Bangunan Balai Budaya diresmikan oleh Ketua Badan Pekerja Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (BMKN), R. Gaos Hardjasoemantri, pada tanggal 14 April1954.[4] Kemudian, pada tahun 1960-an, Gubernur Jakarta pada masa itu, Ali Sadikin, memugar Balai Budaya ini.[3] Selama tahun 1957 hingga 1997, telah diselenggarakan hampir 600 kegiatan seni di gedung ini.[1] Selain itu, majalah sastraHorizon yang dikelola oleh Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, pernah menggunakan bagian sayap kiri dari gedung ini sebagai kantor.[1] Pelukis Nashar juga pernah bermukim di gedung ini.[1]
Pasca era reformasi, gedung Balai Budaya mulai terbengkalai dan tidak terurus.[1] Hampir tidak ada kegiatan apapun baik pameran maupun diskusi berkaitan seni di gedung ini. Beberapa usaha untuk memperkenalkan dan menggunakan kembali Balai Budaya ini telah dilakukan. Diantaranya oleh pelukis Sri Warso Wahono yang menyelenggarakan pameran pada bulan November 2014.[1] Pada Januari 2015, sejumlah 32 pelukis pemula menggunakan gedung Balai Budaya untuk memamerkan karya-karya mereka.[1] Di bulan Maret 2017, pengurus Balai Budaya mengadakan sayembara melukis dengan tema revolusi mental sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan kembali lembaga kesenian ini.[5]