Douglas C-47 Skytrain atau Dakota (sebutan dari RAF) adalah pesawat angkut militer sayap rendah (low wing) yang dikembangkan dari pesawat Douglas DC-3.
Pesawat ini digunakan secara luas oleh Sekutu selama Perang Dunia II dan tetap di garis depan pelayanan dengan berbagai operator militer selama 1950.
Di Eropa, C-47 dan versi yang khusus untuk mengangkut pasukan yang lebibh dikenal sebagai C-53 Skytrooper, sangat banyak dipergunakan dalam perang, khususnya untuk menarik glider dan menerjukan pasukan. Pada pendudukan Sisilia di Juli1943, ia menerjukan tidak kurang dari 4,381 pasukan terjung payung sekutu. Selain itu, tidak kurang dari 50,000 pasukan terjun payung diterjunkannya selama beberapa hari pertama dari D-Day yang dikenal juga sebagai Invasi Normandia, Prancis, pada Juni1944.[2] Selama Perang Pasifik, dengan mempergunakan beberapa landasan pendaratan di beberapa pulau di Lautan Pasifik, pesawat ini dipergunakan untuk membawa para tentara yang bertugas di sana kembali ke Amerika Serikat.
Pesawat ini hingga paruh akhir 1950-an, menjadi satu-satunya pesawat transportasi udara militer dan tulang punggung untuk pergeseran pasukan dan logistik ke garis depan.
Operasi militer penumpasan pemberontakan organisasi Republik Maluku Selatan (RMS)
Pesawat ini juga pernah mendukung operasi militer penumpasan Organisasi Republik Maluku Selatan (RMS). Salah satu tugasnya adalah mempersiapkan Pangkalan Udara Kendari sebagai pangkalan aju, di mana untuk itu diterbangkan pesawat ini dengan nomor ekor T-457 dari Pangkalan Udara Cililitan menuju Kendari. Pesawat ini dipiloti LU I Sudarjono dan LU I Sutardjo Sigit, yang bertujuan membantu pergeseran pasukan dan logistik. Pesawat ini mendarat pertama kali pada 14 Juli1950 di Pulau Buru di mana 2 hari kemudian Namlea berhasil diduduki oleh Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), yaitu gabungan antara Angkatan Perang Republik Indonesia dengan KNIL.[6] Dengan direbutnya Namlea, maka APRIS, memiliki pangkalan udara yang bisa dipakai sebagai pangkalan aju. Pada September1950, diadakan uji coba pendaratan dengan C-47 Dakota untuk memastikan kelayakan pangkalan, di mana pesawat ini diterbangkan oleh Kapten Udara Noordraven. Setelah kondisi aman, barulah mendarat pesawat-pesawat pembom B-25 Mitchell. Pangkalan ini menjadi sangat penting sebagai pangkalan aju atau pangkalan terdepan, karena dari tempat ini, akan lebih mudah untuk mengepung kota Ambon dari pelbagai arah. Dalam hal ini pesawat ini bertugas untuk mendukung pasokan logistik dan pasukan.[6]
Operasi militer penumpasan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Dalam operasi militer, PRRI di Sumatra, C-47 Dakota merupakan bagian dari operasi gabungan, di mana ia bertugas untuk memberikan perlindungan udara (air cover), dan juga pasokan logistik serta pasukan. Dalam operasi tersebut, andilnya cukup besar dengan menerjunkan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan RPKAD dan mereka tergabung dalam tim Komando X Ray dipimpin oleh LU (Letnan Udara) Sugiri Sukani, sehingga TNI mengusai lapangan terbang Simpang Tiga, Pekanbaru pada 12 Maret1958. Begitu juga lapangan terbang Polonia, Medan berhasil dikuasai pada 17 Maret1958. Penguasaan kedua lapangan terbang ini membuat pihak pemberontak tidak bisa mempergunakannya sebagai lapangan aju. Tercatat tidak kurang dari 26 pesawat C-47 Dakota dikerahkan ke Tanjung Pinang, sebagai pangkalan aju.[8]
Selanjutnya pesawat-pesawatnya digeser ke Sulawesi, untuk penumpasan Permesta, dengan sandi Operasi Merdeka, yang terbagi menjadi Operasi Mena dan Operasi Saptamarga. Dalam pemberontakan ini, pihak musuh didukung oleh B-26 Invader dan P-51 Mustang yang didukung oleh penerbang-penerbang asing. Kali ini, pesawat ini bertugas untuk penerjunan pasukan beserta perbengkalannya guna merebut pangkalan udara dari tangan pemberontak.[8]
Dalam operasi ini pihak TNI AU melibatkan kekuatan yang sangat besar hingga membentu AULA (Angkatan Udara Mandala), sebagai salah satu unsur Komando Mandala. Dalam operasi ini, pesawat ini dipergunakan untuk mempersiapkan pangkalan-pangkalan aju di perbatasan Maluku dan Irian Barat, seperti Morotai, Amahai, Letfuan, Kendari, Kupang, Gorontalo, Namlea, Laha, Langgur, Doka Barat dan Selaru.[8]
Penyiapan ini dilakukan oleh C-47 Dakota dengan registrasi T-477 dan T-474 dengan mendarat di landasan Kendari yang antara lain diterbangkan oleh LU I Suhardjo. Dalam operasi inilah timbul ide untuk mempersenjatai pesawat ini sehingga bisa memiliki kemampuan serang. Sehingga, ia tidak hanya membantu pergeseran pasukan maupun medis udara, ia dapat digunakan sebagai bantuan tembakan udara.[9]
Perubahan atas dua pesawat ini dilakukan oleh tim Depo Pesbang 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Perubahan yang dilakukan dengan menempatkan masing-masing 3 pucuk senapan kaliber 12,7mm yang ditempatkan di jendela-jendela di belakang sayap. Dan Dakota C-47 hasil modifikasi ini dikenal dengan julukan "C-47 Dakota Gunship".[9]
Dalam operasi inilah dipergunakan untuk pertama kalinya C-47 Dakota Gunship yang bertugas mendampingi B-26 Invader dalam melakukan serangan udara langsung guna menghadapi senapan mesin pihak Fretilin. Ujicoba modifikasi ini, dengan penembakan di Pameungpeuk, Jawa Barat dan Lanud Penfui, Kupang. Namun akhirnya pesawat tidak dipergunakan karena berdasarkan informasi intelejen, kekuatan musuh telah melemah.[9]
Saragih, Kol. Sus Dra. Maylina (2019). Alat Utama Sistem Senjata TNI AU Periode Tahun 1951 - 1960. Jakarta: Sub Dinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AU.Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
Tarigan, Kol Sus Dra. Lisa M. (2015). Monumen Angkatan Udara (Revisi I). Jakarta: Sub Dinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AU.Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
Donald, David. The Complete Encyclopedia of World Aircraft. New York: Barnes & Noble, 1997. ISBN 0-7607-0592-5.
Flintham, Victor. Air Wars and Aircraft: A Detailed Record of Air Combat, 1945 to the Present. New York: Facts on File, 1990. ISBN 0-8160-2356-5.
Francillon, René J. McDonnell Douglas Aircraft Since 1920. London: Putnam & Company Ltd., 1979. ISBN 0-370-00050-1.
Gradidge, Jennifer M. The Douglas DC-1, DC-2, DC-3: The First Seventy Years. Two volumes. Tonbridge, UK: Air-Britain (Historians) Ltd., 2006. ISBN 0-85130-332-3.
Pearcy, Arthur Jr. "Douglas R4D variants (US Navy's DC-3/C-47)". Aircraft in Profile, Volume 14. Windsor, Berkshire, UK: Profile Publications Ltd., 1974, pp.49–73. ISBN 0-85383-023-1.
Yenne, Bill. McDonnell Douglas: A Tale of Two Giants. Greenwich, Connecticut: Bison Books, 1985. ISBN 0-517-44287-6.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai C-47 Skytrain.