Bukefalos (/bjuː.ˈsɛ.fə.ləs/; Yunani Kuno: Βουκεφᾰ́λᾱς, romanized:Boukephalascode: grc is deprecated ; Inggris: Bucephaluscode: en is deprecated ; ca355SM– Juni 326SM) atau Bukefalas, adalah kuda milik Aleksander Agung dan salah satu kuda paling terkenal pada zaman klasik.[1] Menurut Roman Aleksander (1.15), nama "Bukefalos" secara harfiah berarti "berkepala lembu" (dari βοῦς, bûs, 'lembu'code: grc is deprecated dan κεφᾰλή, cephălē, 'kepala'code: el is deprecated ), dan konon berasal dari cap (atau bekas luka) penanda pada bagian paha kuda yang menyerupai bentuk kepala lembu.[2]
Patung karya John Steell menggambarkan Aleksander sedang menjinakkan Bukefalos
Bukefalos digambarkan sebagai hewan berukuran sangat besar dengan kepala yang juga sangat besar, berbulu hitam, dengan tengara bintang putih besar di dahinya.[butuh rujukan] Konon, ia memiliki mata berwarna biru pucat (wall eye),[butuh rujukan] dan garis keturunannya berasal dari "ras Tesalia terbaik".
Plutarkhos menyebutkan[4] bahwa pada tahun 344 SM, Aleksander dari Makedonia, pada usia 12 atau 13 tahun, memenangkan kuda tersebut melalui taruhan dengan ayahnya: seorang pedagang kuda bernama Philonicus dari Tesalia menawarkan Bukefalos kepada Raja Filipus II dengan harga yang sangat tinggi, yaitu 13 talenta.[a] Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjinakkan hewan tersebut, Filipus tidak tertarik. Namun, Aleksander tertarik, dan ia menawarkan diri untuk membayar sendiri kuda tersebut jika ia gagal menjinakkannya.
Aleksander diberikan kesempatan untuk menjinakkan kuda tersebut, dan mengejutkan semua orang karena ia berhasil melakukannya. Ia berbicara dengan lembut kepada kuda tersebut dan memalingkan kepala sang kuda ke arah matahari sehingga kuda tersebut tidak dapat melihat bayangannya sendiri, yang menjadi sumber kegelisahannya. Ia juga menanggalkan jubahnya yang berkibar, dan berhasil menjinakkan kuda tersebut. Plutarkhos mengatakan bahwa peristiwa tersebut begitu mengesankan bagi Filipus sehingga Filipus berkata kepada Aleksander, "Wahai putraku, carilah kerajaan yang setara dengan dirimu dan layak bagimu, karena Makedonia terlalu kecil bagimu."[4] Menurut A. R. Anderson, ucapan Filipus tersebut merupakan satu-satunya bagian yang kurang meyakinkan dalam anekdot tersebut;[5] yang mencatat bahwa perkataan tersebut merupakan embrio dari legenda yang kemudian berkembang sepenuhnya dalam Sejarah Aleksander I.15, 17.
Roman Aleksander menyajikan berbagai versi mitis mengenai sifat dan asal-muasal Bukefalos, dengan setiap resensi dan manuskrip memuat rincian yang berbeda-beda. Setelah kembali dari sebuah kampanye militer, Filipus bertanya kepada Orakel Delfi mengenai siapa yang akan menjadi raja setelah dirinya. Pithia menjawab bahwa orang yang kelak akan menguasai seluruh dunia adalah orang yang menunggangi Bukefalos melintasi pusat kota Pella. Dalam manuskrip A, Bukefalos adalah seekor kuda pemakan manusia (di sini tidak disebutkan asal-muasalnya), yang Filipus perintahkan untuk dikurung. Saat mendengar suara Aleksander, kuda tersebut langsung menjadi tenang dan mengakui Aleksander sebagai tuannya. Aleksander kemudian melompat ke punggung Bukefalos dan menungganginya melintasi pusat kota Pella.[6]
Di dalam manuskrip lain, Bukefalos dikirim oleh seorang pangeran di Kapadokia kepada Filipus saat masih berupa anak kuda. Dalam versi ini, ia juga merupakan kuda pemakan manusia, tetapi digambarkan pula sebagai seekor kuda yang berukuran besar dan gagah dengan kepala yang berbentuk bundar sempurna, yang tampak bagaikan permata menonjol dari dahi dan bagian belakang kepalanya. Dalam tradisi ini, Filipus diberi tahu melalui mimpi bahwa orang yang dapat menunggangi Bukefalos akan menjadi penerusnya.[7] Dengan demikian, penjinakan Bukefalos berfungsi untuk menunjukkan bahwa Aleksander layak memerintah.[8]
Aleksander dan Bukefalos
Aleksander dan Bukefalos di tengah peperangan pada Pertempuran Issos, digambarkan dalam Mosaik AleksanderAlexander the Great Taming Bucephalus karya Benjamin Robert Haydon, 1826
Sebagai salah satu kuda perang Aleksander, Bukefalos mendampinginya dalam berbagai pertempuran.
Besarnya penghargaan yang diberikan Aleksander kepada Bukefalos mencerminkan sikap Achilles, pahlawan dan yang dianggap sebagai leluhurnya, yang menyatakan bahwa kuda-kuda miliknya "dikenal melebihi seluruh kuda lainnya—karena mereka abadi. Poseidon memberikan mereka kepada ayahku, Peleus, yang kemudian memberikan mereka padaku."[9]
Arrian menyatakan, dengan Onesikritos sebagai sumbernya, bahwa Bukefalos mati pada usia 30 tahun. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Bukefalos mati bukan akibat usia tua atau kelelahan, tetapi akibat cedera fatal yang dialaminya dalam Pertempuran Hidaspes (Juni 326 SM), saat pasukan Aleksander mengalahkan Raja Porus. Aleksander segera mendirikan sebuah kota, Bukefala, sebagai bentuk penghormatan terhadap kudanya. Kota tersebut terletak di tepi barat Sungai Hidaspes (kini Jhelum, Pakistan).[10] Kota Jalalpur Sharif modern, yang terletak di luar Jhelum, dikatakan sebagai lokasi di mana Bukefalos dikuburkan.[11]
Legenda tentang Bukefalos berkembang sejalan dengan legenda mengenai Aleksander, dimulai dari kisah fiksi bahwa mereka lahir pada waktu yang sama: beberapa versi Roman Aleksander selanjutnya juga menyatakan bahwa mereka meninggal pada jam yang sama.[12] Bukefalos muncul di hampir seluruh versi Roman Aleksander Versi Armenia, dan ilustrasi visual dalam manuskrip yang masih bertahan terkadang menampilkan adegan-adegan yang melibatkan Bukefalos.[2]
Dalam beberapa versi Roman Aleksander, Bukefalos melahap pembunuh Aleksander.[8]
Dalam budaya populer
Beberapa novel menggunakan "Bukefalos" sebagai nama untuk seekor kuda, sering kali dengan makna simbolis. Sebagai contoh, dalam novel Fortune's Favorites (novel ketiga dalam seri Masters of Rome) karya Colleen McCullough, Julius Caesar muda diam-diam memiliki seekor kuda yang ia beri nama Bukefalos, dan ibunya melihat hal tersebut sebagai pertanda ambisi masa depannya.[13]
Dalam cerita pendek The New Advocate karya Franz Kafka, tokoh pengacara dalam cerita tersebut digambarkan menyerupai Bukefalos.[14]
Catatan
↑Loeb (1919) menilai satu talenta setara dengan £235, atau $1.200; Thayer memberi nilai $15,600 (2007).[4]
12Ogden, Daniel (2021). "'The Mares of Diomede (and Alcestis)'". Dalam Daniel, Ogden (ed.). The Oxford Handbook of Heracles. Oxford University Press. hlm.121.