Dagelan MataramDagelan sebagai selingan dalam pementasan ketoprak
Dagelan Mataram adalah pertunjukan teater tradisi dalam bingkai komedi berbahasa Jawa yang berakar dari lingkungan keraton Yogyakarta, tepatnya pada era Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Selanjutnya, kesenian Dagelan dipopulerkan oleh pelawak seperti Basiyo di RRI Yogyakarta. Lawakan ini khas karena sifatnya yang spontan, sederhana, dan sering kali menggunakan plesetan untuk mengkritik sosial secara halus, serta diiringi musik tradisional Jawa.[1]
Eksistensi
Pada masa awal kemunculannya, Dagelan Mataram pelayan istana)para di lingkunok ini dikenal dengan julukan abdi dalem oceh-ocehan karena peran utama mereka adalah menyediakan hiburan dan tawa bagi kalangan keraton. Di antara abdi dalem tersebut ada yang kemudian terkenal, seperti Lebdojiwo, Jayengsuwandi, dan Jayengdikoro. Mereka tampil spontan dan improvisatif tanpa naskah. Genre komedian dengan model humor ini kemudian berlanjut sampai ke masa Basiyo.[2]
Dagelan Mataram tetap mempertahankan relevansi dan kekuatannya sebagai humor tradisional Jawa ditengah pesatnya perkembangan komedi modern di Indonesia. Meskipun pada awalnya kurang mendapat perhatian, bentuk humor dagelan memiliki karakteristik khas yang bersumber dari kultur Mataram, khususnya di wilayah Yogyakarta.[3]
Kekuatan utama Dagelan Mataram terletak pada kemampuannya untuk mengusung humor yang kompleks, berakar pada persoalan dan dinamika perubahan masyarakat Jawa dalam berbagai aspek. Spirit genre ini melampaui sekadar hiburan (tontonan), tetapi juga berfungsi sebagai panduan (tuntunan) dan sarana membangun tatanan sosial (tananan).[2] Dagelan Mataram mengandalkan teknik plesetan, yang tidak terbatas pada permainan kata, melainkan juga melibatkan plesetan atau pembalikan situasi. Bentuk kritik sosial yang tersirat melalui humor seperti inilah yang telah mengakar kuat dan menjadi ciri khas di kalangan masyarakat Yogyakarta.[3]
Narasi
Narasi yang disampaikan dalam Dagelan Mataram dilakukan secara berdialog dan bersifat natural, sehingga tampak seperti dialog keseharian para pemain. Lawakan-lawakan yang disampaikan juga merupakan kebiasaan-kebiasaan para pemain yang sudah terbentuk dalam keseharian.[4]
Tata busana
Aspek visual pertunjukan Dagelan Mataram secara konsisten mengadopsi tata busana tradisional Jawa. Penggunaan kostum ini berfungsi sebagai upaya mempertahankan dan menjunjung tinggi identitas lokal tradisional Yogyakarta.[4] Pemeran pria mengenakan busana lengkap yang terdiri dari surjan, jarik, selop, blangkon, dan keris. Sementara pemeran dari wanita mengenakan kebaya dan jarik, serta menata rambut dalam bentuk sanggul tekuk.[4]