Benteng Amurang adalah struktur pertahanan kolonial yang terletak di Kota Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Benteng ini merupakan tinggalan arkeologis yang berkaitan dengan kedatangan Portugis dan, pada masa selanjutnya, Spanyol di wilayah pesisir Amurang pada awal abad ke-16.[1] Situs ini menjadi salah satu bukti awal interaksi kekuatan Eropa dengan komunitas lokal di wilayah Minahasa Selatan dan kini termasuk dalam objek cagar budaya yang dikunjungi untuk kepentingan sejarah dan pariwisata.[2]
Sejarah Pembangunan
Pembangunan benteng ini dikaitkan dengan kedatangan bangsa Portugis pada tahun 1512. Pembangunan dilakukan di bawah pimpinan Anthony d'Abreu yang tiba di mulut Teluk Amurang dalam rangka memperkuat posisi perdagangan dan pertahanan dari ancaman perompak.[1] Struktur ini menjadi salah satu fasilitas militer penting pada awal kehadiran Portugis di wilayah utara Pulau Sulawesi.
Selain Portugis, bangsa Spanyol juga diketahui mendirikan benteng serupa setelah melakukan pendaratan di perairan Mobongo, Kawangkoan Bawah, Amurang.[2] Benteng Spanyol tersebut disebut New Spain dan memiliki fungsi utama sebagai pertahanan serta kediaman serdadu. Bangunan tersebut kemudian mengalami kerusakan akibat peperangan dan aktivitas pembangunan pada masa-masa selanjutnya. Sisa-sisa struktur Spanyol kini dapat ditemukan di sekitar pesisir dekat Gereja GMIM Kawangkoan Bawah.[1]
Lokasi dan Struktur Bangunan
Benteng Portugis Amurang terletak di Jalan Pasar 54 ,Kelurahan Uwuran Dua, Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara,[3] dan dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari Kota Manado melalui jalur darat.[2] Dari tampak luar, struktur utama benteng menyerupai huruf “D” dengan luas sekitar 25 x 50 meter dan ketinggian dinding mencapai empat meter.[1] Ukuran ini diduga lebih kecil dibandingkan konstruksi awalnya karena kerusakan akibat peperangan, pertumbuhan penduduk, dan pembangunan kota pada masa setelahnya.
Di bagian kiri belakang benteng terdapat sebuah tangga yang cukup terjal, yang menurut sumber lokal dibangun mengikuti standar ukuran tubuh orang Eropa. Di dalam benteng dahulu terdapat fasilitas militer seperti gudang penyimpanan senjata, barak, dan sebuah kapel. Lokasi kapel diperkirakan berada di area yang kini berdiri Gereja GMIM Sentrum Syalom Amurang.[2]
Bahan utama konstruksi benteng adalah batu karang yang direkatkan menggunakan putih telur burung maleo. Penggunaan telur burung maleo secara intensif pada masa pembangunan benteng disebut berkontribusi terhadap penurunan populasi spesies tersebut. Sejumlah meriam yang dulunya menjadi bagian dari perlengkapan pertahanan benteng kini tersimpan di beberapa lokasi, seperti Lapangan Kompi Cobra C712 dan Kodim 131 Santiago Manado.[1] Menurut keterangan penjaga situs, pada masa lalu Benteng Amurang memiliki sembilan meriam yang ditempatkan di bagian atas benteng sebagai perlengkapan pertahanan. Meriam-meriam tersebut kemudian dipindahkan ke sejumlah lokasi di Manado dan Tondano, sementara waktu meriam lainnya berada di kawasan asrama TNI AD Pondang, Amurang.[4]
Benteng Spanyol (New Spain)
Setelah Portugis, bangsa Spanyol membangun benteng kedua yang berada tidak jauh dari lokasi benteng Portugis.Benteng ini digunakan sebagai pusat pertahanan, gudang peralatan militer, dan tempat tinggal serdadu. Spanyol juga mendirikan kapel yang kini berada di lokasi Gereja GMIM Imanuel Kawangkoan Bawah. Di sekitar kawasan gereja tersebut ditemukan sejumlah kuburan orang Spanyol dari masa pendudukan mereka.[2]
Masyarakat lokal meyakini bahwa area benteng Spanyol memiliki ruang bawah tanah yang menyimpan mata uang kuno dan benda logam berharga.[2] Namun, akses menuju ruang-ruang bawah tanah tersebut tertutup oleh reruntuhan bangunan sehingga belum dapat ditelusuri lebih jauh.
Kerusakan dan Pembongkaran
Menurut sejumlah sumber, bangunan Portugis dan Spanyol di Amurang pernah dibongkar pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1807–1815).[2] Pembongkaran lanjutan kembali dilakukan pada masa pendudukan Jepang. Aktivitas tersebut menyebabkan sebagian besar struktur asli mengalami kerusakan, sehingga yang tersisa kini hanya bagian tertentu dari dinding benteng Portugis.
Status Cagar Budaya dan Pariwisata
Benteng Amurang kini berfungsi sebagai salah satu objek wisata budaya dan sejarah di Minahasa Selatan.[2] Sisa bangunan yang masih bertahan menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan sejarah interaksi kolonial Eropa dan perkembangan permukiman di pesisir Amurang. Pemerintah daerah serta komunitas sejarah lokal menjadikan situs ini sebagai bagian dari wisata kepurbakalaan yang meliputi pengunjung domestik maupun peneliti sejarah maritim dan kolonial.