Artikel ini membutuhkan penyuntingan lebih lanjut mengenai tata bahasa, gaya penulisan, hubungan antarparagraf, nada penulisan, atau ejaan. Anda dapat membantu untuk menyuntingnya.
Nama Curug Ngebul memiliki dua versi sejarah, yaitu terdapat mitos yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari sejarah ketika air curug tiba-tiba berasap ketika digunakan mandi oleh seorang putri.
Versi lain, mengatakan bahwa terdapat legenda dua bersaudara yang tragis. Legenda yang mengisahkan dua saudara kandung, kakak beradik, yang berselisih karena perebutan harta waris dan berujung sang kakak dikhianati oleh adiknya. Pertikaian memuncak dan menyebutkan kakak beradik tersebut bertarung di dekat curug hingga terjatuh. Sejak saat itu, ketika seseorang membicarakan harta warisan, kabut misterius akan muncul.[2]
Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari kisah cinta tragis seorang pemuda bernama Jaka Suralaya yang pandai memanah tidak sengaja melihat perempuan cantik bernama Nyi Dewi Upas, kemudian mereka jatuh cinta, tetapi terhalang aturan adat. Namun, mereka tetap menikah hingga desa tersebut terkena kutukan serta malapetaka dan menimbulkan keributan yang mengakibatkan Jaka Suralaya terbunuh. Nyi Dewi Upas yang merasa sedih pergi memanjat tebing, ia menjatuhkan tubuhnya, kemudian berubah menjadi air terjun yang terus mengeluarkan asap.[3]
Namun, ada pula versi ilmiah yang membuat curug tersebut dinamakan Curug Ngebul karena air yang jatuh dari ketinggian 30 kilometer dan menerpa batu-batu di dasar kolam menimbulkan asap sehingga terlihat berasap atau ngebul. Maka, curug tersebut diberi nama Curug Ngebul.[4]
Lokasi
Curug Ngebul terletak di Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Curug Ngebul berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan air laut (mdpl).
Panorama
Panorama Curug Ngebul masih bersih, tidak ada sampah serta udara asli pegunungan. Dicirikan dengan tebing yang tinggi menjulang membatasi daerah sekitar. Sekitar curug, banyak tempat lain yang bisa dikunjungi seperti Gua Peteng, bebatuan unik seperti Batu Kurung, Talaga Wastu, dan pemandian buatan yang mirip sandaran perahu di dermaga. Tersedia beberapa fasilitas penunjang seperti toilet, gazebo, musholla dan beberapa warung.[5]
Aksesibilitas
Curug Ngebul berada sekira 72 Km dari pusat Kabupaten Cianjur atau berkendara kurang dari 3 jam ke arah selatan. Akses menuju Curug Ngebul dapat menggunakan kendaraan roda empat. Perjalanan menuju curug dapat dimulai dari pusat Kabupaten Cianjur dan mengambil rute jalan raya besar Cianjur-Sukanagara. Dilanjutkan menuju Kecamatan Pagelaran. Sesampainya di Kampung Cipari Desa Sindangkerta belok kiri dilanjutkan menggunakan roda dua menuju Desa Bunijaya. Kemudian dari Kampung Rawaroso dilanjutkan lagi dengan jalan kaki menelusuri jalan setapak sekitar 45 menit. Kondisi jalan cukup baik untuk menuju Pagelaran, tetapi jalan ke air terjun yang dilalui masih cukup susah.