Konon zaman dahulu kala, diawali dengan kegiatan beberapa kelompok masyarakat di daerah terpencil hutan belantara dan dipinggiran (bantaran sungai yang melintas daerah tersebut sungai Cirende, cai=air, rende=cirri/ciciren=ciri).[5]
Setelah berkembang pesat kegiatan – kegiatan kemasyarakatan juga banyak dilakukan di bantaran sungai tersebut sampai ke kegiatan pemerintahan pun banyak dilakukan ditempat tersebut, lahirlah Desa Bantar dan semakin berkembang pesat sampai ke daerah sekitarnya, yang diawali dari tempat tersembunyi, terpencil sampai lahir nama – nama tempat termasuk Dusun – Dusun Desa Bantar menjadi Desa Bunter artinya Bun=Buni Ter=Terang (Buni Terang) tersembunyi, terkenal kemana-mana.[5] Selain anggapan itu ada juga anggapan lain mengenai asal-usul Desa Bunter cerita rakyat yang turun temurun yaitu Bunter asal dari Buntel, konon pernah terjadi ada pedagang yang masuk ke daerah itu berasal dari Jawa Tengah dan dibegal (dirampok), sampai pedagang itu meninggal dan jasadnya tidak diketahui oleh yang lain hanya tinggal buntelan sisa barang buntel semakin berkembang menjadi Bunter, itu hanya sebatas kepercayaan orang – orang pada mitos.[5]
Sejarah
Legenda Desa (Sasakala)
Berdasarkan narasumber para tokoh masyarakat yang masih ada sampai saat ini, dan berdasarkan sumber-sumber catatan buku-buku silsilah para leluhur zaman dahulu yang sekarang berada di tangan para keturunannya pada saat ini maka dapat dipaparkan gambaran – gambaran kondisi desa untuk dikaji, diteliti dan diketahui pada saat ini.[5]
Terbentuknya Desa Bunter
Catatan Sejarah Desa Bunter menerangkan Dalem Prabu Singarante yang sekarang pusaranya berada ditempat Situs Madukara dan Prabu dalem Kemuning yang sekarang pusaranya berada di Situs Keramat Dalem Nambo adalah awal sejarah dibukanya dan terbentuknya kultur masyarakat dan perkembangan daerah dari persinggahan sampai akhir hayatnya telah membuka jalur antara Panjalu dan Karangkamulyan dan telah melebarkan jalur antara Kota Cirebon – Kawali sampai Banjar Patroman jalur aktivitas dan jalur kegiatan transportasi terhubung hingga ke Kerajaan Galuh Pakuan yang sekarang Kabupaten Ciamis Selatan.[5]
Pertama Desa adalah bantaran Kali Curug Kelebut, konon di Curug Kelebut sering terjadi keanehan – keanehan, penduduk sering mendengar suara gamelan tanpa wujud danterjadi malam Jum’at Kliwon, disitulah Desa pertama namanya Desa Cijamika, tidak lama kemudian pindah ke daerah Nambo sesudah Nambo jadi Negara 356 tahun ke belakang konon terjadi perang Pajajaran, bedah perang diajang utamanya adalah Ki Dalem Raheut dengan Wirakencana Arya Kemuning pergi dari Desa Nambo membawa kuda Sembrani dengan membawa peralatan perang dirinya juru kuncinya Bapak Rawi, Bapak Kuwunya yaitu Wati.[5] Tidak lama pindah lagi ke Desa Kolot Cikopet Bapak Santara punya anak namanya Rabin dan kewedanaannya berada di lokasi Gudang Parakan Dusun Cikondang, Bapak Rabin jadi Kuwu Desa Kolot dan berkembanglah Desa Bunter menjadi 2 (dua), Desa pertama yaitu Desa Kolot dan Cikancah dibagi 2 belah, wilayah-wilayah Desa Cikancah mempunyai Dusun Cisadap dan Dusun Barmanganti dan Desa Kolot menjadi 3 wilayah yuaitu Dusun Cibangban, Dusun Cikondang dan Dusun Cimacan, sepeninggalan tempat awal Desa Cijamika menjadi Dusun Bunter.[5]
Asal – Usul
Pada tahun 1860 (sezaman dengan penanaman kopi oleh kolonial Hindia Belanda) Desa Bunter dan Desa Cikancah disatukan / digabungkan oleh Kepala Desa yang bernama Rabin menjadi satu Desa yaitu Desa Bunter yang terletak di Dusun Darmanganti yang sekarang menjadi Dusun Desa sehingga struktur Pemerintahan Desa Bunter ada 7 dusun, yaitu:[5]
Desa (1 RW dan 5 RT)
Cikancah (1 RW dan 6 RT)
Cisadap (1 RW dan 5 RT)
Cibangban (1 RW dan 6 RT)
Cikondang (1 RW dan 6 RT)
Cimacan (1 RW dan 4 RT)
Bunter (1 RW dan 7 RT)
Desa Bunter waktu Kepala Desa Rabin Juru tulis Bapak Nursilam, Kulisi Bapak Angga, ningkat kana ngabihi tahun 1907 , Bapak Nursilam turunan Cirebon Elang Adibratakusumah, tetapi pada tahun 1918 daerah Lemahneundeut yang termasuk wilayah Desa Bunter, dan kewedanaan ada di Gudang Parakan Dusun Cikondang setelah ditinggalkan dan pindah ke daerah Rancah dipisahkan oleh Ondernamen menjadi daerah yang dikuasai oleh Perkebunankaret dan cokelat milik Pemerintah Kolonial Belanda yang sedang menjalankan sistem tanam paksa atau sistem perkebunan (Landelijk Stelsel) di daerah priangan (Preanger Stelsel) termasuk Desa Bunter yang dijadikan daerah penanaman karet dan cokelat pada waktu pusat Pemerintahan Desa yang terletak di Dusun Cikancah.[5]
Pusat Pemerintahan Desa yang terletak di Dusun Cikancah pada mulanya, pada tahun 1927 terjadi desakan dari masyarakat Dusun Bunter untuk memindahkan pusat Pemerintahan Desa ke Dusun Bunter akan tetapi masyarakat Dusun Cikancah menentangnya, sehingga timbul sengketa antara masyarakat Dusun Bunter dan Dusun Cikancah.[5] Namun pada tahun 1932 sengketa itu dapat diselesaikan oleh Opas Kawedanan Rancah, penyelesainnya dilakukan dengan cara mengukur jarak antara Dusun Bunter dan Dusun Cikancah di mana letak tengahnya antara Dusun Bunter dan Dusun Cikancah.[5] Hasil pengukuran tersebut menunjukan daerah Darmanganti tepat berada di tengah – tengah antara Dusun Bunter dan Dusun Cikancah.[5]
Bunter Tempo Doeloe
Pada tahun 1933 Dusun Cikancah dipisah menjadi 2 dusun yaitu Dusun Cikancah dan Dusun Desa (Darmanganti) sehingga sampai sekarang pusat Pemerintahan Desa Bunter berada di Dusun Desa.[5] Pada tahun 1918 wilayah Desa Bunter sebelah Barat dan Selatan dirubah peruntukannya oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjadi daerah kehutanan seluas 350 Ha di sebelah barat perkebunankaret seluas 85 Ha pada waktu itu Desa Bunter termasuk wilayah administrasi sub-distrik (Kecamatan) Cisaga, distrik (Kawedanan) Rancah, Residentie (Kabupaten) Galuh, Imbanagara/Ciamis, Pemerintahan Hindia Belanda.[5]