Pembangkit listrik yang tidak mengubah jumlah produksi secara cepat, seperti PLTU atau PLTN, umumnya disebut sebagai pembangkit listrik pemikul beban dasar.[2][5]
Deskripsi
Operator sistem transmisi biasanya secara rutin menggelar lelang jangka pendek dan jangka panjang yang diikuti oleh para operator pembangkit, untuk menentukan pembangkit mana yang cocok untuk memasok listrik ke sistemnya, sekaligus menyeimbangkan pasokan dengan permintaan pengguna secara terus-menerus.[6]
Dalam sejarahnya, sistem tenaga listrik besar biasanya menggunakan satu jenis pembangkit listrik untuk memasok beban dasar, walaupun tidak ada peraturan yang mengharuskan hal ini. Beban dasar dapat juga dipasok oleh sejumlah energi terbarukan variatif dan pembangkit listrik cadangan.[3][4]
Interupsi pasokan dapat terjadi pada semua pembangkit dan menyebabkan kerusakan. Kekeringan dapat mengganggu PLTA, membekunya batu bara dapat mengganggu PLTU, dan kebocoran atau penyumbatan pipa dapat mengganggu PLTG.
Operator sistem tenaga listrik juga dapat memakai tirai untuk melepas pembangkit dari sistem apabila produksinya tidak dibutuhkan.[9][10]
Terdapat 195.000 MW penyimpanan listrik yang terpasang di seluruh dunia; 94% berupa penampungan air di dekat bendungan; 2% berupa baterai.[11] Penampungan air menggunakan listrik pada saat permintaan rendah, biasanya saat malam, untuk memompa air dari penampungan air di bawah ke penampungan air di atas, untuk kemudian diturunkan lagi dengan melewati turbin, selama permintaan tinggi, biasanya pada siang hari. Ketersediaan tenaga surya pada jam puncak di siang hari dapat mengurangi kebutuhan penyimpanan. Fasilitas penyimpanan energi terbesar di dunia berada di perbatasan Virginia-West Virginia, dengan kapasitas 50% lebih banyak dari Bendungan Hoover.[12]
Ekonomi
Operator sistem transmisi mengadakan lelang untuk mendapatkan harga listrik termurah dari beberapa pembangkit dalam jangka waktu tertentu.[13]
PLTU dan PLTN memiliki biaya tetap yang sangat tinggi dan faktor kapasitas yang tinggi, namun memiliki biaya marginal yang rendah, walaupun tidak serendah pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pada sisi lain, pembangkit listrik pemikul beban puncak, seperti pembangkit listrik tenaga gas alam (PLTG), memiliki biaya tetap yang rendah dan faktor kapasitas yang rendah, tetapi biaya marginalnya tinggi .[14]
PLTU dan PLTN tidak mengubah produksi listriknya sewaktu-waktu untuk menyesuaikan dengan permintaan, karena lebih menguntungkan untuk mengoperasikannya secara konstan. Walaupun begitu, beberapa PLTN, seperti di di Prancis, dapat juga digunakan sebagai pembangkit listrik pemikul beban menengah dan mengubah produksinya secara terbatas, untuk menyesuaikan dengan permintaan.[15][16]
Pembangkit listrik tenaga gas dan uap biasanya dapat berfungsi sebagai pembangkit listrik beban dasar, serta dapat juga menurunkan dan menaikkan produksi untuk menyesuaikan dengan fluktuasi permintaan.
Perbedaan jenis pembangkit dan teknologi dapat menyebabkan perbedaan kemampuan untuk menaikkan atau menurunkan produksi. PLTN umumnya memproduksi listrik mendekati kapasitas maksimumnya secara terus-menerus (terlepas dari perawatan, pengisian ulang, dan penggantian berkala), sementara PLTU biasanya dirotasi untuk memenuhi kebutuhan.[butuh rujukan] PLTU dengan beberapa unit pembangkit biasanya menggunakan sistem rotasi, sehingga tetap dapat menyesuaikan permintaan dengan menonaktifkan atau mengaktifkan beberapa unit.
Menurut Direktur Utama National Grid plc, Steve Holliday pada tahun 2015, pembangkit listrik beban dasar sudah "ketinggalan zaman", karena pembangkit listrik mikro akan menjadi produsen listrik primer, sementara pembangkit listrik besar hanya akan memasok sisanya.[17]
↑"Definition of "baseload"". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Merriam Webster Dictionary. Diakses tanggal 2018-12-02.
12Donald G. Fink, H. Wayne Beatty (ed), Standard Handbook for Electrical Engineers, Eleventh Edition, Mc-Graw Hill, 1978 ISBN9780070209749, pp. 12-16 through 12-18
12Archer, Cristina L.; Jacobson, Mark Z. (November 2007). "Supplying Baseload Power and Reducing Transmission Requirements by Interconnecting Wind Farms". Journal of Applied Meteorology and Climatology (dalam bahasa Inggris). 46 (11): 1701–1717. CiteSeerX10.1.1.475.4620. doi:10.1175/2007jamc1538.1. ISSN1558-8424.
↑Bird, Lori; Lew, Debra; Milligan, Michael; Carlini, E. Maria; Estanqueiro, Ana; Flynn, Damian; Gomez-Lazaro, Emilio; Holttinen, Hannele; Menemenlis, Nickie (November 2016). "Wind and solar energy curtailment: A review of international experience". Renewable and Sustainable Energy Reviews. 65: 577–586. doi:10.1016/j.rser.2016.06.082. ISSN1364-0321.