ca10–20 luka/terpapar gas; beberapa dirawat di rumah sakit[1][2]
Ditangkap
16 orang awalnya ditahan; penangkapan tambahan diumumkan kemudian[3][4]
Bentrokan di kampus UNISBA–UNPAS 2025 merujuk pada penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan Indonesia di sekitar kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan Universitas Pasundan (UNPAS) pada malam 1 September 2025 di tengah Unjuk rasa dan kerusuhan Indonesia Agustus–September 2025.[5][6] Polisi menyatakan bahwa gas air mata diarahkan ke massa di Jalan Tamansari untuk membubarkan dugaan elemen "anarkis" dan tidak ada aparat yang masuk ke area kampus,[7][8] sementara pimpinan mahasiswa dan saksi mata menuduh tembakan diarahkan ke area kampus, memengaruhi posko medis dan fasilitas mahasiswa.[9] Insiden ini memicu kecaman dari kelompok HAM; Amnesty International Indonesia mendesak investigasi atas kematian terkait unjuk rasa serta mengkritik penembakan gas air mata yang berdampak pada kampus UNISBA–UNPAS.[10]
Unjuk rasa dipicu oleh usulan tunjangan perumahan baru sebesar Rp50 juta per bulan untuk anggota DPR, yang dinilai berlebihan di tengah kesulitan ekonomi rakyat.[11] Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), total gaji take-home-pay dapat mencapai Rp230 juta per bulan atau sekitar Rp2,8 miliar per tahun.[12] Kemarahan publik makin memuncak setelah terlontarkannya pernyataan-pernyataan kontroversial dari sejumlah anggota DPR.[13]
Unjuk rasa ini juga berakar dari insisden pembunuhan Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring yang tertabrak kendaraan taktis Brimob di sekitar lokasi demo di Jakarta pada 28 Agustus 2025.[14]
Gelombang demonstrasi mahasiswa di Bandung memuncak pada Senin, 1 September 2025. Setelah aksi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat berakhir sore hari sekitar pukul 17.00–18.00 WIB, sebagian mahasiswa kembali ke kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan Universitas Pasundan (UNPAS) di Jalan Tamansari.[15] Sejak awal pekan itu, kampus UNISBA dan UNPAS menjadi posko medis darurat untuk merawat pengunjuk rasa yang terluka atau terkena dampak gas air mata.[15][16] Pihak kampus bahkan mengizinkan tim Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) serta relawan medis untuk membuka pos sejak 30 Agustus. Mahasiswa dari berbagai kampus menggunakan area UNPAS/UNISBA sebagai titik kumpul dan evakuasi, sehingga pada malam kejadian banyak orang berlindung di sana, tidak hanya mahasiswa UNPAS maupun UNISBA.[17] Sementara itu, aparat keamanan terdiri dari personel Kapolda Jawa Barat, Satpol PP Kota Bandung, Korps Brigade Mobil (Brimob), serta dukungan Komando Daerah Militer Siliwangi.[18]
Peta bentrokan
Malam itu sekitar pukul 21.30 WIB, kericuhan mulai pecah di kawasan Jalan Tamansari dekat kedua kampus.[15] Menurut laporan polisi, patroli gabungan besar-besaran TNI–Polri menyisir jalan-jalan Bandung setelah membubarkan massa di gedung DPRD Jawa Barat, lalu menemui "barikade ilegal" di Jalan Tamansari yang menarik perhatian polisi ke arah kampus. Aparat menyebut sekelompok "anarkis" berpakaian hitam memprovokasi dengan melemparkan molotov cocktail dari dalam area UNISBA.[18] Sebagai balasan, pasukan anti huru-hara menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan di jalan raya.[19]
Polisi memasuki Kampus UNISBA Tamansari, Bandung. Mahasiswa dilaporkan mencoba bertahan di dalam gedung kampus.[20]TNI Anoa memblokir pintu masuk Kampus UNISBA.
Menjelang tengah malam, situasi di sekitar kampus UNISBA dan UNPAS memanas. Sekitar pukul 23.30–23.40 WIB, aparat gabungan mulai menembakkan gas air mata ke arah kedua kampus.[15][21] Rekaman CCTV yang beredar memperlihatkan personel Brimob dan TNI bersenjata lengkap menyisir kawasan Tamansari hingga depan kampus, disertai kendaraan taktis lapis baja yang berpatroli di sekitar gerbang.[16][22] Mahasiswa yang masih berada di area kampus panik dan berlari mencari perlindungan ke dalam gedung, sementara terdengar teriakan protes terhadap tindakan aparat: "Hei, ini kampus!... Ini Kampus UNPAS!".[16] Aparat terus menembakkan gas air mata hingga lewat tengah malam, dan kericuhan baru reda pada dini hari 2 September 2025 sekitar pukul 01.00 WIB.[15]
Perwakilan mahasiswa menuduh aparat menerobos masuk kampus dan sengaja menembakkan gas air mata ke dalam area.[21] Presiden BEM UNPAS, Ridho Dawam, menyatakan bahwa pukul 23.30 WIB polisi dan TNI masuk ke kampus UNPAS dan melepaskan lebih dari 30 tembakan gas air mata ke arah kerumunan mahasiswa, posko medis, bahkan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).[19] Sejumlah video amatir juga merekam mahasiswa berteriak: "Ditembakeunna ka dieu, bos!"code: su is deprecated (artinya "Mereka menembaki ke arah kami [kampus]", yang mengonfirmasi gas air mata memang diarahkan ke area kampus.[16] Selain gas air mata, ada laporan aparat membawa pentungan dan tameng; tetapi polisi membantah adanya kekerasan lain seperti tembakan peluru karet malam itu. Kepala Humas Polda Jabar, Komisaris Besar Hendra Rochmawan, mengklaim gas air mata ditujukan ke massa di jalan, tetapi "terbawa angin" masuk ke kampus. Pernyataan resmi polisi menegaskan tidak ada aparat masuk kampus dan tidak ada peluru karet yang digunakan.[18][23] Rektor Unisba, Harits Nu'man, juga mendukung pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa patroli gabungan TNI–Polri tidak memasuki area kampus.[19]
Dampak
Dalam insiden penembakan gas air mata di kampus ini, puluhan orang mengalami luka-luka. Setidaknya 12 mahasiswa dilaporkan pingsan setelah menghirup gas air mata secara langsung dan dievakuasi ke dalam gedung kampus untuk mendapat pertolongan.[21] Banyak lainnya mengalami sesak napas, mata perih, dan panik. Menurut Presiden BEM UNISBA, sekitar 10–20 orang menderita luka ringan dan gangguan pernapasan, termasuk seorang satpam kampus yang terkena tembakan tabung gas air mata di dada. Para korban yang pingsan dan terluka dirawat tim medis kampus dan relawan, dibantu warga sekitar yang datang membawa air bahkan mengoleskan pasta gigi di sekitar mata korban untuk mengurangi rasa perih akibat gas.[15] Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meski beberapa mahasiswa dilaporkan mengalami trauma dan syok hingga keesokan harinya.[19]
Dampak fisik terhadap fasilitas kampus juga terlihat jelas. Di Kampus UNPAS Tamansari, sejumlah kaca jendela pecah akibat tembakan tabung gas air mata ke arah bangunan. Panel dinding salah satu gedung rusak dan berlubang, diduga akibat proyektil gas.[17] Sepeda motor milik mahasiswa yang diparkir di luar gerbang juga ikut terbakar saat kerusuhan.[15] Keesokan paginya, petugas keamanan kampus dan mahasiswa mengumpulkan tabung gas air mata yang berserakan di area. Setidaknya 48 tabung kosong ditemukan di area kampus UNPAS dan UNISBA setelah kejadian, jumlah yang menunjukkan volume tembakan aparat malam itu.[15][17] Tabung-tabung ini kini diamankan pihak kampus sebagai barang bukti dan akan dijadikan dasar laporan pelanggaran.[17]
Juru bicara polisi menyatakan dalam operasi patroli ini mereka berhasil menangkap beberapa tersangka. Dua di antaranya kedapatan membawa softgun berisi kelereng serta ganja.[24]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.