Bojonggede (Aksara Sunda: ᮘᮧᮏᮧᮀᮌᮨᮓᮦ) adalah sebuah kecamatan yang terletak di bagian utara hingga tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan berbatasan langsung di sebelah selatan dengan Kota Bogor, tepatnya dengan KecamatanTanah Sareal. Pada awalnya Bojonggede adalah bagian dari Kecamatan Depok yang dimekarkan pada tahun 1981. Nama Bojonggede sendiri berasal sebuah batu besar yang menonjol atau mencorok ke dalam di lubang bantaran Kali Ciliwung.[1]
Bojonggede adalah salah satu dari hanya beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor yang di mana bahasa dominannya justru Bahasa Betawi Ora, bersama dengan Tajurhalang, Parung, dan Gunung Sindur, bukan dominan menggunakan Bahasa Sunda dialek Bogor sebagaimana kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bogor lainnya.[2]
Penutur Bahasa Betawi di Bojonggede tersebar di seluruh desa dan kelurahan serta umumnya menggunakan Dialek Betawi Ora yang merupakan percampuran bahasa dengan Bahasa Sunda Bogor dan Bahasa Jawa. Ragam Bahasa Betawi di Bojonggede sangat unik karena lebih banyak menyerap kosakata dari Bahasa Sunda sebagai bukti adanya akulturasi dan asimilasi dengan budaya Sunda.[3]
Sedangkan penutur Bahasa Sunda umumnya menggunakan Dialek Sunda Bogor, penuturnya dominan lanjut usia. Anak muda di Bojonggede banyak yang bisa memahami Bahasa Sunda namun tidak menggunakannya dalam keseharian sehingga dapat diklasifikasikan sebagai penutur pasif. Bahasa Sunda di Kecamatan Bojonggede tersebar di beberapa titik khususnya di Desa/Kelurahan Bojonggede, Waringin Jaya, Cimanggis, Susukan.[4]
Pada masa kepemimpinan Bupati Rahmat Yasin, mulai bergulir tuntutan warga kecamatan Bojonggede bersama warga kecamatan Tajurhalang yang menuntut pemisahan diri dari Kabupaten Bogor dan bergabung kedalam wilayah Kota Depok. Tuntutan ini dipicu oleh warga di kedua kecamatan itu merasa di anak tirikan oleh Kabupaten Bogor serta masih terdapat dualisme otoritas antara Kabupaten Bogor dan Kota Depok di dua kecamatan tersebut.[5]