Dara-laut cina (Thalasseus bernsteini) adalah burung laut yang termasuk dalam famili Laridae.[2] Burung ini merupakan burung laut pengembara, yang habitat aslinya di pulau-pulau terpencil Tiongkok saat berkembang biak. Lokasi terbaru yang terdeteksi sebagai tempat bertelur dan berbiak adalah di Zhejiang dan ProvinsiFujian.[3]
Ciri-ciri
Dara-laut cina sekilas mirip dengan kerabat terdekatnya, yaitu dara-laut jambul. Namun ada ciri-ciri khusus yang bisa diamati untuk membedakannya. Saat berkumpul bersama, dara-laut cina nampak lebih besar dari dara-laut jambul. Ukurannya sekitar 30-40 cm, tubuhnya ramping dan berwarna putih. Sayapnya panjang dan meruncing berwarna abu-abu. Paruh dara-laut cina berwarna jingga dengan ujungnya berwarna hitam.[4]
Penyebaran
Habitat asal dara-laut cina adalah di pulau-pulau terpencil pesisir timur Tiongkok. Wilayah ini mereka gunakan untuk bertelur dan berkembang biak. Setelah itu mereka mengembara ke wilayah lainnya seperti Taiwan, Filipina, Thailand, Malaysia dan Indonesia.
Di Indonesia, dara-laut cina terpantau pertama kali di Kao, Halmahera, pada masa Hindia Belanda tahun 1861. Setelah itu tidak terlihat dalam rentang waktu yang lama.[5]
Penampakan dara-laut cina di Indonesia terpantau berturut-turut sebanyak 4 kali di Pulau Seram, yaitu pada tahun 2010, 2014, 2015 dan 2016. Penampakan di Pulau Seram ini adalah saat burung dara-laut cina berada dalam kelompok dara-laut jambul.[4] Kedua jenis burung ini dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.[6]
Populasi
Burung dara-laut cina termasuk spesies langka yang terancam punah. Saat ini jumlah individu dewasa kurang dari 100 ekor.[6] Pembangunan besar-besaran di daerah pantai dan pariwisata serta alih fungsi lahan basah pesisir menjadi ancaman terhadap habitat aslinya. Pencemaran laut dengan tumpahan minyak dan gangguan manusia terhadap telurnya turut memperparah keadaan.
Burung ini pertama kali ditemukan di Kao, Halmahera, Maluku Utara pada 22 November 1861 melalui spesimennya. [5] Baru sekitar tahun 2000, burung ini ditemukan lagi di lepas pantai Provinsi Fujian, Tiongkok, sekitar tahun 2000.[5]
Sejak jenis burung ini ditemukan kembali, diperkirakan populasinya tak lebih dari 50 individu dewasa.[5] Populasinya mulai meningkat setelah Steve Kress dari National Audubon Society memperkenalkan metode baru yang membuat kawanan burung ini bersarang di Pulau Tiedun Dao, hasilnya kurun 2014-2015 sekitar 29 anakan dara-laut cina menetas di pulau tersebut. Kini, diperkirakan populasi globalnya telah meningkat menjadi 70-100 individu dewasa.[5]
Sementara itu di Indonesia, burung ini kembali ditemukan pada 4 Desember 2010 di perairan Pulau Seram bagian utara. [4]Dara-laut Cina di Indonesia teramati berada di dalam kumpulan dara-laut jambul yang sedang mencari makanan di bebatuan pantai.[4]
Pertengahan Januari 2016, seekor dara-laut cina dewasa dan seekor dara-laut cina remaja terlihat kembali di perairan dekat Pulau Seram oleh tim survei dari BirdLife Asia.[4]