Pakaian yang telah dicuci bersih dan dikemas rapi di sebuah gerai penatu komersial.
Penatu (atau bentuk tidak bakunya binatu, juga sering disebut benara, dobi, atau londri; dalam bahasa Inggris: laundry) adalah sarana, fasilitas, atau sektor usaha yang bergerak di bidang jasa pencucian, penyetrikaan, dan pengeringan pakaian serta tekstil lainnya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata penatu didefinisikan sebagai "usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian (penyetrikaan) pakaian; dobi; benara."[1] Istilah ini disajikan sebagai bentuk baku resmi yang dianjurkan untuk menggambarkan seluruh ekosistem industri pencucian pakaian modern agar mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Peristilahan dan etimologi
Istilah dobi yang kerap digunakan di beberapa daerah di Indonesia diserap dari bahasa Hindi (dhobi, bahasa Hindi:धोबीcode: hi is deprecated ) yang secara historis merujuk pada kasta masyarakat penyedia jasa pencucian pakaian di India. Secara etimologi, kata ini berpadanan dengan sejumlah istilah lokal lain dalam bahasa Indonesia, seperti binatu, benatu, dan benara.[2]
Kata laundry dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin lavandaria, yang merupakan turunan dari kata kerja lavare yang berarti "mencuci". Adapun istilah laundromat, yang kadang diserap langsung ke dalam bahasa percakapan sehari-hari, awalnya merupakan merek dagang yang diciptakan oleh George Edward Pendray dari Westinghouse Electric Corporation pada tahun 1940 dengan menggabungkan kata laundry dan automat.
Jejak historis kegiatan penatu di Nusantara dapat ditemukan dalam berbagai toponim asli daerah. Gang Penatu di Banjarmasin, Kampung Dobi di Bandung (kawasan Ciguriang), aktivitas binatu di sepanjang Sungai Ciliwung di Batavia (kini Jakarta), hingga Jalan Minatu di Lembang adalah beberapa contoh nyata yang menunjukkan betapa aktivitas cuci-mencuci telah lama berakar dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Sejarah
Masa pra-modern
Kegiatan mencuci pakaian secara komunal telah dikenal sejak peradaban kuno. Bangsa Romawi kuno bahkan mengembangkan sistem penatu komersial terorganisir yang disebut fullonicae, yaitu sebuah sistem ketika para pekerja profesional yang disebut fullones mencuci pakaian dalam bak batu menggunakan amonia serta zat alami lainnya, lalu memanfaatkan saluran akuaduk untuk mengalirkan air bersih ke fasilitas pencucian. Di Asia, termasuk di Nusantara, kegiatan mencuci secara tradisional dilakukan di sungai-sungai karena aliran air yang deras terbukti membantu melarutkan kotoran dan noda dari serat kain.
Mekanisasi dan industrialisasi
Mesin cuci bertenaga tangan pertama diklaim ditemukan pada tahun 1782 oleh seorang warga Inggris bernama H. Sidgier, berupa sebuah tong dan batang engkol yang diputar secara manual. Mesin cuci listrik komersial mulai berkembang pada awal abad ke-20, meskipun pada saat itu harganya masih sangat mahal sehingga hanya terjangkau oleh kalangan industri atau keluarga kaya tertentu.
Dalam perkembangannya, industri penatu modern mulai berkembang pesat seiring dengan ditemukannya teknologi mekanisasi otomatis. Salah satunya adalah merek dagang mesin cuci otomatis komersial legendaris bernama Laundromat, yang awalnya merupakan merek dagang paten milik perusahaan Westinghouse Electric Corporation.[3]
Perkembangan di Indonesia
Di Indonesia, layanan penatu profesional mulai berkembang pesat seiring laju urbanisasi pada era 1970-an. Pertumbuhan jumlah pekerja perempuan dan keluarga dengan dua pencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung mendorong permintaan tinggi terhadap jasa pencucian pakaian praktis. Pada masa inilah konsep laundry kiloan, yaitu metode pengoperasian dengan tarif yang dihitung berdasarkan berat bersih cucian dalam satuan kilogram, mulai diperkenalkan dan tumbuh menjadi komoditas bisnis yang menjanjikan.
Memasuki era 2000-an, teknologi mesin cuci otomatis semakin terjangkau dan pilihan layanan penatu semakin bervariasi. Berbagai jaringan penatu kiloan berbasis waralaba (franchise) bermunculan secara masif di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta, terutama untuk melayani keperluan mahasiswa dan pekerja muda yang memiliki keterbatasan waktu.
Jenis layanan
Aktivitas penyetrikaan pakaian di sebuah gerai penatu lokal di Jakarta.
Sektor usaha penatu modern mencakup berbagai jenis layanan spesifik, mulai dari skala rumahan hingga kebutuhan industri:
Penatu kiloan
Model layanan yang sangat populer di Indonesia di mana tarif pengerjaan dihitung berdasarkan berat kotor pakaian dalam satuan kilogram. Pelanggan akan menerima kembali pakaian mereka dalam keadaan sudah dicuci bersih, dikeringkan, disetrika, dan dilipat rapi di dalam kemasan. Jenis layanan ini dikenal di beberapa negara barat dengan istilah wash and fold atau fluff and fold.
Penatu satuan
Jasa pencucian per helai pakaian yang membutuhkan penanganan atau perhatian khusus, seperti gaun pesta, kebaya, batik sutra, atau setelan jas. Sistem tarifnya dihitung per item barang dan tidak menggunakan sistem timbangan berat kiloan.
Cuci kering (dry cleaning)
Metode pembersihan kain tanpa menggunakan media air, melainkan menggunakan cairan pelarut kimia khusus untuk mengangkat kotoran pada bahan kain sensitif yang rentan rusak, menyusut, atau memudar warnanya jika terkena air konvensional.
Sejarah cuci kering berawal pada sekitar tahun 1825, ketika seorang pengusaha pewarnaan kain di Paris bernama Jean-Baptiste Jolly secara tidak sengaja menemukan bahwa tumpahan minyak lampu kerosin justru membersihkan noda di atas taplak meja linen miliknya. Ia kemudian mengembangkan temuan tersebut dan mulai menawarkan jasa pembersihan menggunakan pelarut berbasis minyak bumi.[4]
Pada abad ke-20, jenis pelarut yang digunakan berkembang dari bahan berbasis minyak bumi (yang rentan terbakar) menjadi tetrakloroetilena (dikenal juga sebagai perchloroethylene atau PERC). Bahan ini menjadi pelarut dominan di industri cuci kering sejak era 1960-an. PERC sangat efektif membersihkan kotoran berbasis lemak dan minyak pada kain-kain sensitif seperti sutra, wol, beludru, atau kulit. Namun karena sifat kimianya yang berbahaya bagi kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan, penggunaan PERC mulai dibatasi secara ketat di berbagai negara, yang kemudian mendorong perkembangan varian pelarut alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Penatu linen dan tekstil komersial
Selain melayani pelanggan perorangan, banyak perusahaan penatu beroperasi dalam skala besar komersial untuk melayani kebutuhan institusi, seperti hotel, rumah sakit, restoran, dan maskapai penerbangan. Jenis layanan ini menangani pencucian linen, seprai, handuk, dan seragam karyawan dalam jumlah besar secara harian dengan standar sanitasi yang tinggi.
Operasional dan ketenagakerjaan
Berdasarkan pembagian operasionalnya, beberapa usaha penatu mempekerjakan staf khusus untuk melayani seluruh kebutuhan pelanggan secara penuh (full-service laundry). Fasilitas layanan minimal biasanya menyediakan seorang petugas di belakang meja kasir untuk mengurus penukaran uang, menjual bubuk cuci, dan mengawasi mesin agar tidak disalahgunakan. Sementara itu, model penatu swalayan modern umumnya beroperasi sepenuhnya tanpa petugas stasioner, mengandalkan sistem otomatisasi mesin dan interaksi pembayaran digital.
Berdasarkan data kosakata KBBI, terdapat pula istilah khusus penatu kimia, yaitu usaha yang bergerak di bidang pencucian pakaian tidak dengan air, melainkan dengan pelarut kimia seperti nafta atau karbon tetraklorida, yang pada dasarnya merupakan padanan istilah Indonesia resmi untuk jasa cuci kering.