Dalam studi genre, cerita beranjak dewasa adalah genre dalam sastra, teater, film, dan permainan video yang berfokus pada pertumbuhan protagonis dari masa kanak-kanak hingga dewasa, atau "beranjak dewasa". Cerita beranjak dewasa cenderung lebih menekankan pada dialog atau monolog batin daripada aksi, dan sering kali berlatar belakang masa lalu. Subjek cerita beranjak dewasa biasanya adalah remaja.[1]Bildungsroman adalah subgenre khusus dari cerita beranjak dewasa.
Titik-titik plot dalam cerita beranjak dewasa biasanya berupa perubahan emosional pada karakter yang bersangkutan.[2]
Dalam kritik sastra, novel beranjak dewasa dan Bildungsroman terkadang digunakan secara bergantian, namun yang pertama umumnya mencakup genre yang lebih luas. Bildungsroman (dari kata-kata Jerman Bildung, yang berarti "pendidikan" atau "pembentukan", dan Roman, yang berarti "novel") memiliki sejumlah ciri formal, topikal, dan tematik.[3] Genre ini berfokus pada pertumbuhan psikologis dan moral protagonis dari masa kanak-kanak hingga dewasa (beranjak dewasa ),[4] di mana perubahan karakter menjadi hal yang penting.[5][6][7]
Genre ini berkembang dari dongeng rakyat tentang anak-anak muda yang menjelajahi dunia untuk mencari peruntungan.[8] Meskipun Bildungsroman muncul di Jerman, genre ini telah memberikan pengaruh yang luas, pertama di Eropa dan kemudian ke seluruh dunia. Thomas Carlyle telah menerjemahkan novel-novel Wilhelm Meister karya Goethe ke dalam bahasa Inggris, dan setelah diterbitkan pada tahun 1824/1825, banyak penulis Inggris menulis novel yang terinspirasi darinya.[9][10]
Terdapat banyak variasi dari Bildungsroman, seperti Künstlerroman ("novel seniman"), yang berfokus pada pertumbuhan diri seorang seniman.[11]
Dalam novel ringan dan manga asal Jepang, beranjak dewasa merupakan genre utama dalam sastra Jepang yang menggambarkan pertumbuhan protagonis dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Manga Naruto karya Masashi Kishimoto merupakan contoh terkenal dari genre ini, yang menggambarkan protagonis remaja Naruto Uzumaki dengan rasa percaya diri, pertumbuhan, dan ambisi untuk menjadi Hokage.[12]
Dalam dunia perfilman, film remaja adalah salah satu genre film beranjak dewasa yang berfokus pada pertumbuhan atau transisi psikologis dan moral seorang protagonis dari masamuda menuju kedewasaan. Varian pada tahun 2020-an adalah "film beranjak dewasa yang tertunda", yaitu jenis cerita yang mengakui sifat tertunda dari kedewasaan di abad ke-21, di mana orang dewasa muda mungkin masih menjajaki hubungan jangka pendek, situasi tempat tinggal, dan pekerjaan bahkan hingga usia akhir 20-an dan awal 30-an.[15]
↑Bakhtin, Mikhail (1996). "The Bildungsroman and its Significance in the History of Realism". Dalam Emerson, Caryl; Holquist, Michael (ed.). Speech Genres and Other Late Essays. Austin, TX: University of Texas Press. hlm.21. ISBN978-0-292-79256-2. OCLC956882417.
↑Jeffers, Thomas L. (2005). Apprenticeships: The Bildungsroman from Goethe to Santayana. New York: Palgrave. hlm.2. ISBN1-4039-6607-9.
↑Cicchelli, Vincenzo (2010). "Les legs du voyage de formation à la Bildung cosmopolite". Le Télémaque (dalam bahasa Prancis). 38 (2): 57–70. doi:10.3917/tele.038.0057. ISSN1263-588X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-11-15. Diakses tanggal 2022-06-20. Franco Moretti et John Neubauer, historiens de la littérature, ont tous deux insisté sur le rôle fondamental qu'a joué le roman, depuis la fin du XVIIIe siècle jusqu'à la Première Guerre mondiale, dans la construction des âges de la vie, de l'adolescence et la jeunesse. Si, avant cette période, les jeunes sont les laissés-pour-compte de la littérature romanesque, cette entrée tardive est compensée par la place centrale qu'ils occupent dans le roman de formation. Vers la fin du XIXe siècle, quand ce genre entre en crise, les jeunes sont remplacés par les adolescents, nouveaux protagonistes des œuvres de fiction. Après les écrits de Jean-Jacques Rousseau, le roman de formation, ou Bildungsroman, dont l'apogée se situe entre Les années d'apprentissage de Wilhelm Meister de Goethe (1795–1796) et l'Éducation sentimentale de Flaubert (1869), invente la figure littéraire du jeune homme voyageur. C'est à partir donc de cette période qu'il faudra retrouver certains traits des voyages fictionnels, que j'appelle matrices , qui hantent encore notre imaginaire, et que l'on retrouve dans les séjours Erasmus contemporains
↑Buckley, J. H. (1974), Season of Youth: The Bildungsroman from Dickens to Golding, Harvard Univ Press, ISBN978-0-67479-640-9.
↑Ellis, L. (1999), Appearing to Diminish: Female Development and the British Bildungsroman, 1750–1850, London: Bucknell University Press, ISBN978-0-83875-411-5