Bangsal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Bangsal memiliki lokasi strategis dan ramai yang dilalui jalan nasional penghubung Kota Mojokerto di barat dengan ibukota Kabupaten Mojokerto yaitu Mojosari di sebelah timur. Bangsal memiliki berbagai pabrik, pasar (seperti Pasar Sawahan), dan rumah sakit (seperti RS Sido Waras).[1] Selain itu, di kecamatan ini juga terdapat Sekolah Polisi NegaraPolda Jawa Timur.[2] Bangsal dikenal sebagai sentra produksi kerupuk kulit atau rambak yang terbuat dari kulit sapi.[3] Pada tahun 2000, beberapa desa di Bangsal bergabung dengan beberapa desa dari Kecamatan Puri untuk membentuk kecamatan baru bernama Mojoanyar
Desa Salen di Bangsal merupakan salah satu daerah yang masih mempertahankan kesenian bernama "Ujung" yang merupakan kebudayaan khas Jawa Timur. Ujung adalah pertunjukkan ekstrem yang menampilkan dua lawan bertelanjang dada yang saling mencambuk satu sama lain menggunakan rotan. Di sela-sela cambukan, kedua orang tersebut juga menari mengikuti musik gamelan.[4][5]
Geografi
Peta administrasi Bangsal
Bangsal adalah kecamatan yang terletak di dataran rendah dengan lahan dominan persawahan. Jalan nasional Kota Mojokerto-Mojosari melewati kecamatan ini dari barat ke timur. Desa di ujung barat adalah Desa Pacing sedangkan paling timur adalah Desa Mojotamping. Desa paling utara adalah Tinggarbuntut yang berbatasan dengan saluran irigasi Kali Sadar.[1]
Sentra kerupuk kulit atau rambak sapi di berbagai desa di Bangsal[3]
Kompleks makam tokoh era Majapahit Dusun Sumberame, Desa Sumberwono - tokoh yang dimakamkan di sini antara lain Tumenggung Prawiro Seno dan Mbah Wali Penadaran[7]
Pondok Pesantren Jaya Baru
Masjid Jami' Sabilul Huda Pacing di tepi jalan nasional
Masjid Ki Buyut Langkay - masjid unik dengan menara besar di tengah bangunan[8]
PT Motasa Indonesia unit Bangsal - pabrik bumbu rempah
Kebudayaan
Kesenian Ujung di Desa Salen
Ujung adalah nama kesenian yang ditemukan di berbagai wilayah di Jawa Timur dari Jombang, Mojokerto, hingga Pulau Madura. Di Madura, ujung dikenal dengan ojhung. Walaupun penyebarannya luas, ujung saat ini hanya bertahan di daerah tertentu. Salah satu wilayah yang masih mempertahankan budaya ini adalah Desa Salen di Kecamatan Bangsal. Ujung adalah pertunjukkan ekstrem yang menampilkan dua lawan bertelanjang dada yang saling mencambuk satu sama lain menggunakan rotan. Di sela-sela cambukan, kedua orang tersebut juga menari mengikuti musik gamelan. Ujung bukanlah kompetisi, tetapi kesenian yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Kementerian Kebudayaan. Menurut masyarakat setempat, ujung sudah ada pada zaman Majapahit. Namun di masa itu, ujung belum berupa kesenian murni melainkan adu kekuatan prajurit. Sedangkan di masa sebelum Majapahit, ujung juga dipakai sebagai ritual minta hujan dengan pemain sampai berdarah-darah.[4][5]