Kelurahan in Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kelurahan in Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Kelurahan ini merupakan kelurahan termaju ke-6 di Kecamatan Cipayung setelah Kelurahan Cipayung, Kelurahan Ceger, Kelurahan Lubang Buaya, Kelurahan Bambu Apus dan Kelurahan Setu.
Kelurahan yang sebagian besar daerahnya masih merupakan perkebunan dan persawahan ini di mana hampir 70 persen dari daerahnya digunakan Markas Besar TNI, sebagian penduduknya adalah warga betawi pinggiran yang masih menjunjung tradisi dan adat-adat betawi di mana kadang-kadang masih kita jumpai perkawinan-perkawinan menggunakan budaya betawi yang mempertunjukan tarian topeng, drama betawi klasikal, dangdutan, dll.
Sementara untuk pabrik gula, terdapat sebuah Pabrikgula Cilangkap di RW 09, yang sudah tidak aktif sejak tahun 1997 karena terjadinya Krisis ekonomi. Namun kini, Pabrik Gula Cilangkap sudah dibakar massa pasca Kerusuhan Mei 1998. Pada masa penjajahan, jalur decauville milik PG Cilangkap menyeberangi rel milik TjiTM di Stasiun Ciracas dan meliputi kebuntebu yang ada di sekitar Cilangkap. Dahulu jalur dari Stasiun Ciracas langsung terhubung dengan PG Cilangkap untuk memudahkan pengangkutan tebu.
Di daerah ini pula dibangun agro pembibitan tanaman buah dan sayuran yaitu Agro Wisata Cilangkap. Di dalamnya terdapat taman dan waduk yang digunakan oleh warganya untuk olahraga atau hanya sekadar berjalan-jalan di taman saat weekend.