Pada akhir abad ke-17, para penjelajah termasuk bandeirantes dari São Paulo, dan Portugis menyusuri Sungai Jequitinhonha untuk mencari emas. Setelah beberapa kali gagal, mereka mencapai pertemuan Sungai Pururuca dan Sungai Grande, lalu menemukan sebuah sungai kecil yang mereka anggap kaya emas dan menamainya Tijuco, yang menjadi cikal bakal permukiman awal kota Diamantina. Harapan akan melimpahnya emas tidak terwujud, hingga penemuan berlian pada tahun 1729 oleh Bernardo da Fonseca Lobo mengubah arah perkembangan wilayah tersebut. Berita penemuan ini menarik banyak pendatang dan memicu pesatnya pertumbuhan Arraial do Tijuco pada awal 1730-an, dengan permukiman berkembang sepanjang aliran sungai. Pada 1731, Pemerintah Portugis memerintahkan penutupan aktivitas penambangan, tetapi 1732 penambangan dibuka kembali dengan pembatasan. Kemudian, Real Intendência dibentuk pada 1734 untuk mengawasi eksploitasi berlian, dan pada 1738, sistem kontrak pertambangan diberlakukan, menandai periode kemakmuran sekaligus tekanan berat bagi para penambang. Pada 1821, penduduk Tijuco berhasil mereformasi "Livro da Capa Verde", sebuah aturan yang mengatur kehidupan masyarakat pada masa kolonial. Pada 1938, pusat bersejarah Diamantina ditetapkan sebagai situs yang dilindungi oleh lembaga nasional. Akhirnya, pada akhir 1990-an, UNESCO menetapkan Diamantina sebagai Warisan Budaya Dunia.[2]