Pengki, Somad, dan Achie menyabotase kasino ilegal di Jakarta. Mereka menguras seluruh uang taruhan untuk menebus tanah yang akan digusur. Kasino yang mereka sabot adalah milik Said yang saat itu sedang berjudi bersama Hengki. Dua orang ini adalah mafia terbesar yang menguasai bisnis judi. Masalah menjadi bertambah rumit ketika Pengki jatuh cinta pada biduan Aida simpanan Said, yang dijual oleh orangtuanya untuk bayar utang. Sebagai anak Betawi kaya, Pengki dianggap lelaki tak berguna. Maminya selalu menganggap Pengki hanya sebatas anak manja yang menghambur-hamburkan uang ibunya. Cintanya kepada Aida mengubah sikap Pengki. Pengki jadi punya cita-cita: memiliki sekolah yang bisa menampung anak-anak miskin. Sayangnya, Said memergoki hubungan Pengki-Aida sekaligus berhasil membongkar kedoknya saat dia menyatroni kasino miliknya. Di tengah situasi yang pelik itu, Hengki datang dan mengajak Pengki, Somad, dan Achie untuk bekerja sama. Diam-diam Hengki menaruh dendam dengan Said karena arloji berharganya tersandera oleh Said. Hengki meminta Pengki untuk mengambil arloji miliknya tersebut sekalian mengambil seluruh kontrak utang piutang orang tua Aida kepada Said. Dengan begitu Pengki bebas bisa mengambil Aida dari tangan Pengki. Pengki dkk membobol rumah Said.