Dikee PamPanga atau Dike Pam adalah seni tari tradisional masyarakat Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh Pertunjukan tari Diike Pam Panga telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia[1] melalui SK No. 414/P/2022.[2]
Makna Etimologis
Penamaan Dikee Pam berasal dari dua kata, yaitu dikee yang berarti "zikir" atau "doa", dan pam, yang dalam dialek pesisir barat Aceh berarti "jatuh dalam posisi berbaring". Penamaan ini merujuk pada salah satu gerakan khas dalam tarian tersebut yang menampilkan posisi tubuh merebah sebagai bagian dari pertunjukan.[1]
Sejarah
Seni tari Dikee Pam Panga diciptakan pada tahun 1951 oleh Tengku Hamzah[3] di Desa Tuwi Eumpeuk, Kecamatan Panga, Aceh. Pada awalnya seni tari ini hanya ditampilkan dalam rangkaian kegiatan Dikee Molod (pembacaan selawat dari kitab Berzanji untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad). Pada 1978, tarian ini mulai ditampilkan sebagai pertunjukan seni atas inisiatif Tengku. Hanafiah. Sejak itu, Dikee Pam dipentaskan di berbagai acara, termasuk dalam acara perkawinan, acara pemerintah, hingga festival budaya seperti Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Tari Dikee Pam Panga mengandung pesan religius dan moral, serta sebagai media edukasi dan hiburan yang mempererat ikatan sosial masyarakat.[1]
Pelaksanaan pertunjukan
Penari
Tari Dikee Pam Panga ditampilkan oleh 18 orang. Dua orang berperan sebagai pelantun syair (radat). Sementara 16 orang lainnya merupakan penari laki-laki. Dari keseluruhan penari tersebut, dua orang memiliki peran khusus sebagai pengapet yang memimpin formasi dan melantunkan syair pendukung.[1]
Durasi
Lama pertunjukkan bervariasi tergantung dari jenis acaranya. Pada acara pentas atau pertunjukan seni, acara ditampilkan dalam durasi singkat (10–15 menit) dan biasanya hanya menampilkan 8 bagian. Adapun, pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad durasi pertunjukan lebih lama sekitar 2,5–3 jam.[1]
Pola gerak
Pertunjukan tari Dikee Pam Panga memiliki 16 likok atau variasi gerak. Dua bagian yang utama adalah gerakan salam sebagai pembuka dan pam sebagai bagian gerakan berbaring. Formasi penari mencakup pola lingkaran, segitiga, dua baris seperti saf, berbaring dua tiga, berbaring satu, berbaring empat lima, berbaring enam, berbaring empat baris dan berlutut empat baris.[1]
Iringan musik
Tari Dikee Pam Panga menerapakan dua jenis musik, yakni musik internal yang dihasilkan oleh bunyi gerak tubuh penari, serta musik eksternal yang dihasilkan dari alat musik pendukung. Musik internal (syair) yang digunakan dapat berupa vokal, tepuk tangan, siulan, hentakan kaki, petik jari, tepuk dada[4] dan sebagainya. Syair-syair yang dilantunkan umumnya berisi kisah Nabi, cerita rakyat Aceh seperti Cut Putro Baren ataupun syair sindiran dan guyonan sesuai konteks acara. Adapun musik eksternal (rapa’i) yang digunakan berupa alat musik tradisional bansi, saluang, canang, gandang, rabab dan talempong.[1]
Busana
Penari biasanya mengenakan seragam berupa baju, celana panjang, songket, tengkolok, sarung tangan, dan kaus kaki. Seragam dapat disesuaikan dengan permintaan panitia selama tetap memenuhi standar syariat Islam. Selain itu, tari ini juga menggunakan properti berupa bantal kecil sebagai alas lutut.[1]