Teori-teori bariogenesis (yang paling utama adalah bariogenesis elektrolemah dan bariogenesis GUT) merupakan penerapan beragam sub-disiplin ilmu fisika, seperti teori medan kuantum dan fisika statistik, untuk mendeskripsikan kemungkinan mekanisme-mekanisme tersebut. Perbedaan yang mendasar di antara teori-teori bariogenesis adalah mengenai deskripsi interaksi antara partikel-partikel dasar.
Langkah berikutnya setelah bariogenesis adalah nukleosintesis Big Bang, yang telah jauh lebih baik dipahami, yaitu di mana inti atom cahaya mulai terbentuk.
Persamaan Dirac[1] yang dirumuskan oleh Paul Dirac sekitar 1928 sebagai bagian dari perkembangan mekanika kuantumrelativistik, memprediksikan keberadaan antipartikel bersama dengan hasil-hasil akhirnya, yang diharapkan dari partikel yang berkorespondensi dengannya. Sejak saat itu, telah dapat dipastikan secara eksperimen bahwa setiap jenis partikel yang diketahui memiliki antipartikel yang berkaitan dengannya.