Pejuang hak perempuan
Khailan bersama Rukmini Santoso merupakan tokoh aktivis perempuan terkemuka di Hindia Belanda yang memperjuangkan hak politik dan hak memilih wakil-wakil kaum perempuan dalam pemerintahan dan Dewan Rakyat atau Volksraad pada era 1930-an. Ia bergabung sebagai anggota dalam Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht in Nederlands-Indië, suatu organisasi yang memperjuangkan hak pilih perempuan.[1][3][4] Mereka berdua kemudian menjadi figur utama pada organisasi tersebut.
Ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak (P4A) setelah organisasi itu terbentuk pada tahun 1931. Pada tahun 1932 ia mendirikan majalah Pedoman Isteri dan sekaligus menjadi editornya hingga tahun 1939. Majalah itu kemudian menjadi corong Persatuan Isteri Pegawai/Priyayi Bestuur (PIPB) yang didirikan pada tahun 1936. Ia juga menjabat sebagai Presiden Persatuan Isteri Pegawai/Priyayi Bestuur.[1]
Penggiat Gerakan Esperanto
Setelah kemerdekaan Indonesia aktivitas Khailan terus berlanjut. Ia mulai mempelajari Bahasa Esperanto di Eropah pada tahun 1950. Setelah itu Khailan aktif ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan gerakan Esperanto di dunia internasional. Mulai dari tahun 1951, Khailan menghadiri berbagai pertemuan yang disebut Universala Kongreso (Kongres Esperanto Universal) yang diadakan setiap tahun di negara yang berbeda-beda.[1]
Dalam beberapa pertemuan, seperti Internacia Somera Universitato yang diadakan di Oslo, Norwegia, pada tahun 1953 dan di Montevideo, Uruguay, sebagai pimpinan delegasi Indonesia, Khailan tampil berbicara dan berpidato di podium. Ia juga menghadiri Universala Ekspozicio, suatu eksebisi akbar Esperanto yang diadakan di Buenos Aires, Argentina.[1]
Ia kemudian menjadi pendorong utama Gerakan Esperanto di Indonesia sejak tahun 1952, lalu mendirikan dan sekaligus menjabat sebagai Presiden Indonezia Esperanto-Asocio (Asosiasi Esperanto Indonesia) pada tahun yang sama.[1][5] Sebagai esparantis antar-bangsa, ia kemudian juga didaulat menjabat sebagai Presiden Sudazia Esperanto-Federacio (Federasi Esperanto Asia Selatan) pada tahun 1958, serta Presiden Islama Esperanto-Asocio (Asosiasi Esperanto Islam) pada tahun 1959.[1][6]
Khailan Syamsu bersama Liem Tjong Hie, Soen Kiat Liong, dan Hasan Basri, merupakan figur-figur utama dalam Gerakan Esperanto di Indonesia. Gerakan Esperanto di Indonesia melemah bahkan hilang sejak tiadanya Khailan yang meninggal dunia pada tahun 1962, ditambah dengan situasi politik yang tidak kondusif pada awal hingga pertengahan dekade 1960-an, di mana gerakan tersebut sering dikait-kaitkan dengan komunisme.[1][5][7]