Pemikiran
Derrida sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan ahli bahasa Ferdinand de Saussure.[2] Buku pertama Derrida berasal dari proyeknya menerjemahkan karya Husserl yang berjudul The Origin of Geometry.[2] Di dalam bukunya yang berjudul Of Grammatology, Derrida menyampaikan pandangannya terhadap pemikiran Saussure mengenai definisi bahasa.[2] Ia mengatakan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa.[2] Logosentrisme dan fonosentrisme adalah paham yang berusaha dikritik Derrida.[2] Menurutnya, kelemahan logosentrisme adalah menghapus dimensi material bahasa, dan kelemahan fonosentrisme adalah menomorduakan tulisan karena memprioritaskan ucapan.[2]
Dekonstruksi
Derrida menjelaskan dekonstruksi dengan kalimat negasi.[3] Menurutnya dekonstruksi bukan suatu analisis dan bukan kritik, bukan suatu metode, bukan aksi maupun operasi.[3] Singkatnya, dekonstruksi bukanlah suatu alat penyelesaian dari “suatu subjek individual atau kolektif yang berinisiatif dan menerapkannya pada suatu objek, teks, atau tema tertentu”.[3] Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas.[3] Derrida mengadaptasi kata dekonstruksi dari kata destruksi dalam pemikiran Heidegger.[4] Kata dekonstruksi bukan secara langsung terkait dengan kata destruksi melainkan terkait kata analisis yang secara etimologis berarti "untuk menunda"-sinonim dengan kata men-dekonstruksi.[4] Terdapat tiga poin penting dalam dekonstruksi Derrida, yaitu: pertama, dekonstruksi, seperti halnya perubahan terjadi terus-menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan; kedua, dekonstruksi terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks; ketiga, dekonstruksi bukan suatu kata, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subjek interpretasi.[3]
Différance
Derrida menunjukkan kelemahan dari ucapan untuk mengungungkapkan makna dengan menggunakan kata différance, suatu terminologi yang sebenarnya tidak terdapat dalam khazanah bahasa Prancis.[3] Differance berasal dari kata difference yang mencakup tiga pengertian, yaitu:[5]
- to differ—untuk membedakan, atau tidak sama sifat dasarnya;
- differe (Latin)-- untuk menyebarkan, mengedarkan;
- to defer—untuk menunda.
Dalam pengucapannya, tidak terdengar perbedaan, tetapi perbedaan pemakaian huruf ‘a’ untuk mengganti huruf ‘e’ hanya akan terlihat dalam tulisan.[5] Hal ini dilakukan Derrida untuk menunjukkan peleburan makna dari tiga pengertian dalam kata difference yang tidak dapat dilakukan oleh logosentrisme dan fonosentrisme.[5] Melalui tulisan terjadi otonomisasi teks.[5] Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas.[3]
Menurut Derrida bahasa bersumber pada teks atau “Tulisan”.[6] Tulisan adalah bahasa yang maksimal karena tulisan tidak hanya terdapat dalam pikiran manusia, tetapi konkret di atas halaman.[6] Tulisan memenuhi dirinya sendiri karena Tulisan terlepas dari penulisnya begitu ia berada di ruang halaman.[6] Ketika dibaca, Tulisan langsung terbuka untuk dapat dipahami oleh pembacanya.[6]
Pshyche
Pada tahun 1987, Derrida mengeluarkan kumpulan esainya dalam teks yang berjudul Pshyche.[2] Dasar dari risalah ini adalah untuk menyatakan seberapa besar kemungkinan untuk membicarakan (yang Lain).[2] Menurut Derrida, sikap yang tepat terhadap (yang Lain) adalah menunggu, menginginkan, dan bersiap bagi masa depan, yaitu dari mana (yang lain) itu berasal.[2] (Yang Lain) tidak berasal dari masa kini.[2] Untuk menjelaskan mengenai sikap menunggu dan bersiap, Derrida kembali mengutip dari tulisan sebelumnya yang berjudul structure dan Sign and Play.[2] (Yang Lain) itu datang sebagai bencana, tidak peduli baik atau buruk, kedatangannya akan terlalu asing untuk dihasilkan oleh realitas.[2]
Khora
Khora adalah salah satu tulisan Derrida yang ditulis untuk memperingati Jean-Pierre Vernant, sejarawan strukturalis dari Yunani.[2] Khora adalah suatu kata yang muncul dalam tulisan yang berjudul Timaeus, salah satu bagian dari tulisan trilogi Plato yang berjudul The Republic.[2] Kata ini dikaitkan dengan bagian yang membahas kosmologi dan asal dari alam semesta.[2] Makna khora menurut Plato adalah tempat yang kosong yang tidak dapat berisi, tetapi memiliki kecenderungan untuk memiliki isi.[2]