Carl Heinrich Wilhelm Anthing (11 November 1766–7 Februari 1823) adalah seorang perwira militer Jerman-Belanda yang menjadi komandan KNIL pertama di Batavia (sekarang Jakarta). Ia menduduki jabatan tersebut antara tahun 1815-1819.
CHW. Anthing adalah putera Johann Philip Anthing dan Dorothea Amilia Schierschmidt. Ia mengawali karier sebagai taruna pada tahun 1782. Pada tahun 1786, ia ditempatkan di Resimen Sachsen-Gotha. Setelah penyerahan diri kadipaten tersebut, resimen itu berdinas di bawah Republik Belanda. Bersama resimen tersebut, ia diikutsertakan dalam pengepungan Willemstad dan kemudian Heusden, yang pada tahun 1793 diambil alih oleh Herman Willem Daendels.
Pada tahun 1810, Anthing diangkat sebagai gubernurBreda. Ia terpaksa bersilang pendapat dengan Mars. Oudinot, tetapi kalah sehingga harus mundur. Beberapa bulan kemudian, Belanda dianeksasi oleh Kekaisaran Prancis Pertama dan Anthing berdinas di militer Prancis. Ia terlibat dalam berbagai pertempuran dan terluka pada tahun 1814.
Setelah takluknya Belanda ke tangan Prancis, Britania Raya telah menaklukkan Nusantara pada tahun 1811. Setelah dipulihkannya kedaulatan Belanda, Inggris harus mengembalikan koloninya tersebut. Untuk mempersiapkannya, elemen pasukan khusus harus dibentuk. Pasukan tersebut dipimpin oleh Komandan Anthing dan terdiri atas 1 resimen infanteri Eropa, terdiri atas 2 batalyon, bersama dengan 1.646 serdadu, 2 batalyon garnisun setempat yang masing-masing berkekuatan 915 prajurit, dan 6 batalyon medan setempat, masing-masing beranggotakan 814 prajurit.
Setelah Napoleon kembali dari Elba, untuk pertama kalinya pasukan Inggris-Belanda merasa perlu melawannya. Di dalamnya terlibat pula Anthing ada dalam Brigade Hindia. Dengan brigade tersebut, ia turut dalam pertempuran di Belanda Selatan, di bawah pimpinan Pangeran Frederik. Setelah Pertempuran Waterloo, yang Anthing tidak ikut, mereka menaklukkan Le Quesnoy pada tanggal 28 Juni. Anthing kehilangan 4 prajurit dan kembali ke Valenciennes dan Conde-sur-l'Escaut, di mana pada tanggal 1 Juli, mereka mencegah Prancis menerobos bendungan di Schelde Barat. Kemudian, dengan cepat Brigade Hindia kembali ke Belanda dan mengambil alih jajahannya di Nusantara yang telah diduduki Inggris.
Pada tanggal 29 Oktober1815, Anthing dan 600 orang lainnya pergi ke Batavia dari Texel menumpang De Ruyter, diikuti oleh kapal-kapal Evertsen, Amsterdam, Braband, fregatMaria Reigersbergen, korvetIris dan kapal layarSpion. Armada tersebut dipimpin oleh SbN AA. Buyskens. Selama perjalanan, 48 orang meninggal dalam kapal. Pada pertengahan bulan Mei, saat berhenti di Bengkulu, Anthing memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan bersama De Ruyter. Ia membeli sekunar dan membawa keluarganya beserta beberapa perwira dan anak buah kapal. Mereka mendarat di Anyer, Banten dan meneruskan berjalan kaki ke Batavia, dan tiba pada tanggal 10 Juni. Para prajurit ditempatkan di Meester Cornelis (kini Jatinegara, Jakarta Timur).
Pada tanggal 19 Agustus1816, kekuasaan diserahkan oleh Inggris ke tangan Belanda dan Belanda kembali menjajah Nusantara. Anthing menjadi komandanKNIL hingga tanggal 23 Januari1818 dan digantikan oleh G.A.G.Ph. van der Capellen. Pada tahun 1819, ia kembali ke Belanda dan pensiun setahun kemudian.
Kehidupan pribadi
Ia menikah dengan Anna Maria Brascamp pada tahun 1792. Putera mereka Johan Philip Anthing juga menjadi perwira militer dan turut ke Hindia-Blanda. Kemudian Johan berperang di Zeeland (1806), Rusia (1812), Belanda Selatan dan Prancis (1815) dan juga selama Kampanye Sepuluh Hari (1831). Puterinya Dorothea Jeannette Amalia Anthing menikahdengan Jan David van Schelle pada tanggal 3 Maret1817 di Batavia, dan dianugerahi 2 putera, Pieter dan Carel Willem Hendrik. Pieter menjadi makelarjagung di Rotterdam, sementara Carel menetap di Hindia Belanda dan menjadi penasihat di Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Militer. Carel sendiri tidak pernah menikah.