Secara historis, Banua Anam merupakan bagian penting dari wilayah Kesultanan Banjar. Penduduknya didominasi oleh masyarakat Banjar Hulu yang memiliki ciri khas dalam bahasa, adat istiadat, kesenian, dan sistem kekerabatan. Dalam perkembangan administrasi modern, istilah Banua Anam tidak digunakan sebagai pembagian wilayah pemerintahan resmi. Istilah ini tetap digunakan sebagai penanda identitas kultural dan geografis di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya untuk membedakan kawasan hulu dengan wilayah Banjar Kuala dan Banjar Pesisir.
Etimologi
Kata Banua berasal dari bahasa yang lama dipakai di Kalimantan Selatan yang berarti “negeri”, “kampung besar” atau “wilayah”. Pada masa dahulu, istilah banua dipakai untuk menyebut satuan sosial‑geografis yang mencakup beberapa kampung atau desa besar pada masyarakat Banjar. Ini termasuk pada masa Kesultanan Banjar dan masa kolonial Hindia Belanda, saat struktur sosial dan pemerintahan tradisional membentuk wilayah‑wilayah seperti banua lapan, banua lima, dan seterusnya. Dalam pengertian ini, banua bisa dipahami kurang lebih setara dengan “kabupaten” atau “negeri besar” dalam konteks lokal Kalimantan Selatan.
Sedangkan Anam berarti “enam”. Gabungan istilah itu (Banua Anam) secara harfiah berarti “wilayah enam” yang menunjukkan enam kabupaten yang secara tradisional diidentifikasikan sebagai satu kawasan budaya/geografis di bagian hulu Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong. [1]
Geografis
Ladang milik suku Dayak Rungkah Meratus dengan latar belakang Gunung Halau-halau, gunung tertinggi di Kalimantan Selatan.
Secara geografis, Banua Anam merupakan kawasan di bagian hulu sungai-sungai besar di Provinsi Kalimantan Selatan. Wilayah ini dikenal sebagai daerah hulu sungai yang berbatasan dengan provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Topografi kawasan ini bervariasi dari dataran aluvial di sepanjang sungai hingga perbukitan dan pegunungan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus di bagian selatan dan timur Banua Anam.
Geografi kawasan Banua Anam sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai besar, termasuk sungai yang menjadi jalur hidup masyarakat setempat dan sumber irigasi pertanian. Sungai-sungai ini juga berperan sebagai prasarana transportasi air dan sumber perikanan air tawar bagi penduduk lokal.
Sebagian dari kawasan ini juga berada di zona perbukitan dan pegunungan Meratus, sebuah rangkaian pegunungan yang membentang dari utara ke selatan di Kalimantan Selatan, dampak topografi Meratus terasa kuat di bagian timur dan selatan kawasan terutama di kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Balangan, sehingga wilayah memiliki karakter geografis terjal dan hutan yang lebat di beberapa bagian. [2]