Pada suatu hari, terjadi peperangan di pesisir utara Pulau Seram antara negeri Hote dan Banggoi dengan Portugis. Pada peperangan tersebut, Portugis mendapat bantuan aliansi dari negeri Tamilouw, Hutumuri, dan Sirisori Amalatu yang pada saat itu masyarakatnya masih menganut paham paganisme, sedangkan masyarakat Hote dan Banggoi sudah beragama Islam. Hingga suatu saat, masyarakat Hote dan Banggoi berhasil dikalahkan oleh aliansi tersebut. Kemudian ketiga negeri aliansi tersebut mengadakan perjanjian yang disebut pela.[5] Di mana aliansi antara negeri Hote dan Banggoi telah ada sebelumnya dengan istilah wal ya yang memiliki arti serupa dengan pela. Dari cerita rakyat ini, diketahui bahwa hubungan aliansi antara negeri Hote dan Banggoi telah berlangsung cukup lama.[6]
Geografi
Batas wilayah petuanan adat negeri Banggoi (termasuk negeri administratif Banggoi Pancorang) terhitung dari sungai Wae Tofang yang menjadi batas alami dengan negeri Hote di sebelah timur, serta dengan negeri administratif Aki Jaya di sebelah barat. Sedangkan pegunungan di bagian selatan berbatasan dengan negeri Atiahu.[4]
Demografi
Agama
Masyarakat negeri Banggoi mayoritas beragama Islam, dengan beberapa masyarakat pendatang yang beragama Kristen Protestan dan Hindu. Sedangkan fam-fam asli Banggoi semuanya memeluk Islam.[7]
Karena menjadi salah satu daerah tujuan dalam program transmigrasi, bahasa yang dominan dituturkan oleh masyarakat Banggoi saat ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Ambon.[8]Bahasa Banggoi (Benggoi) merupakan bahasa asli yang dituturkan oleh masyarakat Banggoi, tetapi saat ini sudah jarang digunakan. Bahasa ini memiliki kekerabatan dengan bahasa Hoti yang dituturkan di sebelah timurnya, dengan persentase sebesar 31,5%. Kekerabatan kedua bahasa ini karena dipengaruhi oleh letak geografi yang berdekatan. Waktu pisah kedua bahasa tersebut diperkirakan terjadi pada 1.170 tahun yang lalu.[9]
Masyarakat
Berikut ini beberapa fam-fam (matarumah) yang secara turun-temurun mendiami negeri Banggoi.[4][10]
Atlewam
Baliman
Ehleklam
Ehumuitam
Hakbam
Henlauw
Kubal
Lefitar
Ongenwaluw
Paitaha
Rumbarua
Rumuar
Soeletnam
Sukitjang
Tukuwain
Wailissa
Wajo
Watuletan
Weulartafela
Hubungan sosial
Negeri Banggoi terikat hubungan wal ya (sejenis hubungan pela) dengan negeri Hote di sebelah timur. Hubungan ini diperkirakan telah terjadi sejak zaman penjajahan Portugis di Kepulauan Maluku.[6] Hubungan antara negeri Banggoi dan Hote ini masih terjalin dengan baik sampai saat ini, jika salah satu dari kedua negeri ini mengadakan acara, maka raja salah satu negeri ini akan diundang untuk menghadiri acara tersebut. Contoh yang terbaru adalah pada saat prosesi pengecoran tiang alif Masjid Al-Huda di negeri Banggoi yang turut mengundang raja Hote untuk hadir dalam acara tersebut.[3]
Pemerintahan
Matarumah parentah
Matarumah yang berhak menjadi kepala pemerintahan (raja) di negeri Banggoi adalah fam Baliman.[4]
Daftar raja Banggoi
Berikut ini daftar raja (setingkat kepala desa) yang pernah memerintah negeri Banggoi.[4]
↑Sopaheluwakan, A. (tidak diketahui) [Dari cerita lisan Tante Ci Thenu, sekitar tahun 1965]. "Kisah tentang Gandong di Hatumari". moniharapon.com. Moniharapon Teung Tokomahu. Diakses tanggal 17 Juli 2024.
12Yanlua, Mohdar; Hariyanti, Tuti (2020). Sandia, Zet A. (ed.). Uba Tibul(PDF). Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar. hlm.24. ISBN978-623-236-265-9. Diakses tanggal 07-06-2024.