Kalurahan in Daerah Istimewa Yogyakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kalurahan in Daerah Istimewa Yogyakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Dari atas ke bawah; kiri ke kanan: Sunset Gereja Katolik Boro, Persawahan, Perarakan Santa Theresia Lisieux Gereja Katolik Boro, Selokan Van Derwijk, Kantor Kalurahan Banjarasri, Taman Doa Bunda Maria Boro, dan Bukit Watu Beton.
Kalurahan Banjarasri dibagi dalam empat masa yaitu Masa Kehadiran Romo Prennthaler, Masa Revolusi, Masa Pasca Revolusi, dan Masa Pembangunan Desa Wisata. Kalurahan yang mayoritas penduduk memeluk agama Katolik ini memiliki sejarah kental dari masa kejayaan Misionaris asal Austria bernama Romo J.B. Prennthaler S.J. yang memulai karyanya di Banjarasri sejak tahun 1920. Selama hidupnya beliau melayani dan mengabdikan diri untuk umat, termasuk salah satunya mendirikan Gereja Santa Theresia Liseux Boro.
Semangat karya iman beliau tidak hanya perihal ibadah, tetapi juga kesehatan dan pendidikan. Hal ini terlihat adanya RS Umum Santo Yusuf Padukuhan Boro merupakan pusat kesehatan yang didirikan pada masa itu. Selain sebagai pusat kesehatan masyarakat, pada tahun 1948 Rumah Sakit ini juga diperuntukan bagi tentara-tentara korban perang masa penjajahan Agresi Militer Belanda II di DI Yogyakarta dan menjadi satu kesatuan benteng pengamanan Markas Besar Komando Djawa (MBKD) di Padukuhan Boro, Banjarasri, dengan pimpinan Abdul haris Nasution. Hingga akhirnya pada tahun 1938 didirikanlah Rumah Biara Bruder FIC dengan fokus karya dibidang Pendidikan, Panti Asuhan dan Industri.
Iman harus ditopang kesejahteraan itulah nilai hidup yang selalu ditanamkan Romo Prennthaler. Guna mewujudkan nilai hidup itu dibangunlah industri pertenunan dan sabun untuk menopang perekonomian masyarakat. Industri ini menampung tenaga kerja dari masyarakat sekitar untuk memproduksi kain² tenun lenan rumah tangga dan sabun. Hasilnya dijual sebagai bahan mencukupi kebutuhan Rumah Sakit dan warga sekitar. Dimasa jayanya, pertenunan dikembangkan oleh Br. Yosue dengan menambah alat-alat tenun dan mendirikan ST (Sekolah Tenun). Membuka kursus jahit yang menunjang produksi pertenunan.
Keseluruhan peninggalan Misionaris ini masih kokoh berdiri dengan ornamen khas kuno dan tentu saja masih dipergunakan sebagaimana mestinya sampai dengan saat ini, Sebagai wujud menghormatan akan sejarah, bangunan-bangunan peninggalan tersebut masuk dalam bangunan cagar budaya.
Seiring berkembangnya jaman, meski Banjarasri merupakan desa dengan mayoritas pemeluk agama Katolik akan tetapi tetap menjalin kehidupan yang rukun bersama dengan minoritas pemeluk agama Islam. Sloka (Solawatan Katolik) adalah salah satu wujud toleransi di Banjarasri. Dimana solawatan merupakan ciri khas umat Islam dalam melagukan syair puji-pujian yang kemudian digubah menjadi puji-pujian umat Katolik. Iringan musik pun unik, yakni dari gamelan.[2]
Data Pemeluk Agama di Kalurahan Banjarasri Tahun 2024
Agama
Jumlah Jiwa
%
Keterangan
Islam
1.750
39,4%
Kristen Protestan
20
0,45%
Katolik
2.660
60%
Hindu
0
-
Buddha
1
0,02%
Konghucu
0
-
Kepercayaan terhadap Tuhan YME
0
0
Kalurahan Banjarasri
4.431
100%
Sosial Budaya
Di Kalurahan Banjarasri pada tahun 2023, terdapat 1 sanggar tari dan 4 kelompok Jatilan. Selain itu, terdapat kesenian theater 4 kethoprak dan 2 pedalangan. Untuk seni ukir terdapat 2 perkumpulan
Menurut BPS Tahun 2023, Kalurahan Banjarasri pernah mengalami 8 kali bencana tanah longsor.
Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Jumlah jiwa
Keterangan
Tidak/Belum Sekolah
490
Belum Tamat SD
400
Tamat SD
925
SLTP
721
SLTA
1.445
D1 dan D2
29
D3
107
S1
295
S2
18
S3
1
Kalurahan Banjarasri
Usia Pendidikan
Jumlah Jiwa
Keterangan
3-4 Tahun
86
5 Tahun
32
6-11 Tahun
281
12-14 Tahun
171
15-17 Tahun
169
18-22 Tahun
280
Kalurahan Banjarasri
Ekonomi
Pekerjaan
Jumlah Jiwa
Keterangan
Belum/Tidak Bekerja
557
Nelayan
-
Pelajar dan Mahasiswa
734
Pensiunan
109
Perdagangan
1
Mengurus Rumah Tangga
433
Wiraswasta
303
Guru
63
Perawat
8
Pengacara
-
Pekerjaan Lainnya
-
Kalurahan Banjarasri
Pemerintahan
Pada Tahun 2023 menurut Data BPS, Kalurahan Banjarasri memiliki 17 Padukuhan, 34 Rukun Warga (RW), dan 68 Rukun Tetangga (RT). Selain itu, Kalurahan Banjarasri memiliki 1 Lurah, 1 Carik, 5 Kaur/Kasi, 3 Staf, 17 Dukuh, dengan total 27 aparat pemerintahan. Kemudian untuk aparat keamanan memiliki 57 Linmas/Hansip, 1 Bhabinkamtibmas, dan 1 Babinsa, dengan total keseluruhan sebanyak 59 personel pada tahun 2023.[4]
Pariwisata
Kalurahan Banjarasri menawarkan beragam destinasi wisata religi dan alam yang menarik. Bulan Mei, sebagai Bulan Maria bagi umat Katholik, mengundang wisatawan untuk mengunjungi taman doa bersejarah yang ada di Padukuhan Boro dan sekitarnya. Selain itu, Bulan Oktober juga menjadi bulan penting dengan perayaan Bulan Rosario. Dari Mei hingga September, angin timur yang kuat menyediakan kondisi ideal untuk acara Paralayang Wisata Giri Sembung, menarik para penggemar olahraga udara dari berbagai penjuru.
Wisata religi
Taman Doa Bunda Maria Pelindung Keluarga di komplek Makam Romo JB Prennthaler.
Gua Maria Watu Blencong di Padukuhan Boro Suci.
Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux di Padukuhan Boro.
Susteran Fransiskanes
Biara dan Kapel Sancta Maria Immaculata Padukuhan Boro (Bruderan FIC Boro)
Makam ini terletak di Padukuhan Kalisoka. Diceritakan bahwa Ki dan Nyi Pawiro Narang Manggolo adalah prajurit yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, mereka menyelamatkan diri dan berbaur dengan masyarakat Kalisoka.
Mereka berdua dikenal sebagai orang yang berkarisma dan sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari cara warga memperlakukan makam mereka.
Sebagai ungkapan hormat, masyarakat Kalisoka melakukan ritual adat baritan Ruwahan Sadranan yang dilakukan secara turun-temurun.
Makam Ki/Nyi Cinde Amoh
Cinde Amoh adalah abdi setia Raden Inukertapati dari Kediri pada abad ke-12. Setelah menyerahkan tugasnya kepada putranya, beliau bertekad untuk menjalani Topo Ngrame (Ngulandara), yakni memberikan bantuan kepada orang yang kekurangan, penerangan bagi yang dalam kegelapan, dan ajaran hidup sejati. Topo Ngrame ini membawa beliau sampai ke Muntilan, tempat beliau meninggal dunia.
Tugas mulia ini kemudian dilanjutkan oleh abdi setianya, Ki Cinde Amoh. Ia berjalan ke arah selatan dan tiba di Padukuhan Winong, di mana ia mendirikan Padepokan Kembang Megar Sore. Di sini, Ki Cinde Amoh dikenal sebagai Ki Ketur karena selalu memberikan ajaran sejati kepada para muridnya. Beliau juga menemukan sumber mata air Winong yang dianggap sebagai air kehidupan.
Masyarakat setempat melakukan upacara adat sesaji di sumber mata air tersebut setiap kali ada orang yang memiliki hajat. Ki Cinde Amoh berjanji untuk tinggal di dusun Winong sampai akhir hayatnya, dan kemudian mengganti nama dusun tersebut menjadi Dusun Tirip.
Makam Ki Cinde Amoh kini menjadi tempat permohonan banyak orang. Bagi mereka yang permohonannya terkabul, mereka menunjukkan rasa syukur dengan melakukan "Njaro" (kabul), sebuah tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Makam Ki Boro Bentulu
Makam yang terletak di Bentulu, Padukuhan Tosari dipercaya oleh warga bahwa Ki Boro Bentulu adalah cikal bakal penduduk daerah tersebut. Konon, Ki Boro Bentulu berasal dari keluarga Keraton Ngayokyarta Hadiningrat dan merupakan salah satu dari empat orang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang bertugas menggali informasi.
Sebagai ungkapan rasa syukur atas permohonan yang dikabulkan, warga setempat terkadang melaksanakan kenduri Nyadran di makam ini untuk menghormati Ki Boro Bentulu. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada tokoh berpengaruh tersebut.
Galeri
Gua Maria Watu Blencong di Padukuhan Boro Suci
Monumen MBKD (Markas Besar Komando Djawa) di Padukuhan Boro