Masalah utama dalam filsafat bahasa berkaitan dengan bagaimana suatu ungkapan bahasa itu mempunyai makna. Dengan demikian, analisis filsafat tidak lagi dipahami atau tidak lagi harus didasarkan pada logika formal maupun logika matematika. Filsafat harus didasari pada penggunaan bahasa biasa. Oleh karenanya, bahasa biasa menjadi salah satu syarat mutlak untuk membahas masalah-masalah filsafat, karena bahasa adalah alat dasar dan utama untuk berfilsafat.[3]
Konsep
Sebagian besar konsep Filsafat Bahasa Biasa dipengaruhi dan dirintis oleh Ludwig Wittgenstein pada periode kedua pemikiran filsafatnya. Konsep ini tertuang dalam buku yang berjudul Philosophical Investigations. Pada karyanya ini, Wittgenstein mengemukakan bahwa bahasa yang disusun melalui logika adalah sangat sulit untuk dikembangkan dalam filsafat. Pandangan Wittgenstein menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia. Bahasa memiliki banyak struktur yang masuk akal dan bersifat kompleks dalam penggunaannya pada berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan demikian, Filsafat Bahasa Biasa lebih menekankan proses penggunaan suatu istilah atau ungkapan untuk dapat mengandung atau mengungkapkan sebuah makna.[4] Bahasa biasa adalah bahasa yang digunakan untuk keperluan komunikasi sehari-hari. Pemahaman filsafat dianggap dapat dicapai cukup dengan menggunakan bahasa biasa sebagai sarana yang memadai dalam mengungkapkan konsep-konsep filsafat.[3]
Ludwig Wittgenstein merintis Filsafat Bahasa Biasa melalui pemikiran di dalam bukunya yang berjudul Philosophical Investigations. Kemunculan pemikiran Wittgenstein mengenai Filsafat Bahasa Biasa berasal dari inti pemikirannya tentang tata permainan bahasa. Dalam pemikiran ini, penggunaan bahasa yang berubah-ubah dalam kehidupan sehari-hari merupakan hakikat bahasa itu sendiri.[5]
Gilbert Ryle
Gilbert Ryle merupakan seorang filsuf yang berusaha mendukung Filsafat Bahasa Biasa. Teori Deskripsi Kebodohan merupakan sumbangan pemikiran Filsafat Bahasa Biasa Gilbert Ryle untuk bidang ilmu antropologi budaya. Selain itu, hasil pemikiran filosofisnya menjadi salah satu kunci pemecahan masalah-masalah masa kini baik dalam lingkup filsafat maupun di luar lingkup filsafat.[1]
John Searl merupakan murid dari Austin. Pemikiran Austin dikembangkan oleh John Searl dalam bukunya yang berjudul Speech Act dan diterbitkan pada tahun 1969. Teori tindak tutur merupakan teori yang terbentuk akibat penolakan Austin dan Searl terhadap aliran filsafat positivisme logis dalam penggunaan bahasa.[6]
P. F. Strawson
Peter Frederick Strawson merupakan salah satu filsuf Filsafat Bahasa Biasa yang menekankan penggunaan bahasa dalam aspek pragmatik. Strawson menganggap bahasa biasa sebagai landasan berfilsafat.[7] Seperti Austin, Strawson juga menganut teori tindak tutur dalam penggunaan bahasa.[8]
Filsafat Bahasa Biasa mampu mengkaji aspek bahasa secara teratur beriringan dengan penggunaannya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Pemikiran Filsafat Bahasa Biasa ini yang kemudian menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmulinguistikpragmatik. Para ahli filsafat bahasa seperti John Langsaw Austin (1962), John Searle (1969), dan Paul Grice (1975), telah mengembangkan ilmu pragmatik. Pengembangan ini adalah pembahasan semantik yang sangat luas dan berguna bagi pengembangan linguistik pragmatik. Sebelum pemikiran Filsafat Bahasa Biasa dikemukakan, pengkajian ilmu linguistik selalu bersifat tersusun rapi dan menggunakan tata bahasa yang sangat rumit. Filsafat Bahasa Biasa yang menolak penggunaan logika dalam berbahasa, berhasil menciptakan teori baru dalam bidang bahasa. Konsep teori Filsafat Bahasa Biasa terus dikembangkan oleh J.L. Austin melalui karyanya How to Do Things with Words yang diterbitkan pada tahun 1962. Selanjutnya pemikiran Austin ini dikembangkan lagi oleh John Searl pada tahun 1969 melalui karyanya yang berjudul Speech Act. Penolakan terhadap aliran filsafat positivisme logis dalam bahasa yang dikemukakan di dalam kedua karya tersebut, kemudian menjadi pencetus dari Teori Tindak Tutur.[6]
Pendidikan
Pendekatan pragmatik dalam Filsafat Bahasa Biasa membantu pengarahan proses pembelajaran bahasa yang dilaksanakan pada lembaga pendidikan formal. Melalui pendekatan ini, setiap orang dapat melakukan peningkatan keterampilan terhadap kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Keterampilan ini menjadi sesuai dengan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat.[4] Selain itu, FIlsafat Bahasa Biasa juga sangat berguna dalam menerapkan pendidikan karakter pada peserta didik di sebuah lembaga pendidikan formal. Tugas Filsafat Bahasa Biasa untuk menguraikan den memperjelas konsep suatu kata membuat pemahaman mengenai keberagaman nilai-nilai karakter sangat mudah untuk dimengerti dan diterapkan.[1]
Referensi
123Hilal, Muhammad (2019). "Filsafat Bahasa Biasa Gilbert Ryle dan Relevansinya dengan Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia". Jurnal Filsafat. 29 (2): 206–227. doi:10.22146/jf.44313.
123Wibowo, Wahyu (2011). "Pemantapan Prinsip Filsafat Bahasa Biasa Sebagai Upaya Pemutakhiran Metode Analisis Pesan Komunikasi". Kajian Lingusitik dan Sastra. 23 (1): 8–18.
123Sumanto, Edi (2017). "Hubungan Filsafat dengan Bahasa". El-Afkar. 6 (1): 19–30.
12Nurlaila (2014). "Filsafat Ordinary Language dan Pembelajaran Bahasa". Ta'dib. 17 (1): 53–59.
12Kaelan (2004). "Filsafat Analitis Menurut Ludwig Wittgenstein: Relevansinya Bagi Pengembangan Pragmatik". Humaniora. 16 (2): 133–146.
1234Sunardi (2011). "Filsafat Analitis Bahasa dan Hubungannya dengan Ilmu Linguistik Pragmatik". Lite. 7 (2): 64–83.
↑Waljinah S., Dimyati, K., Prayitno, H. K., dan Dwilaksana C. (23 Maret 2018). Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7:Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah. Jakarta: Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah. hlm.13. ISBN978-602-50710-7-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Atabik, Ahmad (2014). "Teori Kebenaran Perspektif Filsafat Ilmu: Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama". Fikrah. 2 (1): 253–271.