Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Danurejo VII (VI) di jv.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Kangjeng Pangeran Harya Hadipati Danurejo VII (O Jawa: Danureja VII) adalah seorang patih di Kesultanan Yogyakarta. Sebelum diangkat menjadi patih di Keraton Yogyakarta, ia bernama Kangjeng Raden Adipati Yudhonegoro III (O Jawa: Yudhanegara III), putra dari Kangjeng Raden Adipati Yudhanegara II (KPHH Danureja VI) dan GKR Hangger. Danureja VII menjabat sebagai patih dari 1 Maret 1912 sampai wafat pada 15 Oktober 1932.[butuh rujukan]
Selama menjabat, Patih Danureja VII juga merangkap sebagai seniman andalan. Patih Danureja VII kemudian menjadi pelopor pagelaran wayang orang yang dipentaskan di luar keraton yang berbeda dengan pementasan di dalam kraton serta terkenal karena pernah mengadaptasi salah satu lakon dari wiracarita agung Ramayana yang diberi nama Langen Mandrawanara.[1] Ia juga menciptakan gamelan yang diberi nama Kangjeng Kyai Beling. Patih Danureja VII menjabat dalam masa dua kepemimpinan, dari masa Sultan Hamengkubuwana VII sampai Sultan Hamengkubuwana VIII.
Danureja VII dikebumikan di Makam Cendhanasari, Dusun Wonocatur, Banguntapan, Bantul bersebelahan dengan istrinya, GKR Hayu (putri ke-36 dari Sultan Hamengkubuwana VII).