Adegan di samping terakhir Gulungan Peringatan ini memperlihatkan seorang wanita istana duduk merenung dengan tenang, barangkali mengikuti nasihat dalam baris-baris yang menyertainya:[1] "Oleh sebab itu, saya katakan: Berhati-hatilah dan beringat-ingatlah dalam segala hal yang engkau lakukan dan dari sini nasib baik akan muncul. Pikirkan dengan tenang dan penuh hormat tentang tindakan engkau dan kehormatan serta ketenaran akan menanti engkau."
Refleksi diri adalah kemampuan untuk menyaksikan dan menilai proses kognitif, emosional, dan perilaku kita sendiri. Dalam psikologi, istilah lain yang digunakan untuk pengamatan diri ini mencakup 'kesadaran reflektif', dan 'keinsafan reflektif', yang berasal dari karya William James.[2][3]
Refleksi diri bergantung pada serangkaian fungsi, termasuk wawas diri dan metakognisi, yang berkembang sejak bayi hingga remaja, memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain dan mengambil keputusan.[4]
Konsep refleksi diri sudah purba. Lebih dari 3.000 tahun yang lalu, "kenali dirimu" adalah yang pertama dari tiga pepatah Delfi yang tertulis di halaman depan Kuil Apollo di Delfi.[6] Hal ini juga dianggap sebagai sebentuk pemikiran yang menghasilkan makna baru[7] dan peluang untuk menghadapi hal-hal yang tampaknya tidak sesuai.[8]