Penggunaan
Berbeda dengan dialek Sumenep (Madura Timur) yang dijadikan acuan standar bahasa Madura,[6] variasi yang paling umum adalah dialek Bangkalan, yang sering berfungsi sebagai basantara antara orang Madura dari berbagai wilayah yang berbeda.[2] Bahasa Madura dialek Bangkalan tergolong ke dalam bahasa Madura Barat, sama halnya dengan dialek Pasuruan dan dialek Sampang. Perbedaan antara bahasa Madura Barat dan bahasa Madura Timur biasanya ditandai oleh perbedaan dalam hal penggunaan kosakata sapaan, aksen, intonasi, dan leksikal.[7]
Meskipun jumlah penduduk Kabupaten Bangkalan, yang merupakan wilayah asal penutur bahasa Madura dialek Bangkalan, terus meningkat, namun jumlah penutur bahasa Madura berkualitas baik di Bangkalan pada tahun 2018 diperkirakan menurun. Adapun pembicara yang baik didefinisikan sebagai orang yang mengerti cara menggunakan ondhaghan bhâsa ('tingkatan bahasa') dalam komunikasi sehari-hari.[8] Diperkirakan terdapat 1–2 juta penutur dialek Bangkalan yang tersebar di Kabupaten Bangkalan dan wilayah sekitarnya, per-tahun 2024.[1]
Sekitar empat hingga tiga dekade lalu, jumlah penutur berkualitas baik sekitar 90% dan 10% sisanya adalah imigran, jadi saat ini, setelah Jembatan Suramadu dibangun, diperkirakan hanya 50% penutur dengan kualitas baik yang tersisa. Sementara itu, 50% lainnya tersebar di beberapa kelompok, dengan sekitar 30% masyarakat asli Bangkalan kurang mampu berbahasa Madura, yaitu generasi muda yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehingga kurang mengetahui cara berbahasa Madura, serta 20% lainnya adalah imigran. Banyaknya imigran, khususnya orang Jawa, yang datang dan menetap di Bangkalan dan turut andil dalam perubahan bahasa di Bangkalan.[8]