Kelenteng Cu An Kiong (h=慈安宮; p=cí ān gōng; harfiah: Istana Ketenteraman dan Welas Asih) merupakan kelenteng tertua di Kota Lasem dan secara tradisi lokal sering disebut sebagai salah satu kelenteng tertua di Pulau Jawa.[2][3]
Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di bagian belakang dan tidak terbuka untuk umum, mengikuti prinsip hierarki ruang sakral dalam kosmologi keagamaan Tionghoa.
Pada salah satu pintu kelenteng, pada kedua daun pintunya digambarkan dua tokoh Tionghoa-Lasem yang mengajarkan teknik membatik kepada penduduk setempat, yaitu Bi Nang Un dan istrinya, Na Li Ni.[3]
Sejarah
Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di kawasan hutan jati di sekitar Sungai Babagan Lasem sejak abad ke-15.[4] Menurut tradisi setempat, Kelenteng Cu An Kiong dibangun menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Dua tiang jati utama sebagai struktur penyangga hingga kini belum pernah diganti dan dianggap sebagai bagian tertua dari bangunan.
Permukiman di sekitar kelenteng berkembang pesat dan kemudian membentuk inti kawasan Kota Lasem modern.[5]
Sebagian besar pendatang awal Tionghoa bukan berasal dari kalangan terpelajar dan banyak yang buta huruf, sehingga catatan tertulis mengenai pembangunan awal kelenteng relatif terbatas. Setelah kondisi ekonomi membaik, kelenteng dipugar dengan mendatangkan ahli ukir dari Guangdong. Beberapa di antaranya kemudian menetap di Kabupaten Kudus dan mengajarkan keterampilan seni ukir kepada masyarakat lokal. Salah satu tokoh terkenal adalah Tiang Sun Khing, yang namanya diabadikan menjadi Desa Sunggingan, sementara Tee Ling Sing dikenal luas sebagai Kyai Telingsing.[4]
Pada masa penjajahan Belanda, kelenteng ini pernah dijarah sehingga banyak arsip dan benda bersejarah hilang. Berdasarkan catatan yang ditemukan di museum di Den Haag, terdapat peta Lasem bertahun 1477 yang telah mencantumkan lokasi kelenteng ini.[1][5] Namun, sumber lain menyebutkan kemungkinan pendirian pada tahun 1335 Masehi.[1]
Renovasi besar terakhir dilakukan pada tahun 1838 untuk meninggikan lantai bangunan yang kerap terendam banjir akibat letaknya yang berada tepat di depan Kali Lasem. Menurut tradisi lisan, Laksamana Zheng He pernah mendarat di kawasan ini. Pada masa lalu, Kali Lasem bermuara langsung ke Laut Jawa dan berfungsi sebagai jalur pelayaran penting dengan dermaga yang kini telah hilang.[3]
Arsitektur dan tata ruang
Kelenteng Cu An Kiong menampilkan ciri arsitektur kelenteng Tionghoa selatan dengan denah memanjang dan orientasi ke arah dalam. Pola ini mencerminkan konsep kosmologi Tionghoa yang memaknai ruang sebagai perjalanan spiritual dari area profan menuju pusat sakral.[6]
Struktur rangka kayu jati, sistem sambungan tradisional tanpa paku, serta ragam hias naga dan flora mitologis menunjukkan kesinambungan teknik bangunan Tionghoa yang beradaptasi dengan material lokal Jawa.[7]
Peran dalam pembentukan kawasan Lasem
Dalam kajian sejarah perkotaan, Cu An Kiong dipandang sebagai titik orientasi awal terbentuknya Pecinan Lasem. Kedekatannya dengan sungai menegaskan fungsi kelenteng sebagai pusat keagamaan, sosial, dan ekonomi komunitas Tionghoa pesisir.[8]
Kajian akademik dan pelestarian
Kelenteng Cu An Kiong menjadi objek penelitian lintas disiplin, termasuk sejarah, antropologi, dan arsitektur. Sejumlah karya ilmiah yang tersimpan dalam **Petra Christian University Repository** membahas kelenteng ini sebagai contoh penting akulturasi budaya Tionghoa–Jawa di pesisir utara Jawa.
Dalam konteks pelestarian, Cu An Kiong termasuk bagian dari kawasan heritage Lasem yang dijaga secara swadaya oleh komunitas setempat.[9]
Kultur populer
Kelenteng Cu An Kiong menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar film Ca-bau-kan (2002).[1]