Sejarah Pulau Bahuluang tidak bisa dipisahkan dengan Sejarah Kepulauan Selayar pada umumnya dan Sejarah Pulau Tambolongan pada khususnya . Dahulu sekitar abad ke 16 terjadi perang antara Pasukan Seram dengan Selayar, saat pecah pertempuran seorang Sayyid ( salah satu panglima perang Selayar ) membawa lari pejuang wanita pasukan Seram anak dari Panglima perang Seram yakni Kapitan Martannuang , ia membawa lari putri panglima seram tersebut ke Pulau Bahuluang, saat itu Pulau Bahuluang adalah wilayah dari Opu Gallarang Tambolongan ( Wilayah Independen di Selayar yang berpusat di Kuta Lalang Bata Tambolongan ) . Opu Barang - Barang saat kejadian itu menginginkan agar Bahuluang di serang karena di curigai di jadikan tempat persembunyian sisa- sisa pasukan Seram , namun hal tersebut di tolak oleh Opu Gallarang Tambolongan. Sayyid ( Panglima perang Selayar yang membawa lari putri Panglima Martannuang ) kemudian mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Bahuluang . Pusaka- Pusaka putri panglima Martannuang masih bisa ditemui di Pulau Bahuluang yang di rawat oleh abdi Opu Sayyid secara turun- temurun.
Kemudian setelah masa Swapraja di hapuskan sekitar tahun 1950 , Pulau Bahuluang menjadi bagian dari Distrik Tambolongan hingga berubah menjadi Desa Tambolongan, Bahuluang tetap menjadi Dusun ( Bagian dari Desa Tambolongan ) . Kemudian pada tahun 2007 Dusun Bahuluang dialihkan menjadi salah satu Dusun dari Desa Appatanah setalah Desa Appatanah di mekarkan dari Induknya Desa Lowa . Barulah pada tahun 2012 Bahuluang dinaikkan statusnya menjadi Desa Khusus .