Baron Sekeber dalam penelitian sejarah
Praba Hapsoro, berdasarkan Babad Sangkala,[5] menuliskan bahwa Sutawijaya menjadi bupati Mataram pada tahun 1584 M, menjadi raja dua tahun kemudian. Ia berselisih dengan adik iparnya, Adipati Jayakusuma, yang berujung pada kematian Jayakusuma pada tahun 1600. Pada sekitar tahun tersebut, Belanda masih belum menjadi negara yang berdaulat, melainkan berupa jajahan Spanyol dan tidak mempunyai raja.[6]
Istilah baron merupakan gelar kebangsawanan Jerman. Dr. H.J. de Graaf menyatakan bahwa gelar baron tidak dikenal orang-orang Jawa sebelum bertemu dengan Gubernur Jenderal VOC, Gustaaf Willem Baron. Kemungkinan tokoh Baron Sekeber terilhami dari berbagai baron berdarah Jerman yang direkrut oleh VOC (Johan Andries Baron von Hohendorff, GW Baron van Imhoff, Baron van der Capellen).[7]
Menurut Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, kisah Baron Sekeber berawal dari Hikayat Iskandar Zulkarnaen, saduran dari cerita Arab karangan al-Suri.Beberapa bagiannya dikutip pengarang Sejarah Melayu (1612) dan Serat Sekender (abad ke-19), kemudian dikutip lagi oleh pengarang Serat Babad Pati dengan nama Raden Baron Sekeber. Nama Baron Sukmul kemungkinan berasal dari nama ayah kandung Gubernur Jenderal VOC yang pertama, yaitu Jan Pieterszoon Coen.
[8]
Dalam suatu perbincangan dengan Sultan Agung pada tahun 1622, utusan VOC bernama Dr. H. De Haen menanyakan perihal seseorang bernama Juru Taman. Sultan Agung menjelaskan bahwa Juru Taman adalah seorang berkebangsaan Italia yang bekerja kepada ayahnya, Panembahan Hanyakrawati, pada bagian kaputren. Namun, karena ulahnya yang mengganggu para selir raja, ia kemudian dipindahkan ke Krapyak (hutan lindung tempat raja berburu rusa). Juru Taman juga dipanggil Mas Jenggot karena perawakannya yang tinggi besar serta berjenggot.[8]
Tradisi Tionghoa
Baron Skeber merupakan tokoh rakyat setempat yang dibuatkan altar pemujaan pada Klenteng Tridharma Weleri di Weleri, Kendal.[9] Ia dipuja oleh orang yang terkena masalah hukum dan memohon petunjuknya. Menurut Patmakumala, tokoh Tridharma di Jawa Tengah, altar untuk Baron Skeber hanya terdapat pada klenteng tersebut di seluruh dunia.[10]
Sekitar tahun 1960an, pemerintah setempat mengadakan pelebaran jalur pantura di sepanjang Kota Weleri, Kendal. Salah satu pohon asam tua yang berusia ratusan tahun di depan toko Abadi Weleri, ditanam semenjak zaman Daendels, ditebang untuk tujuan tersebut. Di tengah pohon yang roboh, ditemukan arca hitam setinggi 40 cm. Tidak ada yang berani menyimpan arca tersebut karena aura muka arca tampak kejam. Akhirnya Klenteng Tridharma Weleri mau menyimpannya, dan arca misterius tersebut terkenal dengan sebutan Baron Skeder.[10]