Ini adalah daftar dari Dinasti Arab, kekhalifahan Syiah dari Kekhalifahan Fathimiyah (909–1171). Khalifah Syiah juga dianggap sebagai Imam pada saat bersamaan di cabang Isma'ili dari ajaran Syiah.
Klaim dirinya sebagai perpecahan Qaramitah pada 899. Meninggalkan Salamiyah pada 903, dan menetap di Sijilmasa pada 905 saat Abu Abdallah al-Shi'i menggulingkan Aghlabiyyah dan mendirikan Kekhalifahan Fathimiyah pada 909. Kuasa Fathimyah atas Ifriqiyah dikonsolidasikan dan diperluas hingga Sisilia, tetapi tiga percobaan untuk menginvasi Mesir dan menyerang Abbasiyah gagal.
Anak tunggal dari al-Mahdi bi'llah, kekuasaannya didominasi pemberontakan Khawarij Abu Yazid, yang mengurangi wilayah Fathimiyah hingga ke kota istana mereka, al-Mahdiya.
Jenderalnya Jawhar menduduki mayoritas wilayah Maghreb untuknya, dan melanjutkan penaklukan Fathimiyah atas Mesir pada 969. Di 973, al-Mu'izz memindahkan kediaman Fathimiyah dan ibukota ke kota baru Kairo. Ziriyyah tinggal di Ifriqiyah sebagai Wakil Raja Fathimiyah.
Menyelesaikan perdamaian damai dengan Bizantium pada 1000. Dia adalah tokoh relijius yang dihormati karena pengetahuan Illahinya yang luas dan pribadi yang menyenangkan. Dia menghilang, dan kemungkinan dibunuh saat terjadi penyusupan malam.
Khalifah Fathimiyah paling lama berkuasa, masa kepemimpinannya terjadi peningkatan instablitas politik dan dinasti hampir runtuh di tangan panglima perang Sunni, Nasir al-Dawla ibn Hamdan. Jenderal Armenia Badr al-Jamali mengembalikan keadaan dan menyelamatkan dinasti, tetapi mengangkat dirinya sebagai diktator militer ("wazir pedang") yang lepas dari pengaruh Khalifah.
Kemungkinan adalah anak termuda dari al-Mustansir, dia dibesarkan untuk tahta oleh anak Badr dan penerusnya, al-Afdhal Syahansyah. Hal ini menyebabkan pemberontakan dan kematian kakaknya Nizar, dan memecah gerakan Isma'ili menjadi cabang Musta'li dan Nizari. Seorang boneka dari al-Afdal, pada masa kekuasaannya terjadilah Perang Salib pertama.
Dibesarkan untuk naik tahta oleh al-Afdal, yang merupakan pamannya dan menjadi ayah mertua. Hingga pembunuhan al-Afdal pada 1021. Kekuasaannya melihat kekalahan beruntun di kota-kota pesisir di Levant dari para Salibis.
Interregnum karena al-Amir meninggal tanpa suksesi yang stabil selain bayi al-Tayyib, yang meninggal atau dibunuh segera setelahnya. Wakil Abd al-Majid (calon al-Hafiz) dan perampasan Kutayfat.
Cucu tertua yang masih hidup dari al-Musta'li, dia menjadi wakil Raja pasca kematian al-Amir, dan mengklaim kekhalifahan setelah pembunuhan Kutayfat. Suksesi iregularnya membuat perpecahan dari cabang Isma'ilisme Musta'li menjadi Hafizi dan Tayyibi. Masa kekuasaannya relatif damai di luar negeri, tetapi penuh gejolak di dalam negeri, dimana dia harus berhadapan dengan wazir yang kuat bahkan ambisi dari anaknya sendiri. Dia merupakan Khalifah Fathimiyah terakhir yang memiliki otoritas kekuasaan tertinggi atas pemerintahan.
Era kekuasaannya menandai awal dari akhir negata Fathimiyah: sejak eranya para penerus khalifah adalah anak yang masih dibawah umur, yang disingkirkan dan hanya sebagai boneka
Dibesarkan untuk tahta pada usia lima setelah pembunuhan ayahnya oleh Wazir Abbas bin Abi al-Futuh, dan menghabiskan seluruh hidupnya sebagai boneka dari penerus Abbas yaitu Tala'i bin Ruzzik. Mengalami serangan epilepsi, al-Fa'iz meninggal pada usia sebelas, dan keponakannya, al-Adid, Khalifah Fathimiyah terakhir, menggantikannya.
Al-Adid, penguasa yang masih anak-anak, menjadi boneka dari tokoh yang kuat ketika Kekhalifahan Fathimiyah runtuh. Salahuddin Ayyubi mengambil alih kekuasaan, membubarkan rezim dan menekan Isma'ilisme.
Catatan
↑Meskipun tahun 1035 disebutkan oleh beberapa sejarawan sebagai tahun saat dia naik tahta,[2][3] tahun 1036 lebih sering disebutkan, khususnya oleh para cendekiawan Muslim.[4][5]
↑Daftary, Farhad (2011). The Ismā'īlīs: Their History and Doctrines (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2. ed., repr. with corr). New York, NY: Cambridge Univ. Press. hlm.250–252. ISBN978-0-521-61636-2.