Katolik
Kesombongan, atau kecongkakan, adalah dosa pokok yang pertama dalam "Tujuh dosa pokok" sebagaimana tercantum di Katekismus Gereja Katolik (KGK) #1866. Kesombongan adalah permulaan dosa (Sirakh 10:13) yang diakibatkan oleh manusia pertama (Roma 5:12); sehingga dosa kesombongan menyebabkan dosa-dosa lain, atau dosa-dosa pokok lainnya.
Arti kesombongan
Santo Thomas Aquinas berpendapat bahwa kesombongan adalah suatu perasaan di mana manusia menilai dirinya lebih dari kenyataannya; kehendaknya sudah berlawanan dengan nalar dengan mengharapkan sesuatu yang tidak wajar, sehingga kesombongan merupakan dosa.[6] Dengan bahasa yang lugas dan berbeda, Santo Yohanes Maria Vianney menggambarkan orang yang sombong sebagai orang yang haus pujian, orang yang menunjukkan kerendahan hati palsu. Menurutnya, seseorang yang sombong selalu memperolok dirinya sendiri dengan tujuan agar orang lain semakin memujinya. Semakin seseorang yang sombong merendahkan dirinya, semakin banyak ia mengharapkan puji-pujian atas kesia-siaannya yang menyedihkan itu. Orang yang sombong memenuhi khayalannya dengan segala yang telah dikatakan orang untuk memuji dirinya sendiri, dan dengan segala daya upaya berusaha untuk memperoleh lebih banyak pujian lagi karena ia tidak pernah puas dengan pujian.[7]
Jenis kesombongan
Santo Gregorius Agung mengkategorikan kesombongan menjadi 4 jenis:[6]
- Merasa bahwa kebaikannya berasal dari dirinya sendiri
- Merasa bahwa kebaikannya berasal dari Tuhan dan karena jasanya
- Membanggakan sesuatu yang tidak dimilikinya
- Memandang rendah orang lain dan merasa sebagai satu-satunya pemilik dari apa yang dimilikinya
Dua belas tangga kesombongan
Secara rinci Santo Bernardus dari Clairvaux menyusun "Dua belas tangga kesombongan", atau "Dua belas tahap kesombongan", sebagai kebalikan "Dua belas tahap kerendahan hati" dari Santo Benediktus yang tercantum dalam Peraturan Santo Benediktus.[8] St. Thomas Aquinas juga menggunakan karya St. Bernardus tersebut dalam penjelasan mengenai dosa pokok kesombongan dalam karya terbesarnya, Summa Theologia.[6] Sebenarnya tahapan-tahapan ini secara khusus ditujukan kepada para rahib, tetapi secara umum dapat diterapkan juga untuk kaum awam.
| 12 Tingkat Kesombongan |
12 Tingkat Kerendahan Hati |
| I. | Rasa ingin tahu akan segala sesuatu | XII. | Penyangkalan kehendak diri dalam kebersahajaan sikap tubuh |
| II. | Pikiran sembrono, senang bicara yang tidak penting | XI. | Berbicara yang terkendali & tenang |
| III. | Kegembiraan & gelak tawa di luar kewajaran | X. | Pantang tertawa berlebihan, cukup tertawa ringan |
| IV. | Suka membual & banyak bicara | IX. | Hanya berbicara jika diminta |
| V. | Suka menonjolkan diri supaya tampak suci | VIII. | Memandang diri tidak ada hak istimewa di masyarakat, taat peraturan |
| VI. | Suka dipuji, merasa lebih suci dibanding orang lain | VII. | Merasa diri lebih berdosa dibanding orang lain, dan menyatakannya |
| VII. | Merasa dapat melakukan segala sesuatu di atas kemampuannya | VI. | Memandang diri tidak layak untuk menerima atau melakukan segala hal |
| VIII. | Pembenaran diri, merasa tidak berdosa | V. | Mengaku dosa |
| IX. | Tidak jujur dalam pengakuan dosa karena takut silih yang berat | IV. | Sabar dan tetap taat peraturan dalam saat sulit |
| X. | Pemberontakan terhadap peraturan dan atasan yang berwenang | III. | Ketaatan terhadap peraturan dan atasan yang berwenang |
| XI. | Berbuat dosa dengan bebas | II. | Keinginan untuk menekan kehendak atau kepentingan diri |
| XII. | Terbiasa berbuat dosa | I. | Takut akan Tuhan dengan kewaspadaan terhadap dosa |
Kerendahan hati XII, mungkin, adalah kerendahan hati sempurna; sementara Kesombongan XII berpotensi untuk melawan dan meninggalkan Allah sepenuhnya. Dari 12 tingkatan kesombongan dapat dilihat bahwa kejatuhan manusia dalam kebiasaan berdosa (XII) diawali dari sikap yang tampak sepele, yaitu rasa ingin tahu akan berbagai hal (I) --khususnya keinginan mata. Kejatuhan manusia pertama, yang menyebabkan dosa asal, berawal dari rasa ingin tahu Hawa dengan memandang yang tidak semestinya sehingga membiarkan dirinya dikuasai godaan (Kejadian 3:1-24).[9] Kesombongan dalam suatu tingkat tertentu dapat diatasi dengan kerendahan hati yang adalah lawannya, dalam tingkat yang sejajar pada tabel; contohnya jika sudah suka membual dan banyak bicara (Kesombongan IV), diatasi dengan tindakan hanya berbicara jika diminta (Kerendahan hati IX).
Hubungan dengan Tiga Kebajikan Ilahi
Harapan adalah penantian dengan penuh kepercayaan akan berkat ilahi dan pandangan Allah yang membahagiakan, tujuan hidup semua orang beriman; merupakan salah satu dari tiga kebajikan teologal/ilahi—selain iman dan kasih.[10]: 2090 Seseorang dapat gagal mencapai harapan karena kesombongan (dalam hal ini "presumsi") membuat ia melakukan yang tidak semestinya, sehingga kasih dan imannya gugur dalam perjalanan hidupnya. Sehubungan dengan harapan, KGK mengklasifikasi kesombongan ini menjadi 2 macam:[10]: 2092
- Seseorang yang menilai kemampuannya terlalu tinggi; merasa dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan Tuhan. Akibatnya orang tersebut akan mengalami banyak kejatuhan berulang-ulang karena berusaha sendiri tanpa memohon bantuan rahmat dari-Nya. Suatu saat ia dapat mencapai tahap keputusasaan,[10]: 2091 dan pada akhirnya ia menyangkal imannya.
- Seseorang yang merasa dapat menerima pengampunan, tanpa perlu bertobat, karena pemahaman yang salah akan kerahiman Allah; dan merasa dapat menjadi bahagia tanpa berbuat jasa apapun. Padahal Allah tidak menghendaki dosa, dan menjatuhkan hukuman atasnya; kemudian orang tersebut menantang kasih Allah—dimana ia sendiri yang mengingkari dan memungkiri kebaikan-Nya dengan tidak mau bertobat. Sehingga selanjutnya timbul kebencian terhadap Allah.[10]: 2094 Demikian akhirnya, akibat kesombongannya, seseorang dapat melakukan dosa yang tak terampuni—menghujat Roh Kudus (Lihat: Kronologi berkembangnya dosa).
Islam
Menurut Islam, sombong kepada Allah adalah dosa paling parah, dengan menolak berserah diri dan menyembahnya.
Sombong juga merupakan dosa besar dalam Islam. Nabi Muhammad pernah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan Tirmidzi, yaitu:
Seseorang tidak akan masuk surga jika ia memiliki kesombongan walau seberat atom di hatinya
Menurut Islam, kesombongan membawa dampak yang buruk. Kesombongan akan membuat seorang Muslim tidak memaafkan Muslim lainnya, ketika dimintai maaf. Oleh karena itu, orang yang sombong akan mulai berpikir dia lebih baik daripada orang lain. Dia juga akan lupa bahwa semua manusia diciptakan dari tanah liat dan akan kembali ke tanah (makam) serta kembali kepada Allah.
Tidak hanya itu saja, kesombongan akan menyebabkan orang tidak merasa puas dan selalu mengejar kekuasaan dan jabatan. Kesombongan juga akan menjauhkan orang dari agama Allah. Allah bahkan mengutuk orang-orang yang sombong dan menyombongkan diri.
Allah berfirman dalam Alquran tentang kesombongan sebagai dosa terbesar.
(Kepada mereka) akan dikatakan, Masuklah ke gerbang Neraka untuk tinggal selamanya di dalamnya, dan itulah tempat seburuk-seburuknya bagi orang-orang yang menyombongkan diri — Az Zumar - 31
Menurut Alquran, kesombongan adalah dosa yang akan mendapat hukuman berat dari Allah. Nabi Muhammad SAW juga bersabda, bahwa kesombongan adalah penyakit yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah. Beliau mengatakan, bahwa orang yang memiliki kesombongan dalam hatinya tidak akan masuk surga[11]
Allah telah berfirman pula dalam Alquran bahwa manusia yang menyombongkan diri terhadap kebenaran, yaitu Alquran menjadi salah satu penyebab kekekalan manusia dalam neraka.
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat — Al A'raf - 40[12].
Sedangkan siksa untuk mereka yang menyombongkan diri terhadap Alquran Dan kebenaran juga tertera di ayat selanjutnya.
Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim — Al A'raf - 41[13]