Saleh Budiman merupakan sosok pengusaha otodidak asal Tasikmalaya yang memulai perjalanan bisnisnya dari kehidupan yang sangat sederhana. Sebelum dikenal sebagai pemilik perusahaan otobus besar, ia hanyalah seorang pedagang keliling yang menggantungkan hidup dari hasil kerja keras hariannya. Meski demikian, Saleh Budiman memiliki mimpi besar untuk menjadi pengusaha sukses tanpa meninggalkan prinsip hidup hemat dan bersahaja. Setiap hari ia menyisihkan uang sebesar Rp100 dan memasukkannya ke dalam celengan kayu sebagai bentuk kedisiplinan menabung. Ketika tabungannya mencapai Rp80 ribu, uang tersebut tidak ia gunakan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan dijadikan modal awal untuk merintis usaha.[2][3]
Dengan modal yang terbilang sangat terbatas, Saleh Budiman mulai memberanikan diri terjun ke dunia bisnis yang lebih besar. Ia menjalin kerja sama dengan beberapa wirausahawan dari Kota Banjar—yang saat itu masih berstatus kota administratif di bawah Kabupaten Ciamis—serta dari Kota Bandung. Kerja sama ini dimanfaatkannya untuk membeli kendaraan niaga berupa mobil dan truk bekas yang digunakan sebagai sarana angkutan barang. Pada tahap awal pengembangan usahanya, Saleh Budiman tercatat memiliki tiga unit truk yang beroperasi untuk mengangkut berbagai kebutuhan logistik, sebuah pencapaian besar bagi seorang mantan pedagang keliling.[2][3]
Titik balik penting dalam perjalanan bisnis Saleh Budiman terjadi pada tahun 1992. Ia melihat peluang besar dalam sektor transportasi darat penumpang, khususnya di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang saat itu belum banyak dilayani secara optimal. Dengan keyakinan yang kuat, ia memutuskan membeli empat unit bus sekaligus dan mendirikan sebuah perusahaan otobus yang diberi nama sesuai nama belakangnya, yaitu Budiman. Pada hari pertama operasionalnya, bus-bus PO Budiman langsung melayani trayek selatan Jawa Barat. Keempat bus tersebut menggunakan sasis Mercedes-Benz OF 1113, yang dikenal tangguh dan andal pada masanya. Kehadiran PO Budiman pun mendapat sambutan positif dari masyarakat karena dianggap membawa standar baru dalam layanan transportasi.[3]
Budiman dengan rute Bandung–Wonogiri
Seiring berjalannya waktu, bisnis PO Budiman terus mengalami perkembangan yang signifikan. Perusahaan ini tidak hanya melayani rute lokal, tetapi juga membuka layanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan tujuan akhir wilayah Jawa Barat bagian selatan. Budiman dikenal menawarkan fasilitas dan pelayanan yang lebih nyaman dibandingkan perusahaan otobus lain pada masa itu, sehingga membuatnya cepat mendapatkan kepercayaan masyarakat. Khususnya bagi warga Tasikmalaya dan daerah sekitarnya, PO Budiman menjadi pilihan utama untuk perjalanan jarak jauh. Berkat kegigihan, konsistensi, serta strategi bisnis yang tepat, perusahaan ini tumbuh pesat hingga mampu mengoperasikan sekitar 1.000 unit armada bus.[2]
Saleh Budiman meninggal dunia pada tahun 2018 setelah berhasil membangun dan membesarkan PO Budiman menjadi salah satu perusahaan otobus terbesar di Indonesia. Sekitar satu tahun sebelum wafat, ia telah menyerahkan kepemilikan perusahaan kepada dua putranya, Dede Sudrajat dan Ateng Jaelani.[2][4] Sudrajat dikenal sebagai tokoh publik yang pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tasikmalaya selama dua periode, yakni 2007–2017, dan berdasarkan laporan LHKPN tahun 2016 tercatat memiliki kekayaan sebesar Rp15 miliar.[4] Kepemimpinan operasional PO Budiman diserahkan kepada saudara kandungnya, Ateng Jaelani, sehingga kesinambungan dan profesionalisme perusahaan tetap terjaga.[4]
Armada
Bus Budiman dengan karoseri Jetbus generasi pertama.
Dengan mengoperasikan 1.000 unit bus yang berjalan setiap hari,[2] Budiman dikenal sebagai salah satu perusahaan otobus raksasa asal Tasikmalaya yang memiliki standar operasional sangat tinggi dalam pemilihan dan perawatan armada busnya. Keberhasilan perusahaan ini dalam mempertahankan eksistensinya di jalur antarkota antarprovinsi (AKAP) tidak lepas dari strategi peremajaan armada yang konsisten dan pemilihan komponen kendaraan yang mengutamakan kenyamanan serta ketangguhan. Fokus utama PO Budiman terletak pada penyediaan layanan yang andal bagi penumpang, yang diwujudkan melalui penggunaan teknologi mesin terkini dan desain bodi bus yang mengikuti tren industri transportasi modern di Indonesia.[5]
Dalam hal spesifikasi teknis, Budiman menaruh kepercayaan besar pada keandalan produk-produk asal Jerman, yakni Mercedes-Benz, sebagai tulang punggung armada bus besarnya. Mayoritas armada yang beroperasi menggunakan sasis Mercedes-Benz tipe OH 1526 yang dikenal memiliki daya tahan mesin yang cukup tinggi untuk rute-rute jarak jauh.[6] Sementara itu, untuk segmen bus sedang yang melayani rute lebih spesifik, Budiman banyak mengandalkan sasis Mercedes-Benz tipe OF 917 yang lincah tetapi tetap bertenaga.[7] Meski saat ini Mercedes-Benz mendominasi, sejarah mencatat bahwa Budiman juga pernah mengoperasikan sasis premium lainnya seperti Volvo B7R, meskipun unit tersebut kini telah dipensiunkan dari jajaran operasional aktif mereka.[8]
Bus Budiman dengan karoseri Jetbus3+ produksi Adi Putro
Sinergi antara sasis kelas dunia dan karoseri ternama menjadi identitas kuat bagi PO Budiman. Budiman secara rutin menjalin kerja sama dengan manufaktur bodi bus papan atas seperti Adi Putro dan Laksana. Untuk unit bus besar, Budiman kerap merilis armada dengan balutan karoseri bus produksi Adi Putro asal Kota Malang, mulai dari model populer seperti Jetbus3+ HDD[6] hingga inovasi terbaru yakni Jetbus5 HDD dengan model single glass yang memberikan pandangan luas bagi penumpang.[9] Di sisi lain, untuk armada bus sedang, mereka memercayakan produksinya kepada perusahaan karoseri bus Laksana, dengan unit terbarunya adalah model Tourista SR-3 2300 Ultimate Edition yang menawarkan tampilan elegan dan modern.[7]
Keberagaman desain armada Budiman sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang dan berwarna, mencakup kolaborasi dengan berbagai perusahaan karoseri legendaris di Indonesia. Selain Adi Putro dan Laksana yang mendominasi saat ini, Budiman tercatat pernah menggunakan jasa tujuh perusahaan karoseri berbeda untuk merakit armada mereka, termasuk nama-nama besar seperti Rahayu Santosa, Tentrem, Merpati Bali, Tugas Anda, hingga Tri Sakti. Fleksibilitas dalam memilih karoseri ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi guna memberikan pengalaman perjalanan yang bervariasi tetap tetap memenuhi standar kualitas tinggi yang telah ditetapkan selama puluhan tahun.[10]
Ciri khas tampilan
Bus Budiman dengan karoseri New Setra Jetbus2+ HDD produksi Adi Putro
Ciri khas tampilan visual PO Budiman sangat mudah dikenali oleh para pengguna jalan maupun pencinta bus berkat skema warna dan grafis yang ikonik. Armada mereka identik dengan warna dasar abu-abu metalik yang memberikan kesan mewah dan bersih, dipadukan dengan grafis minimalis tetapi tegas yang menyertakan permainan garis warna merah, hijau, dan biru. Penggunaan kaca depan model single-glass pada armada-armada terbaru juga memperkuat kesan modern dan memberikan nilai estetika lebih dibandingkan model double-glass yang sempat tren sebelumnya. Kombinasi antara warna elegan, bodi dari karoseri premium, dan performa mesin Mercedes-Benz menjadikan setiap unit Budiman memiliki identitas yang kuat dan profesional di mata masyarakat.[11]
PO Budiman telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri transportasi darat di Jawa Barat dengan jaringan trayek yang sangat luas, baik untuk kategori bus antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun antarkota antarprovinsi (AKAP) sebagai lini bisnis utamanya. Berpusat di wilayah Parahyangan Barat dan Timur, khususnya Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar, perusahaan ini mengoperasikan berbagai jenis armada mulai dari bus sedang hingga bus besar untuk melayani mobilitas masyarakat.[7][6] Dalam perkembangan terbarunya di tahun 2026, Budiman melakukan ekspansi strategis dengan menambah titik keberangkatan dari Terminal Leuwipanjang, Bandung. Langkah ini mencakup pembukaan rute-rute penting menuju kawasan Jabodetabek seperti Terminal Tanjung Priok, Kalideres, dan Kampung Rambutan, yang bertujuan untuk memecah kepadatan penumpang dan memberikan opsi perjalanan yang lebih fleksibel bagi warga Bandung yang ingin menuju ibu kota.[12]
Bus sedang Budiman dengan trayek Yogyakarta–Pangandaran
Selain fokus pada jalur-jalur utama menuju Jakarta dan Banten (Serang Raya), Budiman terus memperkuat konektivitasnya ke arah timur melalui jalur selatan maupun jalur utara Jawa. Layanan AKAP Budiman secara konsisten menghubungkan Jawa Barat dengan kota-kota besar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Semarang, Surakarta, dan Kota Yogyakarta.[13][14] Inovasi rute juga terus dilakukan, misalnya pembukaan trayek bus Patas terbaru yang menghubungkan Terminal Cicaheum, Bandung, menuju Temanggung, Jawa Tengah. Pembukaan jalur Cicaheum-Temanggung ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menjangkau daerah-daerah yang memiliki permintaan tinggi tetapi sebelumnya belum terlayani secara maksimal oleh layanan kelas eksekutif atau patas baik dari Budiman maupun PO lain.[15]
Operasional Budiman juga sangat bergantung pada titik-titik simpul transportasi strategis di wilayah penyangga Jakarta, seperti Terminal Bekasi. Menjelang periode sibuk seperti libur Natal dan Tahun Baru, Terminal Bekasi menjadi salah satu basis penting, karena pihak manajemen Budiman sering memantau langsung peningkatan arus penumpang secara signifikan. Koneksi antara Tasikmalaya/Banjar dengan wilayah Jabodetabek tetap menjadi tulang punggung bisnis mereka, mengingat efisiensi jadwal dan ketersediaan tiket di terminal-terminal besar menjadi kunci keberhasilan operasional. Dengan integrasi rute yang menghubungkan Jawa Barat (Tasikmalaya, Banjar, Bandung, Cirebon) ke provinsi-provinsi tetangga, PO Budiman tidak hanya berfungsi sebagai penyedia jasa transportasi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi yang menghubungkan pusat-pusat bisnis dan pariwisata di Jawa.[16]
Bisnis nontrayek
Bus antar-jemput
Unit bus pariwisata milik Budiman dengan karoseri Jetbus 5
Selain mengandalkan armada bus besar, PO Budiman melakukan diversifikasi layanan melalui unit Budiman Trans yang menyediakan jasa bus antar-jemput (shuttle) untuk rute-rute yang lebih spesifik dan tersegmentasi. Salah satu terobosan utamanya adalah pembukaan rute perjalanan dari Bandung menuju destinasi wisata populer di pesisir selatan, yaitu Pangandaran hingga Pantai Batu Karas, yang resmi beroperasi pada 9 Januari 2024. Layanan ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan yang menginginkan kenyamanan lebih dengan unit mikrobus yang memiliki kapasitas kursi terbatas tetapi tetap premium. Dengan adanya rute ini, akses menuju Batu Karas yang dikenal sebagai surga bagi para peselancar menjadi jauh lebih praktis tanpa harus berganti kendaraan berkali-kali, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata di kawasan Parahyangan Timur.[17]
Ekspansi layanan shuttle PO Budiman juga menyentuh sektor transportasi udara dengan dibukanya konektivitas menuju pusat penerbangan di Jawa Barat, yaitu Bandara Internasional Kertajati. Mulai 23 Maret 2025, Budiman secara resmi melayani rute shuttle dari Tasikmalaya langsung menuju Bandara Kertajati guna memudahkan mobilitas masyarakat di wilayah Parahyangan Timur yang ingin melakukan perjalanan udara. Menariknya, layanan ini sering kali terintegrasi dengan program dukungan dari pemerintah daerah maupun otoritas bandara, seperti penyediaan promosi tiket atau fasilitas shuttle khusus pada periode tertentu di tahun 2025 bagi para penumpang pesawat. Dengan menghubungkan basis utama di Tasikmalaya menuju gerbang udara internasional tersebut, Budiman memperkuat perannya dalam ekosistem transportasi multimoda yang efisien di Jawa Barat.[18]
Bus pariwisata dan taksi
Selain bus antarkota dan antar-jemput, Budiman juga membuka layanan angkutan tidak dalam trayek (angkutan pariwisata dan taksi). Bus-bus Budiman yang digunakan untuk keperluan pariwisata umumnya menggunakan unit bus yang sama dengan bus antarkota, baik berupa bus sedang maupun bus besar.[19] Sementara taksi yang dioperasikan oleh Budiman melayani Kota Tasikmalaya.[20]