Hamparan bukit sabana, pohon-pohon lontar, gugusan pulau-pulau dan matahari terbenam di kawasan CA Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat
Cagar Alam Wae Wuul adalah kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Macang Tanggar dan Desa Warloka, Kecamatan Komodo. Kawasan ini memiliki luas 1.484,84 ha dengan tutupan lahan didominasi oleh savana dan semak belukar, serta sebagian kecil hutan lahan kering sekunder.[1] Wae Wuul dikenal sebagai salah satu habitat penting komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Flores.[butuh rujukan]
Sejarah
Penunjukan kawasan Wae Wuul sebagai kawasan konservasi pertama kali dilakukan melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor 32 tahun 1969 yang menetapkan Komplek Hutan Wae Wuul/Mburak seluas ±3.000 ha sebagai kawasan suaka alam. Status ini diperkuat dengan Surat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor 591/VI-Sek/Prog/1984 tanggal 11 April 1984.[2]
Selanjutnya, Menteri Kehutanan Soedjarwo mengeluarkan Keputusan Nomor 176/Kpts-II/1985 tanggal 7 Juli 1985 yang menetapkan kawasan tersebut sebagai Cagar Alam Wae Wuul. Pada 1994 dilakukan penataan batas dengan hasil pengukuhan luas kawasan 1.484,84 ha.[2] Status tersebut ditetapkan kembali melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 427/Kpts-II/1996 tanggal 9 Agustus 1996. Pertimbangan utama penetapan kawasan ini adalah keberadaannya sebagai habitat komodo beserta satwa mangsa seperti rusa, babi hutan, dan kuda liar, yang memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan.[butuh rujukan]
Kondisi ekosistem
Kawanan Rusa Timor
Cagar Alam Wae Wuul merepresentasikan ekosistem padang rumput tropis dengan karakteristik curah hujan rendah (90–150cm/tahun), tingkat penguapan tinggi, sering mengalami kekeringan, serta tanah yang kurang mampu menyimpan air. Kawasan ini terbagi dalam vegetasi savana (±75%) dan hutan kering sekunder. Menurut klasifikasi ketinggian, kawasan ini berada dalam kategori hutan hujan bawah (0–1.000 m dpl). Keanekaragaman ekosistem di Wae Wuul mendukung keberadaan herbivora seperti rusa timor (Rusa timorensis), yang menjadi mangsa utama komodo.[2]
Flora
Inventarisasi tahun 2017 oleh BBKSDA Nusa Tenggara Timur mencatat sembilan spesies pohon di Wae Wuul. Spesies dominan adalah kesambi (Schleicera oleosa) dengan Indeks Nilai Penting (INP) 99,68%, diikuti kukung (Scoutenia ovata) dengan INP 52,61%. Regenerasi beberapa spesies, seperti asam hutan (Tamarindus indica), pulai (Alstonia scholaris), dan reket (Ficus trichocarpa), tidak ditemukan pada tingkat tiang maupun pancang, sehingga berpotensi mengalami kelangkaan.[2]
Pada tingkat tiang, vegetasi didominasi bidara (Zyziphus rotundifolia), sedangkan pada tingkat pancang kukung (Scoutenia ovata) tetap mendominasi. Jumlah spesies tumbuhan bawah lebih beragam (18 spesies), menandakan tajuk hutan yang relatif terbuka. Masyarakat sekitar memanfaatkan sekitar 63 spesies tumbuhan sebagai obat tradisional, di antaranya sambiloto untuk mengatasi malaria.[2]
Fauna
Kawasan ini berfungsi sebagai habitat alami komodo (Varanus komodoensis) dan satwa mangsa seperti rusa timor (Rusa timorensis), babi hutan (Sus vitatus), kuda liar, serta kerbau air (Bubalus bubalis) yang sering digembalakan masyarakat di dalam kawasan.[3]
Inventarisasi populasi mencatat sekitar 668 ekor rusa timor dengan margin kesalahan ±53,9 ekor. Namun, jumlah populasi ini dinilai kecil akibat aktivitas perburuan menggunakan senjata api. Selain itu, ditemukan pula monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), yang berperan dalam penyebaran biji tanaman kesambi.
Wae Wuul juga menjadi habitat bagi 22 spesies burung dari 16 famili. Jenis burung yang umum dijumpai antara lain tekukur biasa (Streptopelia chinensis), kancilan emas (Pachycephala pectoralis), dan kancilan flores (Pachycephala nudigula).[3]
Geologi
Topografi kawasan didominasi perbukitan dengan ketinggian antara 100–1.500 mdpl. Gunung tertinggi adalah Gunung Kemu (1.500 mdpl) di bagian utara, disusul Golo Banggang (1.100 mdpl), Ta’al Balo (1.000 mdpl), Golo Kimang (1.000 mdpl), dan Golo Gotar (500 mdpl).[3]
Secara geologi, kawasan ini merupakan bagian dari Formasi Batuan Gunung Api. Jenis tanah yang dominan adalah kambisol distrik, kambisol ustik, dan regosol distrik. Terdapat empat sungai musiman, yakni Mata Wae, Wae Wuul, Wae Cerek, dan Wae Bangka, yang hanya berair pada musim hujan.[butuh rujukan]
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1954), Kecamatan Komodo memiliki tipe iklim F, dengan curah hujan tertinggi pada Januari–April dan kemarau panjang pada Mei–Desember.[butuh rujukan]
Aksesibilitas
Cagar Alam Wae Wuul terletak sekitar 14 km di barat daya Labuan Bajo, kota pariwisata internasional yang menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo.[butuh rujukan]
Akses menuju kawasan dapat ditempuh melalui jalur laut maupun darat. Jalur laut ditempuh dengan perahu dari Labuan Bajo ke Desa Warloka (90–120 menit), sedangkan jalur darat memerlukan waktu 2–2,5 jam dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum, meskipun kondisi jalan masih kurang baik.[4]