Batin Pengambang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Indonesia, dengan luas wilayah sekitar 17,83 km².[2] Berdasarkan data tahun 2021, jumlah penduduk Desa Bathin Pengambang tercatat 316 jiwa, terdiri dari 149 jiwa laki-laki dan 167 jiwa perempuan. Kepadatan penduduknya tergolong rendah, yakni sekitar 18 jiwa per km². Desa ini juga memiliki rasio jenis kelamin tertinggi di Kecamatan Batang Asai, yaitu 112, yang menunjukkan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan.[3]
Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi masyarakat Desa Bathin Pengambang umumnya bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dengan komoditas utama berupa tanaman pangan dan hasil kebun. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa di desa ini terdapat 4 kelompok tani, yang mencerminkan peran penting sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Selain itu, aktivitas ekonomi skala kecil seperti perdagangan lokal dan pemanfaatan sumber daya alam sekitar turut mendukung perekonomian desa.[3]
Adat Istiadat
Masyarakat desa mempertahankan tradisi agraris seperti Tarian Mangku Berentak, tarian sambil menyangkul sawah saat awal tanam padi sebagai ungkapan syukur, dilakukan serentak gotong royong (Marga Batin Pengambang).[4] Ada juga tradisi melemang sekampung, memasak lemang bersama sebelum musim tanam.[5] Budaya ini mencerminkan nilai gotong royong dan syukur masyarakat Marga Batin.
Wisata
Desa Batin Pengambang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun (Jambi) terdapat sebuah destinasi wisata religi budaya dan sejarah yang dikenal dengan nama Bukit Lupo.[6] Bukit Lupo disebut demikian karena dalam cerita tradisional, tempat itu dulu digunakan sebagai tempat peristirahatan Nenek Moyang yang dikenal sebagai Semulo Jadi. Nama “Lupo” (lupa) konon muncul karena suatu waktu masyarakat lupa untuk mengunjungi tempat itu, padahal sebelumnya mereka rutin datang setiap hari Jumat untuk menghantarkan makanan ke situ sebagai bagian dari tradisi.[7] Nama Semulo Jadi bukan sekadar nama, tetapi merujuk pada figur nenek moyang yang dianggap sakti dan memiliki peranan penting dalam sejarah leluhur marga tersebut. Banyak yang percaya beliau masih hidup secara spiritual, meskipun secara fisik tidak pernah ditemukan jasadnya di bukit tersebut.[8]