Comair Penerbangan 3272 merupakan penerbangan penumpang domestik berjadwal yang dioperasikan oleh Comair dari Bandar Udara Internasional Cincinnati di Kentucky menuju Bandar Udara Metropolitan Detroit di Michigan. Pada 9 Januari 1997 pukul 15.54 EST, saat melakukan pendekatan untuk mendarat, pesawat Embraer EMB 120 Brasilia tersebut jatuh dengan posisi menukik sekitar 18 mil (29km) di barat daya Bandar Udara Metropolitan Detroit, dan menewaskan seluruh 29 orang di dalamnya.[1]
Penyebab kecelakaan tersebut adalah adanya prosedur awak pesawat yang tidak memadai dan sudah usang dalam menghadapi kondisi pembentukan es (icing). Sebagian masalah ini berasal dari kegagalan Federal Aviation Administration dalam menetapkan kecepatan minimum yang sesuai untuk kondisi pembentukan es. Sementara kegagalan lainnya berkenaan dengan kelalaian dalam pembaruan manual prosedur Comair, termasuk instruksi yang sudah tidak berlaku mengenai penggunaan perangkat karet pada sayap untuk memecahkan lapisan es (de-icing boots) yang tidak mengikuti petunjuk pabrikan pesawat.
Pesawat
Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah Embraer EMB-120RT Brasilia dengan nomor seri pabrik (MSN) 120257, dan terdaftar sebagai N265CA, yang diproduksi oleh Embraer pada tahun 1991. Pesawat ini telah mencatat 12.751 jam terbang dan 12.735 siklus lepas landas dan pendaratan. Embraer EMB-120RT Brasilia dilengkapi dengan dua mesin baling-baling turbo Pratt & Whitney Canada PW118.
Penumpang dan awak
Terdapat 26 penumpang dan tiga awak di dalam penerbangan ini. Kapten pesawat adalah Dann Carlsen, 42 tahun, yang bertugas sebagai pilot monitoring (PM), yaitu pilot yang mengawasi jalannya penerbangan. Ia telah melewati 5.329 jam terbang, termasuk 1.097 jam pada EMB-120.
Kopilot adalah Kenneth Reece, 29 tahun, yang bertindak sebagai pilot flying (PF), yaitu pilot yang mengendalikan pesawat pada Penerbangan 3272. Reece memiliki 2.582 jam terbang, dengan 1.494 jam di antaranya pada EMB-120.
Salah satu penumpang, Maureen DeMarco, sedang dalam perjalanan menghadiri pemakaman saudaranya, Brian Scully, yang tewas pada kecelakaan Airborne Express Penerbangan 827 pada bulan Desember 1996.
Kecelakaan
Penerbangan 3272 lepas landas dari Bandar Udara Internasional Cincinnati/Kentucky Utara pada pukul 14.53. Kurang dari satu jam kemudian, para pilot mulai melakukan pendekatan (approach) menuju Bandar Udara Metropolitan County Wayne County, Detroit. Pengendali lalu lintas udara (air traffic controller) memberi instruksi kepada awak pesawat untuk turun ke ketinggian 4.000 kaki (1.200m) dan berbelok ke kanan dengan arah 180 derajat.[1]
Sekitar 45 detik kemudian, pilot diminta berbelok ke kiri ke arah 090 derajat untuk menangkap sinyal localizer yang akan memandu arah pendaratan dari sistem instrumen bandar udara.[1] Saat berbelok, Kapten Carlsen menyatakan, "Ya, sepertinya indikator kecepatan rendahmu [aktif]" dan meminta Kopilot Reece menambah tenaga mesin. Sesaat setelahnya, pesawat mengalami kehilangan daya angkat (stall) secara tiba-tiba. Pesawat berguling hingga 145 derajat ke kiri, kemudian ke kanan, lalu kembali ke kiri. Para pilot kehilangan kendali, dan Penerbangan 3272 jatuh di sebuah ladang pedesaan di Raisinville Township, County Monroe. Akibatnya, seluruh 29 orang di dalamnya tewas.[1]
Dampak dan penyelidikan
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (National Transportation Safety Board atau NTSB) dengan cepat menemukan kemiripan antara kecelakaan ini dan American Eagle Penerbangan 4184. NTSB menyimpulkan bahwa penyebab utama adalah standar yang tidak memadai untuk operasi dalam kondisi dingin ekstrem selama penerbangan, khususnya kegagalan Federal Aviation Administration dalam menetapkan kecepatan minimum yang memadai.[1][2] Hal ini menyebabkan hilangnya kendali ketika pesawat mengalami penumpukan lapisan es tipis dan kasar pada permukaan pengangkatnya (sayap).
Faktor yang turut berkontribusi adalah keputusan awak untuk tetap beroperasi dalam kondisi pembentukan es pada batas bawah rentang aman kinerja pesawat (flight envelope), sementara sirip sayap dalam kondisi ditarik. Comair juga tidak menetapkan nilai kecepatan minimum yang jelas untuk berbagai konfigurasi sirip sayap dan untuk penerbangan dalam kondisi suhu rendah.
Selain itu, bertentangan dengan rekomendasi pabrikan pesawat, awak tidak mengaktifkan karet pemecah es pada sayap.[3] Hal ini terjadi karena manual penerbangan Comair mengikuti kekhawatiran lama mengenai lapisan es yang membentuk kembali setelah pecah pada saat karet pemecah es belum sempurna beroperasi setelah memecahkan lapisan es sebelumnya (dikenal dengan istilah ice bridging), yang tidak relevan untuk pesawat yang lebih baru seperti EMB-120 Brasilia.[3]
Karena lokasi jatuhnya pesawat berada di lahan milik pribadi, sebuah tugu peringatan dibangun di Roselawn Memorial Park di La Salle, Michigan, tempat sebagian jenazah korban, yang tidak teridentifikasi, dimakamkan.
Dramatisasi media
Penyelidikan kecelakaan ini diangkat dalam episode berjudul "Deadly Myth" (pada tahun 2017) dari seri televisi Mayday.[4][5]