China National Petroleum Corporation (CNPC) (Hanzi:中国石油天然气集团公司; Pinyin:Zhōngguó Shíyóu Tiānránqì Jítuán Gōngsī)[a] adalah sebuah perusahaan minyak dan gas asal Tiongkok yang merupakan salah satu perusahaan energi terintegrasi terbesar di dunia. Perusahaan ini berkantor pusat di Distrik Dongcheng, Beijing.[4] Perusahaan ini pun menempati peringkat keempat dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2022.[5]
Struktur perusahaan
Perusahaan ini adalah induk dari PetroChina, yang dibentuk pada tanggal 5 November 1999, sebagai bagian dari restrukturisasi terhadap perusahaan ini. Dalam restrukturisasi tersebut, perusahaan ini menyuntikkan modal kepada PetroChina berupa sebagian besar aset dan liabilitasnya yang terkait dengan produksi dan eksplorasi hidrokarbon, pengilangan dan pemasaran, serta bahan kimia dan gas alam. Perusahaan ini dan PetroChina pun bersama-sama mengembangkan aset di luar Tiongkok melalui perusahaan patungan yang diberi nama CNPC Exploration & Development Company (CNODC).
Pada bulan Maret 2014, chairman perusahaan ini, Zhou Jiping, mengumumkan bahwa perusahaan ini akan membuka enam unit bisnisnya kepada investor swasta.[6]
Perusahaan ini juga meneken nota kesepahaman dengan UOP untuk berkolaborasi pada berbagai teknologi dan proyek biofuel di Tiongkok.[7]
Sejarah
Tidak seperti Chinese Petroleum Corporation (CPC Corporation), yang dipindah ke Taiwan bersamaan dengan Republik Tiongkok pasca revolusi komunis pada tahun 1949, perusahaan ini memulai sejarahnya sebagai sebuah departemen di bawah pemerintah Republik Rakyat Tiongkok. Pada tahun 1949, pemerintah Tiongkok membentuk 'Kementerian Industri Bahan Bakar' untuk mengelola bahan bakar. Pada bulan Januari 1952, kementerian tersebut membentuk sebuah divisi untuk mengelola eksplorasi dan pertambangan minyak bumi dengan nama 'Biro Administrasi Minyak Bumi'. Pada bulan Juli 1955, kementerian tersebut digantikan oleh Kementerian Minyak Bumi. Mulai tahun 1955 hingga 1969, sekitar empat unit ladang minyak berhasil ditemukan di Qinghai, Heilongjiang (ladang minyak Daqing), Teluk Bohai, dan Songliao. Pada tanggal 17 September 1988, pemerintah resmi mendirikan perusahaan ini untuk mengelola semua bisnis minyak bumi di Tiongkok, dan membubarkan Kementerian Minyak Bumi.[8][9]
Pada tahun 1993, perusahaan ini mulai berekspansi ke luar Tiongkok. Melalui SAPET, perusahaan ini meneken kontrak dengan pemerintah Peru untuk mengoperasikan Blok VII di Provinsi Talara.[10] Pada bulan Juni 1997, perusahaan ini ikut mendirikan Greater Nile Petroleum Operating Company di Sudan.[11]
Pada bulan Agustus 2005, diumumkan bahwa perusahaan ini telah setuju untuk membeli PetroKazakhstan dengan harga US$4,18 miliar. Akuisisi tersebut pun dapat diselesaikan pada tanggal 26 Oktober 2005 setelah sebuah pengadilan di Kanada menggagalkan upaya dari LUKoil untuk menghalangi akuisisi tersebut.[12] Pada tahun 2006, perusahaan ini menjual 67% saham PetroKazakhstan ke PetroChina.[13]
Pada bulan Juni 1997, perusahaan ini membeli 60,3% saham Aktobe Oil Company asal Kazakhstan, dan pada bulan Juli 1997, perusahaan ini memenangkan kontrak untuk ladang minyak Intercampo dan ladang minyak East Caracoles di Venezuela.[butuh rujukan]
Pada bulan Juli 1998, pemerintah merestrukturisasi perusahaan ini sesuai prinsip hulu dan hilir.[14] Perusahaan ini pun memisahkan sebagian besar asetnya di Tiongkok ke PetroChina. Pada bulan 5 November 2007, PetroChina yang telah melantai di Hong Kong Stock Exchange juga resmi melantai sebagai saham A di Shanghai Stock Exchange.[15]
Didorong oleh meningkatnya kebutuhan energi Tiongkok dan didukung oleh kebijakan Go Out dari pemerintah, perusahaan ini pun menjadi salah satu badan usaha milik negara Tiongkok yang berekspansi ke luar Tiongkok.[16]:77 Karena telah menguasai cukup banyak ladang minyak, perusahaan ini pun berekspansi ke negara yang risiko politik dan keamanannya lebih tinggi.[16]:77
Pada bulan Juli 2013, perusahaan ini dan Eni meneken kesepakatan senilai $4,2 miliar untuk mengakuisisi 20% saham dari sebuah blok gas alam di lepas pantai Mozambik.[18]
Pada bulan Juni 2014, "pimpinan dari anak usaha CNPC di Kanada dipulangkan ke Beijing" dan "tidak lagi terlihat di muka umum".[19] Penggantinya kemudian diumumkan pada bulan Juni.[19]
Pada bulan Februari 2022, perusahaan ini dan Gazprom meneken kontrak pasokan sebanyak 10 bcm per tahun melalui rute Timur Jauh.[20]
Perusahaan ini menguasai cadangan minyak terbukti sebanyak 37 miliar barel (5,9×109m3). Pada tahun 2007, perusahaan ini memproduksi gas alam sebanyak 54 miliar meter kubik.[22] Perusahaan ini memiliki 30 proyek eksplorasi dan produksi internasional di Azerbaijan, Kanada, Iran, Indonesia, Myanmar, Oman, Peru, Sudan, Niger, Thailand, Turkmenistan, dan Venezuela. Sejumlah proyek eksplorasi ditangani oleh Great Wall Drilling Company (GWDC), anak usaha dari perusahaan ini yang bergerak di bidang pengeboran minyak bumi.[23]
Pada tahun 2018, perusahaan ini mengumumkan bahwa mereka sedang membangun fasilitas penyimpanan gas alam dengan total kapasitas sebesar 55,6 miliar meter kubik di Henan bagian utara, untuk mempermudah pasokan selama puncak musim dingin. Tiongkok memang mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan gas di bawah tanah karena adanya tantangan dalam mengangkut gas selama musim dingin, yang membuat pembeli terpaksa mengangkut LNG dengan menggunakan truk sejauh ribuan kilometer. Tiongkok juga memulai program untuk mengubah PLTU menjadi PLTG yang lebih ramah lingkungan.[butuh rujukan]
Afrika
Perusahaan ini adalah perusahaan asal Tiongkok pertama yang berinvestasi di Afrika.[24]:165 Pada tahun 1996, perusahaan ini mulai mengembangkan ladang minyak yang sebelumnya ditemukan oleh Chevron di Sudan, tetapi kemudian ditelantarkan karena adanya konflik di Sudan.[24]:165
Sudan Selatan
Melalui Great Wall Drilling Company, perusahaan ini berinvestasi sebesar $700 juta untuk mengebor 57 sumur minyak di Sudan mulai tahun 1997 hingga 2000.[25] Pada tahun 2010, perusahaan ini mendapat kontrak dari Kementerian Minyak Bumi Sudan untuk membangun 5 unit rig minyak dengan harga $75,5 juta.[26]
Setelah Sudan Selatan merdeka pada tahun 2011, sejumlah ladang minyak milik perusahaan ini pun menjadi bagian dari Sudan Selatan.[24]:165 Perusahaan ini kemudian berpartisipasi dalam konsorsium Petrodar.[27]
Pada bulan Desember 2013, pecahnya Perang Saudara Sudan Selatan membuat pemerintah Tiongkok mempertimbangkan kembali investasi yang telah dibuat di sana.[16]:130 Pada akhirnya, perusahaan ini memutuskan untuk tetap mempertahankan sejumlah pekerja asal Tiongkok untuk melanjutkan produksi minyak di sana.[16]:130 Keputusan tersebut pun memungkinkan industri minyak di Sudan Selatan untuk tetap beroperasi, walaupun membuat perusahaan ini merugi, karena biaya transportasi yang meningkat, padahal harga minyak sedang turun.[16]:130–131 Keputusan tersebut juga memungkinkan pemerintah Tiongkok untuk mendapat kepercayaan dari pemerintah Sudan Selatan dan dukungan dari komunitas internasional karena membantu menstabilisasi ekonomi Sudan Selatan.[16]:130–131
Chad
Hingga tahun 2023, perusahaan ini mengoperasikan ladang minyak di Chad bersama sebuah perusahaan asal Swiss.[24]:165
Mozambik
Di Mozambik, hingga tahun 2023, perusahaan ini memegang 20% saham dari dua proyek gas alam.[24]:165
Niger
Hingga tahun 2023, bersama pemerintah Niger, perusahaan ini mengoperasikan sebuah kilang minyak di sana.[24]:165 Perusahaan ini juga mengoperasikan satu-satunya ladang minyak aktif di sana.[24]:165
Catatan
↑Nama singkat dari perusahaan ini dalam bahasa Mandarin, Zhongguo Shiyou (中国石油), sebelumnya sama dengan nama dari Chinese Petroleum Corporation, badan usaha milik negara Taiwan.
Referensi
12China National Petroleum Corporation (July 2, 2021). 2020 Annual Report(PDF) (Report). hlm.6. Diakses tanggal May 21, 2022.
↑"中国石油天然气集团公司2015年度报告"[China National Petroleum Corporation 2015 Annual Report]. Shanghai Clearing House. 29 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2016. Diakses tanggal 7 May 2016.