Pada masa kerajaan Tabanan yaitu Kerajaan Asingga Sana terjadi Puputan Badung melawan Belanda tahun 1906 yang mengakibatkan Raja beserta keluarga Raja disekap dan diasingkan ke Lombok dan Puri Tabanan dihancurkan Belanda. Singkat cerita, keluarga raja dikembalikan ke Tabanan pada tahun 1930 dan keluarga raja melihat sudah tidak ada puri, dan mulailah ia membangun puri beserta rakyat disebelah barat puri lama yaitu Gedung BPD dan Gedung Maria. Karena Belanda tetap ikut campur tangan di Tabanan mau tidak mau pemerintahan bergeser dari tangan raja ke pemerintahan Belanda.
Di bekas tempat Pesanggrahan Ida Dalem Klungkung, sesuhunan Bali dan Lombok, dibangunlah gedung perkantoran. Salah satu kantor Punggawa di awal tahun 1943 dan tetap digunakan sebagai pusat pemerintahan sampai sekarang. Letak areal kantor yang strategis dan dengan perjalanan waktu akhirnya salah satu bangunan di areal tersebut dijadikan Kantor Desa Kota tepat di timur laut disamping Pelinggih Jero Dalem Ped, yang terdiri dari beberapa "Satak" yaitu:
Satak Delod Rurung
Satak Lebah
Satak Dukuh
Sekitar tahun 1980, bendesa kota dipecah menjadi tiga yaitu:
Satak Delod Rurung menjadi Desa Delod Peken yang letaknya di areal Kantor Desa Delod Peken sekarang.
Satak Lebah menjadi Desa Dajan Peken yang letak kantornya di Jambe.
Satak Dukuh menjadi Desa Dauh Peken yang letak kantornya di Tegal Belodan.[5]
Pemerintahan
Secara administratif Desa Delod Peken terbagi atas Tujuh Banjar Dinas/Dusun meliputi:
1. Banjar Dinas Delod Rurung
2. Banjar Dinas Grokgak Gede
3. Banjar Dinas Grokgak Tengah
4. Banjar Dinas Sakenan Blodan
5. Banjar Dinas Sakenan Baleran
6. Banjar Dinas Pangkung
7. Banjar Dinas Taman Sari
Demografi
Penduduk desa Delod Peken sampai dengan tahun 2016 berjumlah 10.610 jiwa terdiri dari 5.323 laki-laki dan 5.287 perempuan dengan sex rasio 100,68.[1]