menggalang bantuan guna mempertahankan tanah dan kebangsaan Batak dari rongrongan kekuatan Belanda yang semakin masif.[18]
Kontak antara tokoh Batak dan para ulama tersebut juga menyingkap fakta bahwa penyebaran agama (baik Kristen di Tapanuli Utara yang disokong Belanda maupun Islam yang digerakkan para mujahid) sering kali berbaur dengan perjuangan politik dan perlawanan antikolonial. Hamka mencatat bagaimana Belanda, menyadari bahaya penyebaran Islam yang bisa menyatukan perlawanan dari Aceh hingga Minangkabau, secara taktis mendukung penyiaran Kristen (seperti Rheinische Missionsgesellschaft) di Tanah Batak sebagai sabuk penghalang (buffer). Namun di sisi lain, kebangkitan kebangsaan Batak itu sendiri kelak justru menginspirasi lahirnya gerakan Kristen asli yang ingin lepas dari dominasi Zending Barat (misalnya gerakan awal lahirnya Huria Kristen Batak Protestan / HKBP).[18]
Bahkan ketika sebagian masyarakat Batak (seperti di wilayah perbatasan Padang Lawas dan Sipirok) telah memeluk agama Islam, penghormatan spiritual terhadap Sisingamangaraja tidak serta-merta luntur. Wilhelm Volz dalam laporannya mencatat dengan rasa takjub bahwa utusan-utusan Sisingamangaraja masih sering berkunjung ke wilayah-wilayah tersebut. Uniknya, para petani Batak Muslim pada masa itu masih sering memohon berkat dari Sisingamangaraja untuk kesuburan ladang padi mereka, yakni dengan cara menggantungkan tabung bambu kecil berisi beras dan ikan-ikan kecil sebagai persembahan baginya.[19]
Kehidupan Sehari-hari dan Budaya Material
Kondisi geologis di Dataran Tinggi Batak, yang tertutup formasi tuf vulkanik, andesit, dan batu gamping, sangat memengaruhi budaya material, tata ruang permukiman, serta mata pencaharian penduduk setempat.[20] Lanskap yang terpotong oleh ngarai-ngarai sungai dan pelapukan batuan membentuk formasi alam yang unik, mulai dari bukit-bukit laterit hingga gua-gua batu gamping yang sering kali dimitoskan oleh penduduk. Karakteristik lapisan tuf ini sangat keropos, membuat air hujan cepat meresap dan membentuk lembah-lembah kering, sementara sungai-sungainya sering kali meluap hebat setelah hujan deras (flächenspülung). Di pedalaman, penduduk sering mengandalkan "Bunterde" (tanah lempung beraneka warna hasil pelapukan) untuk pertanian ladang berpindah, sebelum kemudian perlahan bergeser menggunakan area aluvial sungai untuk mencetak sawah-sawah baru.[20] Lebih jauh lagi, Volz memaparkan bahwa pelarutan kimiawi pada formasi batu gamping (Kalkböden) menciptakan bentang alam karst dan ribuan gua (seperti Ngalau Saribu) serta endapan sinter kapur (Kalksinter) yang turut memengaruhi ekosistem dan penyebaran pemukiman.[21]
Catatan-catatan etnografi pada periode akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merekam dengan cukup rinci perabot serta peralatan rumah tangga tradisional (budaya material) masyarakat Batak yang mencerminkan keseharian masyarakat di masa kepemimpinan raja-raja bius dan Dinasti Sisingamangaraja. Di wilayah Toba, peralatan rumah tangga tradisional yang lazim digunakan antara lain periuk memasak dari tanah liat (hoedon) yang juga sering digunakan untuk mengambil air, serta berbagai wadah dari kayu seperti piring kayu (sapa, tatoean, garpa, djoeroeng), tempat lauk pauk (sigoeroep), dan mangkuk minum (tataoe). Sebagai pencuci tangan digunakan romboan, dan untuk alas memotong menggunakan talenan kayu (sangkalan). Alas duduk maupun alas tidur yang umum digunakan adalah tikar anyaman (bide).[22] Kepercayaan animisme lokal juga direpresentasikan dalam arsitektur desa; Wilhelm Volz mencatat keberadaan patung-patung kayu penjaga desa (seperti figur berjongkok atau relief wajah manusia dengan mulut dan telinga hewan) yang diukir pada ujung balok rumah, serta ukiran kadal dan ular naga yang menghiasi bangunan balai pertemuan (Bale).[23] Kesenian ukir Batak ini sangat kaya akan motif spiral dan awan (Awan-Motiv). Di beberapa daerah, sisa-sisa pemujaan kesuburan (Linggam-Dienst) masih terlihat dari ukiran payudara pada lesung padi kayu yang menjadikannya berstatus "lesung perempuan". Selain itu, jejak totemisme kuno terekam kuat dalam pantangan makanan (tabu) yang mengikat marga-marga tertentu; misalnya, marga Babijat pantang memakan harimau, marga Tompul pantang memakan anjing, Si Regar pantang memakan monyet, dan Harahap pantang memakan merpati. Dalam hal seni pertunjukan, orkestra Batak yang dipimpin oleh tiupan serunai (saruni) serta irama gendang dan gong, tidak hanya dimainkan sebagai hiburan, tetapi merupakan elemen krusial dalam tarian pemanggilan roh (seperti tarian Sibaso), di mana para penari mencapai keadaan trance atau ekstase untuk berkomunikasi dengan roh leluhur (begu).[24]
Budaya material ini meluas dan memiliki banyak kesamaan di berbagai wilayah seperti Padang Lawas dan Batak Selatan. Di wilayah tersebut, tikar yang digunakan umumnya terbuat dari rotan atau kulit kayu (bide), serta tikar pandan (lapik, amak). Alat-alat memasak meliputi periuk tanah (hoedon), periuk besi (parioek), dan kuali (balanga). Untuk menyimpan air, mereka menggunakan wadah bambu (djantar, garigit, hiong-kiong, tagoek) atau labu air (laboe). Penyajian makanan sering menggunakan piring berkaki (doelang, pahat, sapa). Penerangan tradisional didapatkan dari kayu tusam, lilin damar, dan lampu minyak. Penyimpanan pakaian maupun barang berharga menggunakan peti kayu (poti atau kalandan). Lesung padi (losoeng) dan alu (indaloe) umumnya ditempatkan di bagian luar rumah.[5]
Dalam dimensi lain kemasyarakatan, kegiatan bertenun untuk pakaian adat serta kerajinan logam (seperti pandai besi dan perak) cukup menonjol, sementara literatur dan tradisi lisan seperti 'ndoeng-'ndoengan (puisi empat baris) dan narasi epik dipelihara dengan tekun meskipun tidak dikodifikasi dalam buku secara utuh selain dari pustaha yang dikhususkan untuk ritus dan perdukunan.[25] Untuk urusan peperangan dan pertahanan, persenjataan masyarakat terdiri atas senapan kuno/pemuras (pamoeras, sitënggar), parang atau kelewang (gadoebang, roedoes, horis), lembing/tombak, serta perisai (parisë). Pembuatan mesiu dan peluru timah juga diusahakan secara mandiri oleh masyarakat pada saat itu.[26] Volz juga mendokumentasikan variasi lokal senjata tajam yang sangat spesifik untuk tiap wilayah, seperti pisau Kalasan yang umum digunakan di daerah Toba dan Karo Timur, Mermo di wilayah barat, serta Ladingin di kawasan Pakpak, yang semuanya memperkaya perbendaharaan pandai besi lokal.[27]
Di kalangan kepala adat, raja, atau masyarakat yang lebih kaya, perabotan dari luar seperti kursi, meja, lemari, serta barang pecah belah Eropa telah diadaptasi. Barang mewah lainnya termasuk nampan kuningan bermotif (pahar, talam) yang didatangkan dari kawasan Selat Malaka, serta tikar hias yang dianyam menyilang antara kulit kayu dan rotan. Pada saat ada perayaan atau upacara adat, rumah-rumah akan dihias dengan tirai (tabir), kain kanopi/langit-langit, serta rumbai-rumbai (firë), yang sebagian menunjukkan adanya proses akulturasi dengan gaya estetika pesisir Melayu.[5]
Melengkapi gambaran tata ruang dan bangunan religius ini, Harley Harris Bartlett (1934) mengutip pengamatan Hagen di Naga Saribu (perbatasan Simalungun), yang mencatat adanya bangunan religius berupa rumah kecil di atas empat tiang (sekitar 15 kaki tingginya) yang didedikasikan untuk roh pelindung desa, terletak berdekatan dengan bale-bale (pusat interaksi sosial dan rumah tamu bagi kaum pria). Selain itu, terdapat pula rumah makam (djoro atau djerat) yang didirikan di atas kuburan para kepala adat atau raja terkemuka sebagai tempat persembahan roh leluhur, meski para ahli seperti Johannes Warneck berpendapat bangunan ini lebih merupakan media ibadah sementara daripada sebuah kuil permanen. Di wilayah Batak bagian selatan yang telah lama memeluk Islam (seperti Padang Lawas, Mandailing, dan Angkola), institusi komunal semacam ini bertransformasi menjadi institusi soero (surau), yang berfungsi sebagai sekolah agama Islam sekaligus tempat tidur bagi anak laki-laki dan para pemuda, sebuah kelanjutan fungsi komunal yang mengadaptasi tradisi pra-Islam (seperti parsoeroan).[28]
Dalam catatan J. Tideman mengenai wilayah Simalungun dan perbatasan Toba (1922), tata ruang pemukiman (hoeta atau kampong) juga dideskripsikan secara rinci. Penduduk yang mengandalkan pertanian ladang berpindah sering tinggal di gubuk sementara. Sebaliknya, desa-desa utama atau ibu kota kedudukan raja/penguasa disebut pamatang. Pamatang ini dibangun layaknya benteng pertahanan di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu hidup (partogoeh) berlapis dan parit, dengan hanya dua pintu masuk sempit (horbangan). Di perkampungan tua, rumah penguasa (raja/tuhan) dan balai (balë — tempat kaum pria berkumpul sekaligus tempat penahanan) umumnya ditempatkan di sisi timur.
Seiring waktu, masuknya imigran Toba dan Jawa untuk membuka persawahan baru turut mengubah lanskap pemukiman. Pemukiman imigran Toba biasanya berjejer rapi di sepanjang jalan utama, berkembang dari gubuk sederhana menjadi rumah kayu beratap seng yang dilengkapi lumbung padi (hobon) dan kandang ternak. Literatur tersebut juga mencatat tantangan kesehatan masyarakat pada masa itu, di mana penduduk pedalaman sering dilanda penyakit endemis seperti kudis, malaria (milas borgoan/aroen), disentri, frambusia (poeroe), hingga epidemi kolera dan cacar, yang perlahan membaik berkat masuknya layanan medis, poliklinik, vaksinasi, serta sanitasi alami dari ternak babi peliharaan warga.[16]
Struktur Hierarki dan Pemerintahan Adat
Menurut kajian J. Tideman dalam Simeloengoen dan literatur pada awal abad ke-20, struktur pemerintahan adat di berbagai wilayah Batak (Toba, Simalungun/Timur, Padang Lawas, dan Selatan) memiliki hierarki dan istilah kepemimpinan yang spesifik dan kompleks. Di wilayah Timur (Simalungun), kekuasaan terpusat pada seorang raja atau toehan, yang dibantu oleh para penguasa bawahan seperti toengkat dan kepala desa yang disebut pangoeloe. J. Tideman mencatat bahwa raja-raja di wilayah ini memiliki kekuasaan yang cenderung mendekati absolutisme atau raja yang mendespot. Di Simalungun pula terdapat lembaga "viervorsten" (empat raja yang terdiri dari Silo, Pane, Siantar, dan Tanah Djawa). Menariknya, tradisi lisan dan sejarah setempat meyakini bahwa keempat raja ini pada mulanya bertindak sebagai representasi atau perwakilan langsung dari Sisingamangaraja. Para wakil raja ini diwajibkan memberikan upeti—biasanya berupa uang dolar, ayam, kerbau, dan beras—sebagai bentuk ketundukan (hommage) tiap kali Sisingamangaraja mengunjungi kawasan Simalungun di sebuah balai khusus yang terletak di Dolok Saribu.[29] Keberadaan upeti dan kekuasaan absolut yang direpresentasikan ini memperkuat posisi Sisingamangaraja bukan sekadar "priestervorst" (raja pendeta) biasa, melainkan figur yang dianggap sebagai "godvorst" (Raja-Dewa). Lebih jauh lagi, mitologi lokal mengaitkan pusaka-pusaka penting Sisingamangaraja, seperti tombak Si Tonggo Moal, pisau Gadjah Dopak, dan tikar Si Babiat, berasal dari tokoh legendaris Raja Uti dari Barus.[29]
Sementara itu, di wilayah Toba serta Batak Selatan (seperti Angkola dan Mandailing), masyarakat adat disatukan dalam kesatuan-kesatuan wilayah yang disebut hoendoelan (Toba) atau koeria / kuria (Selatan). Kesatuan-kesatuan ini dipimpin oleh seorang kepala wilayah yang bergelar panoesoenan (kepala kuria) atau dja ihoetan. Di bawah mereka, pada tingkat desa (hoeta), kepemimpinan dipegang oleh seorang pamoesoek atau radja ni hoeta. Para pemimpin adat ini tidak hanya menjalankan roda pemerintahan keseharian, tetapi juga memimpin lembaga peradilan adat (rapot atau rapat) serta menerima berbagai bentuk penghasilan atau persembahan adat, seperti oeloe taon (upeti dari pendatang), denda adat, hingga pembagian hasil hutan. Kendati demikian, memasuki abad ke-20, struktur pemerintahan asli ini secara bertahap mulai diintervensi dan direorganisasi melalui pembentukan sistem birokrasi pemerintahan kolonial Belanda.[5]
Kajian Penulis Luar Negeri Mengenai Kekuatan Supranatural Sisingamangaraja
Dalam sebuah bukunya, Bataksche Vertellingen, C.M. Pleyte berkata:
"Pangeran ini, yang menyandang gelar turun-temurun Si-singa mangaradja, Singa Adipati Agung, yang membawa segala macam hal gaib pada benda-benda yang dikaitkan padanya. Dia, seperti yang diyakini, adalah anak laki-laki yang lahir saat berusia tujuh tahun, dan memiliki bulu pada lidahnya, yang jika orang melihatnya saja, sudah mematikan. Ketika berbicara, dia menutup mulutnya sebisa mungkin dan selalu memberikan perintah secara tertulis. Kadang-kadang dia hidup selama tujuh bulan tanpa makan, atau bahkan selama tiga bulan berturut-turut tertidur lelap. Hujan dan sinar matahari adalah pesuruhnya. Sehingga, rakyatnya berdoa kepadanya untuk memberkati panen."[30]
Menyambung hal ini, ahli botani dan antropolog Harley Harris Bartlett dalam monografinya The Sacred Edifices of the Batak of Sumatra (1934) mengutip tulisan Pleyte (1894) yang menegaskan bahwa hampir tidak ditemukan kuil dengan patung dewa di Tanah Batak, dengan satu-satunya pengecualian adalah tempat suci atau semacam tempat pemujaan yang didedikasikan khusus untuk Si Singa Mangaradja pada masa lampau, di mana umat setianya berkumpul untuk beribadah kepadanya. Walaupun pada akhir abad ke-19 bangunan tersebut dilaporkan sudah tidak ada dan detail rancangannya sangat samar, keberadaannya di masa lalu menegaskan kultus Sisingamangaraja yang melampaui batas-batas animisme biasa.[28]
Heine-Geldern, dalam analisisnya mengenai sifat kedewaan Sisingamangaraja, menyoroti aspek 'pantangan' yaitu larangan memakan daging babi dan anjing. Menurut Heine-Geldern, pantangan ini menunjukkan jejak pengaruh Hindu (Brahmana) atau sisa-sisa tradisi kerajaan kuno (seperti P'i-k'ien atau Barus) yang telah terindianisasi lebih awal.[14] Hamka juga mencatat dinamika serupa dalam percampuran ajaran Hindu purbakala, animisme lokal (kepercayaan terhadap hantu, mambang, dan roh nenek moyang), dengan nilai-nilai Islam yang mulai meresap, di mana praktik pemujaan terhadap pohon beringin atau penggunaan kemenyan perlahan disesuaikan dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat spiritual di Sumatera kala itu.[31]
Keterkaitan Sisingamangaraja dengan Parmalim
Keterkaitan Raja Sisingamangaraja dengan Parmalim, dapat kita lihat pada paparan Sylvia L. Thrupp di buku Millennial Dreams in Action:
"The last Si Singa Mangaradja is generally regarded as the founder of this sect (Parmalim)... To the pormalim, Si Singa Mangaradja is not merely a messenger of God, he is the living High God himself... In their beliefs and myths the pormalim show many Christian, but no Islamic, influences."[32]
Hubungan religius ini juga diperkuat oleh analisis W.B. Sidjabat yang menyatakan bahwa Sisingamangaraja XII tidak hanya dilihat sebagai pemimpin perang, tetapi juga tokoh spiritual yang memegang teguh kepercayaan asli Batak.[33] Menurut riset historis J. Tideman pada masa itu, sekte ini sangat berakar pada figur Sisingamangaraja sebagai entitas kedewaan pusat. Diinisiasi oleh Guru Somalaing, seorang dukun atau kepercayaan (lijfdatoe) dari Sisingamangaraja XII terakhir, ajaran ini mencampurkan tradisi animisme lokal, serta elemen Kristen dan sedikit elemen Islam, di mana pendoanya kerap menyeru Sisingamangaraja bersandingan dengan Raja Uti sebagai kekuatan ilahiah pelindung mereka.[29]
Fenomena Pasca Gugurnya Sisingamangaraja XII
Meskipun Sisingamangaraja XII gugur pada tahun 1907, pengaruh mistis dinasti ini tidak serta merta hilang. M. Joustra mencatat bahwa segera setelah kematiannya, beredar rumor bahwa Sisingamangaraja tidak benar-benar mati. Hal ini memicu munculnya gerakan-gerakan yang bersifat mesianis (ratu adil) seperti gerakan Parhoedamdam.[5] Tideman (1922) mencatat secara rinci bahwa gerakan eskatologis Parhoedamdam ini, yang menyebar bagai api pada kurun waktu 1917, sangat digerakkan oleh janji-janji spiritual bahwa roh Sisingamangaraja akan kembali untuk membebaskan rakyat dari pajak dan penderitaan kerja paksa (heerendiensten), sehingga pengikutnya melakukan berbagai ritus trance (extase) pada malam hari demi memohon kekebalan (kebal) dan kedamaian dari sang Raja.[29]
Usulan Untuk Meneruskan Gelar Sisingamangaraja
Pasca gugurnya Sisingamangaraja XII, terdapat wacana dari tokoh masyarakat Batak (Porbaringin) agar Karel Buntal Sinambela menjadi Raja Sisingamangaraja yang berikutnya. Sebuah majalah terbitan Den Haag, Het Koloniaal Weekblad, edisi 23 November 1933, tuliskan dialog antara tokoh masyarakat Batak dengan Asisten Residen di Tarutung:
Assistent resident: Met welk doel hebben de porbaringin een rekest gezonden aan den gouverneur-generaal?
De woordvoerder der porbaringin: Om te smeeken, dat de titel van Radja Singa Mangaradja weer worde hersteld en geschonken worde aan diens zoon, radja Boental, die hier reeds aanwezig is.
Ass. resident: Maar dat is onmogelijk. Wij hebben al een radja, n.l. Koningin Wilhelmina.
Woordvoerder: Het is tidak, dat wij Koningin Wilhelmina niet erkennen. Maar Koningin Wilhelmina en de regeering zullen tidak wenschen dat onze adat verloren gaat; zij zullen de adat willen verstevigen. Dan menurut adat Batak, haruslah ada Raja Sisingamangaraja.
Ass. resident: Radja Singa Mangaradja was geen wereldsch vorst, doch een priestervorst.
Woordv.: Hij was tidak alleen een priestervorst, maar hij was juga met wereldsch gezag bekleed. En hij moet tidak alleen een kampong onder zich hebben, want het is van geen beteekenis wanneer de radja porbaringin, als vertegenwoordiger van den Radja Singa Mangaradja, tidak met gezag bekleed zijn. Bij iedere kwestie van beteekenis moeten de porbaringin zijn als vertegenwoordigers van den Radja Singa Mangaradja. Oleh karena itu, Raja Sisingamangaraja adalah seorang pemimpin duniawi. Penguasa yang gagah perkasa, yang diakui oleh bangsa Batak.
Ass. res.: Dat kan tidak, en dat is nu ook tidak urgent. R.K. Boental heeft reeds een betrekking waarmee hij in his onderhoud kan voorzien op een wijze, welke met his behoeften overeenkomt. En daar komt het nu maar op aan.
Woordv.: Wij zijn tidak tevreden gesteld, Toean Besar.
(Terjemahan bebas:Asisten Residen: Untuk tujuan apa Porbaringin mengirimkan petisi kepada Gubernur Jenderal?
Juru Bicara Parbaringin: Untuk memohon agar gelar Raja Sisingamangaraja dikembalikan dan dianugerahkan kepada putranya, Raja Buntal, yang sudah berada di sini.
Asisten Residen: Tapi itu tidak mungkin. Kami sudah memiliki raja yaitu Ratu Wilhelmina.
Juru Bicara Parbaringin: Bukan berarti kami tidak mengakui Ratu wilhelmina. Tapi Ratu Wilhelmina dan pemerintah tidak mau adat istiadat kami hilang; Mereka ingin memperkuat adat. Dan menurut adat Batak, haruslah ada Raja Sisingamangaraja.
Asisten Residen: Raja Sisingamangaraja bukanlah pemimpin duniawi, tetapi pemimpin agama.
Juru Bicara Parbaringin: Dia bukan hanya seorang pemimpin agama, tetapi dia juga memiliki kekuasaan duniawi. Dan ia tidak boleh hanya menguasai satu kampung saja, karena tidak ada gunanya jika porbaringin, sebagai wakil Raja Sisingamangaraja, tidak diberi wewenang. Dalam setiap hal penting porbaringin harus hadir sebagai wakil Raja Sisingamangaraja. Oleh karena itu, Raja Sisingamangaraja adalah seorang pemimpin duniawi. Penguasa yang gagah perkasa, yang diakui oleh bangsa Batak.
Asisten Residen: Hal itu tidak mungkin dilakukan dan tidak mendesak dilakukan untuk saat ini. Karel Buntal sudah memiliki pekerjaan yang memungkinkan dia menghidupi dirinya sendiri sesuai dengan kebutuhannya. Dan itulah yang terpenting untuk saat ini.
Juru Bicara Parbaringin: Kami tidak puas, Tuan Besar.) [34]
Daftar Raja-raja Sisingamangaraja
Referensi
- 1 2 Parlindungan, Ir. Mangaraja Onggang. 2007. Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: terror agama Islam mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833. Yogyakarta: Lembaga Kajian Islam dan Studi (LKiS). hlm. 202.
- 1 2 Situmorang, Sitor. 2009. Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX. Jakarta: Komunitas Bambu.
- ↑ Voorhoeve, P. 1977. Codices Batacici. Leiden: Universitaire Pers Leiden.
- ↑ Brandes, J. 1894. “Dwerghert-verhalen uit den Archipel”. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 37: 27.
- 1 2 3 4 5 Joustra, M. 1926. Batakspiegel. Tweede, Vermeerderde Druk (Met Kaart). Leiden: S. C. van Doesburgh (Uitgaven van het Bataksch Instituut No. 21).
- ↑ Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847. Depok: Komunitas Bambu.
- ↑ Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- ↑ Volz, Wilhelm. 1909. Nord-Sumatra: Band I Die Batakländer. Berlin: Dietrich Reimer (Ernst Vohsen). hlm. 1, 45, 53, 56.
- 1 2 Meerwaldt, J.H. 1894. “Aanteekeningen betreffende de Bataklanden”. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 37: 513–550.
- ↑ Keiter, Friedrich. 1936. “Zivilisierung als kulturbiologisches Experiment I. Beitrag”. Zeitschrift für Ethnologie 67: 294–317.
- ↑ Bühler, A. 1936. “Versuch einer Bevölkerungs- und Kulturanalyse auf den Admiralitätsinseln”. Zeitschrift für Ethnologie 67: 1–32.
- ↑ Tobing, Dra. Tiurma L. 2008. Raja Si Singamangraja XII. Jakarta: Direktorat Nilai Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. hlm. 27-29.
- ↑ Joustra, M. 1926. “De Singa Mangaradja-figuur”. Dalam Gedenkschrift uitgegeven ter gelegenheid van het 75-jarig bestaan van het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, hlm. 211–221. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- 1 2 Heine-Geldern, Robert. 1959. “Le pays de P’i-k’ien, le roi au grand cou et le Singa Mangaradja”. Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient 49(2): 361–404.
- 1 2 3 Kozok, Uli. 2009. Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- 1 2 Tideman, J. 1922. Simeloengoen: Het Land der Timoer-Bataks in zijn vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra. Leiden: Louis H. Becherer. hlm. 290-291.
- ↑ Volz (1909), hlm. 143.
- 1 2 Amrullah, H. Abdulmalik Karim (Hamka). 1950. Sedjarah Islam di Sumatera. Cetakan Kedua. Medan: Pustaka Nasional. hlm. 29-36.
- ↑ Volz (1909), hlm. 180.
- 1 2 Volz (1909), hlm. 202-283.
- ↑ Volz (1909), hlm. 211-212.
- ↑ Joustra (1926), Batakspiegel, hlm. 133-134.
- ↑ Volz (1909), hlm. 119-120, 292-293.
- ↑ Volz (1909), hlm. 331-352, 373-381.
- ↑ Joustra (1926), Batakspiegel, hlm. 301.
- ↑ Joustra (1926), Batakspiegel, hlm. 144-145.
- ↑ Volz (1909), hlm. 310-316.
- 1 2 Bartlett, Harley Harris. 1934. The Sacred Edifices of the Batak of Sumatra. Ann Arbor: University of Michigan Press. hlm. 6-7.
- 1 2 3 4 Tideman (1922), hlm. 36-39.
- ↑ Pleyte, C.M. 1894. Bataksche Vertellingen. Utrecht: H. Honig. hlm. 33.
- ↑ Amrullah (1950), hlm. 23-24.
- ↑ Thrupp, Sylvia L. 1970. Millennial Dreams in Action: Studies in Revolutionary Religious Movements. New York: Schocken Books. hlm. 99.
- ↑ Sidjabat, W.B. 1982. Ahu Si Singamangaraja: Arti Historis, Politis, Ekonomis, dan Religius Si Singamangaraja XII. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
- ↑ Het Koloniaal Weekblad, Orgaan Der Koninklijke Vereeniging "Oost En West". 23 November 1933. No. 47. Den Haag: Studie-Commissie van "Oost en West". hlm. 485-486.

