Salah satu buku yang membahas sejarah Benteng Trumon.
Benteng Trumon merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Trumon yang terletak di Desa Keude Trumon, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Struktur pertahanan ini juga dikenal dengan sebutan Benteng Kuta Batee Trumon. Pembangunannya dilaksanakan pada era kekuasaan Raja Fansurna Alamsyah (Teuku Raja Batak), penguasa ketiga dalam dinasti Kerajaan Trumon. Sebagai salah satu bukti arkeologis penting, benteng ini merepresentasikan sistem pertahanan dan arsitektur tradisional Aceh pada masa kesultanan.[1]
Etimologi
Nama Benteng Trumon merujuk pada benteng pertahanan Kerajaan Trumon, sebuah kerajaan kecil di Aceh Selatan yang didirikan pada abad ke-18 oleh Teuku Djakfar (Labai Daffa), seorang keturunan Arab yang berprofesi sebagai saudagar dan ulama. Istilah "Trumon" diduga berasal dari bahasa lokal dengan pengaruh kosakata Arab, mencerminkan latar belakang pendirinya. Benteng ini juga dikenal sebagai Benteng Kuta Batee Trumon (Benteng Batu Trumon), yang mengacu pada material bangunannya yang dominan terbuat dari batu serta fungsinya sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan, khususnya pada masa pemerintahan Raja Fansurna Alamsyah (Teuku Raja Batak).[2]
Sejarah
Benteng Trumon merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Trumon yang berkuasa di Aceh Selatan antara tahun 1780-1842. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Fansurna Alamsyah (Teuku Raja Batak), penguasa ketiga kerajaan tersebut. Secara arsitektural, benteng ini memiliki denah segi empat dengan sistem pertahanan berlapis, yang terdiri dari dinding luar setinggi 4 meter yang dikelilingi parit selebar 3 meter, dan dinding dalam setinggi 2 meter. Terdapat 32 lubang meriam dan sistem pengintaian yang menunjukkan fungsi utamanya sebagai pertahanan militer.[3][4]
Fungsi Ekonomi dan Budaya
Selain sebagai benteng pertahanan, kompleks ini berperan penting sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya Kerajaan Trumon. Di dalamnya terdapat ruang percetakan uang kerajaan (mata uang Nagari Trumon) yang terbuat dari emas, perak, serta perunggu dan menjadi alat tukar resmi dengan pedagang dari Arab, India, dan Eropa. Letaknya yang strategis di pesisir menjadikannya pusat perdagangan rempah-rempah, terutama lada dan cengkih. Benteng ini juga menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara adat kerajaan, mencerminkan perpaduan budaya lokal dengan pengaruh Arab.[3][4]
Upaya Pelestarian
Sebagai salah satu dari 1.003 cagar budaya di Aceh, Benteng Trumon kini menjadi destinasi wisata sejarah penting. Pemerintah setempat melalui Dinas Pariwisata Aceh Selatan terus berupaya melakukan konservasi dan pengembangan potensi wisata situs ini. Keberadaannya tidak hanya menjadi bukti sejarah kejayaan Kerajaan Trumon, tetapi juga merepresentasikan perkembangan arsitektur pertahanan, sistem ekonomi, dan jaringan perdagangan internasional Aceh di masa lalu.[3]