Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Dikarenakan tidak ada ciri-ciri yang mendefinisikan rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat secara pasti sebagai subkelompok, penggolongan terbaru telah ditinggalkan.Referensi: K. Alexander Adelaar & Nikolaus Himmelmann. 2005. The Austronesian languages of Asia and Madagascar: A historical perspective, pp. 1-42, London, Routledge ISBN0-7007-1286-0
Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Dialek Sumenep dijadikan acuan standar bahasa Madura, karena pada masa lalu Sumenep merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura, serta juga dianggap sebagai 'bahasa paling halus' dibandingkan dialek lainnya.[4]
Sejarah
Bahasa Madura memiliki beberapa dialek. Namun, di antara dialek-dialek tersebut, dialek Madura Timur, yaitu Sumenep, dianggap sebagai rujukan baku untuk bahasa Madura. Standardisasi ini telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Selain itu, bahasa Madura Timur (Sumenep) memiliki tingkatan bahasa yang paling tinggi. Seperti halnya tingkatan bahasa engghi-bhunten yang dulunya merupakan alat komunikasi antara rakyat dengan rajanya, dan hal itu berasal dari Keraton Sumenep.[4]
Pada masa kolonial Belanda hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (besluit) Kerajaan Belanda Nomor 44 Pasal 1, tertanggal 21 September 1892, dan Dekrit Hindia Belanda: Staatblad Hindia Belanda 1893, Pasal 6: Bahwa bahasa Madura Timur atau bahasa Madura Sumenep adalah bahasa Madura baku.[4]
Kosakata
Kosakata kekerabatan
Sapaan berbahasa Madura di Keraton Sumenep meliputi sapaan yang digunakan dalam kosakata kekerabatan berikut ini.[5]
Glosa
Dialek Sumenep
orang tua
orèng tuwâ
kakek
kaè
nenek
nyaè
buyut
juju’
anak
ana’
cucu
kompoy
cicit
pèyo’
piut
karèppèk
Kosakata warna
Satuan kosakata warna dalam bahasa Madura Sumenep umumnya berbentuk kata untuk menandai warna utama dan frasa untuk menandai warna turunan. Warna primer terdiri dari 6 warna dasar yang memiliki tatanan hierarkis implisit, serta 3 warna non-dasar.[6]
Glosa (warna dasar)
Dialek Sumenep
putih
potè
hitam
celleng
merah
mèra
hijau
bhiru (ḍâun)
kuning
konèng
cokelat
sokklat
Glosa (warna non-dasar)
Dialek Sumenep
biru
bhiru
ungu
bungo
abu-abu
bu-abu
Ciri khas
Perbedaan leksikon pada dialek Sumenep dengan dialek lainnya, misalnya dipakainya kata jang-ghujangan 'tidur-tiduran', aoroq 'pijat', sedangkan pada dialek Pamekasan digunakan kata dung-tedungan 'tidur-tiduran' dan apecet 'pijat'. Sedangkan perbedaan fonologis yang diketahui pada dialek Sumenep misalnya kata baqariq 'kemarin' dan ban 'dan', sedangkan pada dialek Bangkalan digunakan kata bariq 'kemarin' dan biq 'dan'. Selain itu, intonasi pada dialek Sumenep juga terdengar dipakainya ritme yang memanjang pada suku akhir kata dalam kata akhir tuturan.[7]
Dialek Sumenep mempunyai kebiasaan atau ciri memperpanjang ucapan kata pada bagian akhir, umumnya pada kata yang berakhir dengan vokal, seperti ghaneko disebut ghanekoo.[2]
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
12Zainudin, Sodaqoh (1978). Bahasa Madura(PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)