Banjir di Malaysia pada tahun 2014 adalah banjir yang terburuk dalam sejarah banjir di Malaysia dengan lebih 200.000 orang dievakuasi.[29] Hingga 27 Desember 2014, Departemen Meteorologi Malaysia telah mengeluarkan 38 kali peringatan cuaca buruk sejak 18 Desember 2014; 15 diantaranya adalah peringatan tingkat "Merah", 15 peringatan "Jingga" dan 8 peringatan "Kuning".[30]
Semenanjung Malaysia
Hujan lebat sejak 17 Desember 2014 membuat 3,390 orang di Kelantan dan 4,209 orang di Terengganu untuk mengungsi.[7] Beberapa layanan kereta api antara kota Keretapi Tanah Melayu (KTM) yang berjalan di sepanjang jalur Pantai Timur telah terganggu pada 18 Desember 2014 akibat banjir.[31] Pada 20 Desember 2014, daerah Kajang, Selangor turut dilanda banjir yang serius.[32] Pada 23 Desember 2014, sebagian besar sungai di Kelantan, Pahang, Perak dan Terengganu telah mencapai tingkat-tingkat yang berbahaya.[33] Karena kadar air yang meningkat, sebanyak 60.000 orang telah dipindahkan pada hari keesokannya. Kelantan merupakan daerah dengan orang yang paling banyak dievakuasi (20,468[34]-24,765), diikuti oleh Terengganu (21,606), Pahang (10,825), Perak (1.030), Sabah (336) dan Perlis (143).[35][36]
Situasi di Kelantan dan Terengganu terus memburuk karena hujan lebat. Kebanyakan jalan di Kelantan telah ditutup.[37] Kemaman adalah daerah yang paling terpengaruh oleh banjir di Terengganu, diikuti oleh Dungun, Kuala Terengganu, Hulu Terengganu, Besut dan Marang. Di Pahang, daerah yang paling parah adalah Kuantan, Maran, Jerantut, Lipis dan Pekan.[37] Puluhan wisatawan asing terdampar di sebuah resor di Taman Negara di Pahang; kebanyakan adalah wisatawan dari Kanada, Inggris, Australia dan Rumania.[38] Semua wisatawan diselamatkan melalui perahu dan helikopter.[39] Di Kedah, setidaknya ada 51 orang telah dievakuasi.[40] Seorang remaja di Perlis menjadi korban pertama yang meninggal dalam banjir ini.[41]
Di selatan Malaysia, sekitar 300-350 orang telah dievakuasi ke Johor dan Negeri Sembilan.[42][43] Jumlah orang yang dievakusi di seluruh Malaysia mencapai lebih dari 200.000 orang pada 28 Desember 2014, dengan korban tewas sebanyak 10 orang. Banjir ini dianggap sebagai banjir terburuk di Malaysia dalam beberapa dekade.[13][39][44] Namun, angka sebenarnya orang yang dievakuasi, orang yang hilang dan tewas tidak diketahui karena pusat banjir Malaysia tidak dapat memberikan angka-angka yang tepat.[45]
Malaysia Timur
Di Sabah, hujan lebat sejak 21 Desember 2014 menyebabkan banjir di banyak daerah di daerah Beaufort. Sebanyak 30 desa telah terkena dampak ini karena Sungai Padas yang permukaan airnya mencapai 9.26 meter di atas permukaan bahaya, dan banjir disebabkan terutama oleh limpahan air dari hulu sungai di daerah Tenom.[46] Sekitar 292 orang telah dievakuasi ketika situasi banjir menjadi semakin parah di Beaufort, sementara kondisi semakin baik di daerah pedalaman Tenom dan Kemabong.[47] Pada 24 Desember 2014, jumlah korban di Beaufort meningkat menjadi 300 orang dalam satu malam,[48] dan kebanyakan korban di Tenom dapat kembali ke rumahnya, dengan hanya satu dari sebelas pusat bantuan korban banjir yang masih dibuka karena permukaan air yang semakin menurun.[49] Namun, diperkirakan pusat bantuan korban banjir akan lebih banyak dibuka jika ada hujan terus menerus dan air dari bagian atas Tenom dan Keningau membanjiri Sungai Padas.[50] Di Kudat, sembilan keluarga yang terdiri dari 63 orang telah berlindung di rumah-rumah saudara dan tetangga mereka.[49][50]